Kamu Siapa?

1065 Words
Bulan berjalan dengan penuh semangat, bibirnya tak henti-hentinya mengucap kata syukur ketika mendengar calon suaminya sudah sadar dari komanya. Ponselnya berdering, membuat langkahnya dia perlambat. Tangannya merogoh tas untuk mengambil benda pipih itu, detik kemudian dia tersenyum lebar ketika tahu siapa yang tengah menghubunginya. "Iya?" tanyanya sopan. "Kenapa Ibu belum datang? Saya sudah menunggu hampir satu jam." Bulan menepuk jidatnya dengan pelan, akibat rasa antusiasnya, dia sampai lupa memberitahu muridnya jika hari ini tidak bisa mengajar. "Aduh, maafin Ibu, ya, Tasya. Tiba-tiba Ibu mendapat telepon dari rumah sakit. Ibu lupa kalau belum kasih tahu kamu, maafin Ibu, ya," mohon Bulan dengan wajah menyesal. Bulan mendengar helaan napas dari ujung sana, membuat dia merasa bersalah. "Jadi Ibu tidak bisa ngajar?" tanya remaja itu memastikan. "Iya, bisa diganti besok?" tawar Bulan. "Gimana, ya? Besok saya lagi ada acara keluarga, kakak saya baru aja datang dari luar kota." Bulan terdiam beberapa saat, berpikir keras kira-kira keputusan apa yang akan dia ambil. "Gimana kalau Minggu depan langsung dobel? Kamu mau?" "Terserah Ibu aja deh, saya ikut kata Ibu aja, daripada nanti saya kena omel sama mama." Bulan bernapas lega ketika mendengar jawaban dari muridnya itu. Baru saja dia ingin membuka mulut, tiba-tiba saja ada yang menubruknya dari arah belakang. Alhasil membuat dirinya terjatuh. Panggilan itu pun langsung terputus. "Aduh! Kalau jalan lihat-lihat dong, kamu nggak lihat ada manusia segede ini?!" pekik Bulan. Bulan tak mendengar suara apapun dari lawan bicaranya, membuat wanita itu refleks mendongak, mengernyit heran karena pria itu bergeming di tempat. "Kamu udah tahu habis nabrak orang, kenapa enggak minta maaf. Oke, nggak usah jauh-jauh dari minta maaf, setidaknya ditolong, gitu," gerutu Bulan. Pria itu sama sekali tak menyahut ucapan Bulan, yang ada terus menatap Bulan dengan tatapan tajamnya. Bulan berdecak kesal karena melihat lelaki itu terus terdiam, mau tak mau dia berusaha bangkit sendiri. Setelah sudah berdiri dengan sempurna, Bulan kembali menatap pria itu dengan geram. Tanpa berkata-kata, Bulan pergi dari hadapan pria itu dengan langkah yang begitu lebar. "Hei, tunggu!" Bulan menghiraukan teriakan pria itu, dia terus mengayunkan langkahnya agar cepat sampai di rumah sakit tempat calon suaminya berada. "Tunggu dulu!" Bulan menggeram kesal. Dengan malas dia menghentikan langkahnya, lalu membalikkan tubuhnya untuk menghadap pria itu. "Apa?! Mau minta maaf? Halah basi, udah telat," sarkas Bulan. Pria itu tampak salah tingkah, menggaruk kepalanya sambil menyengir lebar, hal itu membuat Bulan mengerutkan kening. 'Lah, nih bocah kenapa cengar-cengir nggak jelas gitu, masa iya dia terpesona sama aku,' batin Bulan. "Itu ... apa ya, mau kasih tahu kalau--" "Maaf, saya sedang buru-buru," sela Bulan, wanita itu melirik jam yang ada di tangannya. "Permisi," pamitnya. Ketika Bulan ingin membalikkan tubuhnya, tangannya lebih dulu dicekal. "Ada apa lagi? Kamu mau minta maaf? Oke, sudah saya maafin. Bisa dilepas, kan, tangan saya?" "Bukan begitu." Bulan kembali mengernyitkan dahi karena mendengar decakan halus dari pria itu. 