Pagi sekali Fardan pergi kerumah Amel. Tentunya dengan membawa Zia. Dia sengaja tak ingin khawatir Amel dan mertuanya. Pasti mereka sangat cemas. Pikirnya. Tiba di depan rumah ternyata Riana dan Sanusi juga sudah bersiap untuk pergi kerumah Fardan. "Ibu, Bapak." Fardan turun dengan mengendong Zia. Fardan mengulurkan tangan untuk menyalami takzim mertuanya. Namun, ternyata baik Riana ataupun Sanusi tak mau menyambut uluran tangannya. Riana justru segera merebut Zia dari gendongan Fardan. "Ibumu keterlaluan! Membawa Zia tanpa izin!" cetus Riana. "Maaf, Bu. Kupastikan kejadian ini tak akan terulang lagi!" Fardan meyakinkan. Tak berapa lama, Amel keluar. Ia sudah sedikit sembuh tapi masih belum juga terlalu normal. Masih sering berhalu dan kadang masih suka histeris. "Loh, Bang Fardan!"