'Ini anak sebenarnya kenapa, sih. Mau ngajak kenalan kok kayaknya ribet banget.' Lagi-lagi wanita itu membatin. "Kamu mau ngajakin saya kenalan?" tanya Bulan to the poin. Bulan melihat wajah terkejut dari pria itu. Mungkin karena tebakannya benar. "Bukan. Kancing kemejanya terbuka, Mbak. Dari tadi saya mau kasih tahu itu, tapi malah saya sendiri yang malu," jawab pria itu kikuk. Mata Bulan melotot, dia pun mengikuti arah pandang lelaki itu, dan sialnya ternyata benar. *** Dengan berjalan mondar-mandir tetap saja tidak membuat hati wanita berambut sebahu itu tak tenang. Pikirannya masih mengarah tentang tadi, tentang bagaimana pria itu menegurnya karena kancing kemejanya terbuka, tentang dengan percaya dirinya dia mengira jika pria itu akan mengajaknya untuk berkenalan. "Bodoh banget. Gara-gara dengar Mas Daren udah sadar, saking semangatnya bikin aku ceroboh. Kancing aja sampai lupa dibenerin. Untungnya cuma satu, lah kalau semua, kan, bahaya," rutuk wanita itu. Mata Bulan mengedar, saat ini dirinya tengah berada di koridor rumah sakit, beberapa kali dia sudah mengintip pintu ruangan calon suaminya, tapi sepertinya dokter masih memeriksa kondisi Daren. Sambil menunggu Dokter keluar, Bulan duduk di kursi itu sambil memainkan ponselnya. Niatnya untuk melupakan kejadian tadi, sayangnya bukannya dia lupa, yang ada malah pikirannya terus menuju ke arah sana. "Loh, Mbak Bulan kenapa tidak masuk?" Bulan terkesiap, matanya langsung tertuju pada dokter yang bername tag Riska tersebut. Sial! Pikiran Bulan sedang tidak fokus. Sampai-sampai dokter menghampirinya saja dia tidak tahu. "Halo, Dok," sapa Bulan kikuk. "Kenapa tidak masuk, semua anggota keluarga Daren udah ada di dalam, kenapa kamu malah menunggu di luar?" tanya Riska heran. Bulan tertegun mendengarnya, senyuman ramahnya seketika menghilang. "Semua?" tanya Bulan memastikan. Dokter Riska mengangguk. "Iya, makanya tadi saya heran, kok, kamu sendiri yang tidak ada. Memangnya mereka tidak ada kasih tahu kamu?" Bulan menggeleng sambil tersenyum kecut. "Saya juga dikasih tahu sama pihak rumah sakit, mereka sama sekali tidak memberitahu saya, Dok. Mungkin mereka lupa kali, ya," ucap Bulan yang masih berpikir positif. "Ya sudah, kamu masuk saja. Pasti Daren sangat menunggu kehadiran kamu. Akhirnya selama ini penantian kamu tidak sia-sia, Bulan. Setiap hari kamu datang menjenguk dia, merawat dia, sampai dia sudah pulih. Semoga pernikahan kalian dilancarkan, ya." "Amin." "Semangat!" Bulan membiarkan dokter Riska pergi, setelah dokter itu hilang dari pandangannya, Bulan pun mendekati pintu ruangan Daren. Dia menghela napas panjang, entah mengapa jantungnya tiba-tiba saja berdetak kencang. Setelah dirasa yakin, Bulan pun memutuskan untuk membuka pintu itu. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu tampak menatapnya dengan tajam, membuat Bulan tersenyum kikuk. "Halo semuanya," sapanya gugup. Tidak ada yang menyahut, Bulan tak ambil pusing, matanya mengedar ke arah Daren, lagi-lagi senyumnya hilang ketika melihat tatapan Daren yang tak seperti biasa. Tak ada lagi tatapan hangat, senyuman lebar dari bibir pria itu, yang ada Daren malah menatapnya dengan aura permusuhan, yang lebih mencengangkannya lagi, saat ini Daren tengah memegang tangan Stella, sahabatnya sendiri. Jelas saja membuat hati Bulan sakit, akan tetapi dia masih bisa berpikir positif. Dengan penuh percaya diri Bulan mendekati ranjang pasien itu, semakin dekat langkahnya terasa berat. Bulan juga tak tahu kenapa bisa seperti itu, dengan langkah yang sedikit dia paksa, akhirnya saat ini dia sudah berdiri tepat di depan Daren. "Halo, calon suami. Akhirnya kamu sudah siuman, kamu nggak kangen sama aku?" tanya Bulan seraya tersenyum lebar. Lagi-lagi Bulan termangu karena tak mendapat respon dari Daren. Bulan menatap mereka semua secara bergantian, meminta penjelasan kenapa Daren bisa seperti itu. Namun, tidak ada satu pun yang mau menatapnya. "Kamu siapa?" Mata Bulan mengerjap beberapa kali, tak percaya jika Daren bertanya seperti itu, ditambah lagi suara pria itu terdengar dingin. 'Ada apa ini?'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD