Hari Pertunjukan

3795 Words
Mereka berlatih individual, Runa berlatih sendiri untuk menstabilkan kecepatan di dalam air. Gandi diam-diam selalu memperhatikan Runa , tiba-tiba kaki Runa kram dan tenggelam tidak bisa naik ke permukaan.  "Lagi-lagi begini, siapa yang akan menolongku kali ini? Apakah aku akan di biarkan tenggelam?Apakah aku akan bertemu dengan ibu?" ucap hati Runa pasrah dan kehilangan kesadaran.  Gandi melihat Runa tenggelam teringat dengan Lisa adiknya yang meninggal karena tenggelam juga, trauma Gandi kambuh, dia tidak mampu menyelam ke air untuk menolong.  Dia naik ke atas dan mengatur nafasnya perlahan, "Maafkan aku Runa." gumamnya dalam hati. Tari sedang pergi keluar untuk membeli minuman, Larbi mendengar suara hati Runa. "Dasar gadis bodoh!Kamu tetap harus hidup, jangan menyusahkan orang lain!" Larbi berkata dengan suara hatinya, Larbi menarik tubuhnya ke pinggir kolam. Dia tetap memiliki naluri untuk menolong orang lain, "Bangunlah! Jangan membuat semua orang khawatir?" perintah Larbi dengan suara hati. Larbi menekan bagian dadanya untuk melakukan pertolongan pertama,  "Apa harus aku melakukan hal ini?" Larbi mendekatkan bibirnya ke Runa untuk memberinya nafas buatan, sebelum Larbi berhasil, Runa membuka mata. Larbi terpaku sejenak, dengan posisi wajah yang terlalu dekat. Runa memuntahkan air dari mulutnya lalu mendorong Larbi untuk menjauh.  "Jangan berfikiran macam-macam, aku belum melakukannya! Kamu tidak boleh mati konyol di kolam renang ini, jika kamu menjadi hantu, itu akan sangat mengganggu." Larbi menjauh dari Runa dan pergi ke kamar mandi karena latihan hari ini sudah selesai. "Aku tahu, dia hanya akan menolongku! Kenapa dia gugup?Aku juga tidak memikirkan apapun, dia aneh!" Runa sedikit bingung. Larbi membilas tubuhnya, jantungnya berdegup kencang.  "Ada apa dengan jantungku? Kenapa berdebar cukup hebat," gumam Larbi teringat tatapan mata Runa tadi.  "Jangan pikirkan hal itu lagi!" pikir Larbi mengusap rambutnya dan wajahnya lalu segera berganti pakaian. *** "Apa kamu baik-baik saja?" Gandi baru bisa menolong saat Runa sadar. Runa hanya mengangguk, dengan spontan dia melihat jam, "Tidak, aku bisa terlambat bekerja!" gerutu Runa dalam hati yang  tiba-tiba berlari ke ruang ganti dan meninggalkan Gandi. "Dia seperti terburu-buru," gumam Gandi tidak menggubris dan  pergi membilas tubuhnya juga. Runa secepatnya berlari menuju ke tempat kerjanya karena hari ini harus bertugas. Untung saja sampai di lokasi tepat waktu, Pak Ras menemui Runa di ruang ganti, "Runa, bisakah malam ini lembur? Gajimu dua kali lipat dari biasanya, hari ini akan ada pertunjukkan drama di dalam air, ini scenarionnya, kamu tidak perlu bicara karena di dalam air hanya berupa tarian tapi bergerak dengan lawan main. Kamu akan bertemu dengan pria senior, dia ganteng dan sangat mahir." Pak Ras menyerahkan Scenarionya. Runa menerima dan membaca sejenak, dia menemukan adegan ciuman di dalam air. Runa mencolek Pak Ras dan menunjukkan adegan itu. "Iya, kamu harus melakukannya! Aku yakin, kamu tidak akan menyesal melakukannya! Banyak gadis yang ingin berciuman dengannya. Ini topeng, kamu bisa pakai saat pertunjukkan, sekarang tampil dulu di Aquarium biasa!" Pak Ras memberikan topeng lalu pergi. "Apa? Aku harus berciuman? Apakah ini nggak salah? Siapa lawan mainku? Tenang, ini hanya peran, ini sebuah peran!" Runa menenangkan dirinya sendiri dalam hati. Runa menari dengan sengat baik di aquarium biasa, banyak penonton yang sangat puas menonton pertunjukkannya. Kali ini dia berbaik dengan paus biru jinak, membuat banyak anak kecil tertawa bahagia. Waktu menunjukkan pukul tujuh, Runa sedikit gelisah karena drama ini tanpa latihan sama sekali, Aquarium kali ini sangat besar dan berada dibalik tirai, ketika beberapa pemain menggunakan kostum, Runa berpakaian seorang putri bawah Laut yang menjadi pemeran utama, berarti dia akan berciuman dengan pangeran bawah laut. Musik berbunyi dan para pemain pembantu sudah menceburkan diri untuk memainkan perannya. Diatas tinggalah Runa dan Pangeran bawah laut yang berhadapan dan berseberangan. Pangeran itu turun ke air untuk memainkan perannya, mereka tidak saling mengenal. Runa akhirnya turun kebawah untuk memerankan bagiannya, berekspresi seolah mencintai itu tidak mudah tapi mereka berdua memerankan dengan baik. Sampai saat yang ditunggu adalah berciuman, Runa tidak peduli siapa pria dihadapannya, mereka saling menyentuh dan melumat bibir itu. Mereka berdua tersadar sesuatu. "Bibir ini seperti tidak asing, Aku pernah menyentuhnya," Kata Runa  dan Larbi dalam hati .  Mata mereka terbuka,  "Larbi?" Runa berteriak dengan terkejut dalam hati, Runa akan menarik ciumannya tapi drama masih berlangsung dan belum saatnya di lepas,  "Dia si gadis bisu?" dalam hati Larbi juga terkejut.  Larbi tahu, Runa akan melepas ciuman itu. Larbi tidak ingin mengacaukan drama, mereka sedikit bertengkar tangan di dalam air, sampai akhirnya Larbi memeluknya dengan erat, membuat Runa tidak bisa berkutik. "Kita sedang berperan, jangan mengecewakan penonton, dalami peran sesuai scenario, hanya tinggal beberapa detik tirai akan tertutup dan drama ini selesai," Larbi memberi peringatan dalam hati.  Runa tidak menjawab apapun, sentuhan lembut di bibirnya itu kini mulai menguasainya, mata mereka tertutup dan berciuman dengan sangat lama. Hingga akhirnya tirai tertutup.  Mereka saling melepas dan naik ke atas dengan arah yang berlawanan. Mereka mendapatkan bantuan oksigen karena nafas sedikit tersendat. "Kenapa lagi-lagi gadis itu?" Pikir Larbi masih menghirup oksigen.  "Kenapa lagi-lagi pria itu? Apa dia kekurangan uang?" gumam Runa dalam hati. "Ini tidak masuk akal, " Runa naik keatas. "Tunggu!" Larbi tiba-tiba memanggil. Runa berbalik dan melihat Larbi naik, mereka saling menatap dalam jarak yang cukup jauh. "Jangan beritahukan siapapun, jika aku bekerja disini!" Larbi sedikit memohon dengan suara hati. "Apa kamu sedang memohon? Apa aku tidak salah dengar?Apa kamu kekurangan uang sehingga harus bekerja disini?" Runa tertawa menyindir dengan suara hatinya.  "Ini bukan soal uang tapi soal mimpi, orang tuaku tidak menyukai pekerjaan ini, aku tidak ingin trauma mereka kambuh," Suara itu terdengar tulus terucap dari mulut Larbi,  Runa berfikir sejenak dan berbalik,  "Baiklah,Terimakasih sudah menolongku tadi di kampus." Runa pergi meninggalkan Larbi ke ruang ganti. Mereka sama-sama berada di dalam ruang ganti dan sama-sama membilas tubuh mereka, yang terbayang saat ini adalah ciuman itu, mereka berdua berulang kali menyentuh bibir mereka masing-masing dan terbayang saat pertunjukkan. Mereka berdua tidak bisa melupakannya. Mereka selesai berganti pakaian, Runa di temui oleh Pak Ras. "Kamu memang gadis emasku, penonton sangat menyukai pertunjukkan tadi, ini dua kali lipat gaji dengan bonusnya. Penonton puas." Pak Ras memberikan amplopnya ke Runa. Runa membuka isinya dan mencium tangan pak Ras seraya mengucapkan terimakasih. "Baiklah, sama-sama Runa, kamu boleh pulang!" jawab pak Ras. Runa mengambil tasnya, menghitung uang dalam amplop, "Terimakasih Tuhan, aku mendapatkan 5 juta, aku bisa membelikan handphone untuk nenek." gumam Runa dalam hati, Runa memasukkan uang itu ke dalam tas dan pergi dari lokasi pekerjaan menuju toko handphone terdekat. Runa memilih handphone yang terjangkau dan sesuai dengan uang yang dia miliki, dia tidak bisa menggunakan semua uangnya untuk membeli handphone, karena uang itu untuk biaya hidup selama dia kuliah. Runa membeli handphone seharga 1,5 juta. Lalu dia pulang ke apartement. Melihat sepertinya Mary belum pulang ke rumah, Runa menuju ke kamarnya, untuk mengambil surat yang dia siapkan, lalu membungkus bersama handphone itu yang di masukkan ke dalam sebuah kardus. Baru setelah itu meletakkan paket ke sebuah kotak pos di depan apartement.  "Aku berharap nenek suka hadiahku." ucap Runa dalam hati. Runa kembali masuk ke dalam rumah dan membersihkan ruangan serta memasak, setelah dirinya kenyang makan. Runa menyiapkan satu piring untuk Mery dan meninggalkannya di meja makan.  "Aku lelah sekali, sepertinya aku harus beristirahat!" keluh Runa dalam hati, Runa kembali ke kamar dan merebahkan tubuhnya yang teramat lelah hari ini. Tiba-tiba dia terbayang wajah Larbi saat menciumnya tadi. "Bodoh, bodoh! Kenapa aku tidak menghindar saja? malah menutup mata," Pikir Runa mulai kesal sendiri, Runa menutup matanya dengan bantal kemudian tertidur. Larbi sudah tertidur satu jam yang lalu, tapi selalu berguling kesana kemari karena benar-benar tidak tenang.  "Aku membenci gadis itu, kenapa ciuman itu terjadi lagi? Kenapa harus dia? Aku ingin tidur, tolonglah! Jangan muncul lagi!" Larbi menggerutu dalam pikirannya, menarik selimutnya untuk mencoba tertidur. Keesokan harinya, Runa keluar dari kamar dengan mata yang menghitam karena tidur tidak maksimal, Mery terkejut melihat Runa yang sudah mandi itu berjalan seperti seorang zomby. "Ada apa dengan mata dan wajahmu Runa?"tanya Mary memakan sarapannya. Runa menggerakkan tangannya, "Aku baik-baik saja kak Mary, hanya saja, kemarin aku terlalu lelah. Aku jadi sulit tidur," gumam Runa dalam hati "Minumlah ini! Vitamin andalanku, semalam aku juga terlalu lelah, Terimakasih makanan di meja itu, kamu sangat tahu kalau aku kelaparan." Mary menghabiskan makanannya. Runa meminum vitamin dan bergegas berangkat kuliah. "Kamu tidak sarapan?" Tanya Mary  Runa menggelengkan kepala dan berlari keluar apartement. "Dia lagi semangat masuk kuliah? Aku saja selalu ingin libur, aku jadi ingat pertama kali masuk kuliah," Mery menyelesaikan makanan dan mencuci piring. Larbi sudah sampai kampus dan bertemu di ruangan khusus tempat Larbi, Leon dan Adi nongkrong. Mereka berdua kaget, melihat Larbi matanya menghitam. "Bi, ada apa dengan matamu? Kamu berkelahi?" Adi penasaran melihat matanya menghitam. "Jangan-jangan kamu di pukul gadis itu?" Leon mulai menebak-nebak. "Berisik! Aku hanya sulit tidur, aku sedang membaca, jangan ribut!" Larbi mencoba mengalihkan bayangan yang tidak mau hilang dari pikirannya sampai pagi hari ini. Tiba-tiba Larbi berdiri, mengajak Leon dan Adi untuk ke Kantin. "Apa aku tidak salah dengar, kamu mengajak kita berdua ke kantin pagi-pagi? Kamu aneh hari ini?" Leon mulai berkomentar. "Aku lapar, ayo ke kantin!" Larbi berjalan meninggalkan mereka berdua. "Aku merasa aneh dengan Larbi hari ini, dia kan paling anti ke kantin pagi-pagi,"Leon sedikit bengong. "Sudah jangan banyak bengong, kita ikuti saja dia!" Adi merangkul Leon dan mengikuti Larbi untuk ke kantin. *** Runa sampai di kampus dan tidak sengaja menabrak Gandi. "Runa? Ada apa dengan matamu pagi ini? Kaku begadang?" tanya Gandi penasaran. Runa menggerakkan tangan, "Aku hanya kurang tidur, aku lapar kak. Maaf menabrakmu." kata Runa dalam hati. Gandi tersenyum, melihat Runa lemas berjalan ke kantin.  "Ayo, aku temani kamu ke kantin! Kamu memang terlihat kelaparan."   Runa ke tempat pemesanan makanan, dia menoleh ke kanan dan melihat Larbi disana, mereka saling membuang muka. Jantung mereka saling berdegup dan kembali kebayangan saat mereka berciuman kemarin.  Leon, Adi dan Gandi melihat wajah mereka berdua memerah tiba-tiba bingung. "Apa yang terjadi dengan mereka berdua?" pikir mereka. Mereka berjalan membawa makanan mereka dan meletakkan di meja mereka masing-masing yang jaraknya sangat jauh. Leon masih melihat wajah Larbi yang memerah,  "Bi, apa kamu sakit? Wajahmu merah sekali,"  "Aku sedikit alergi sekarang dengan gadis itu, jadi lebih baik aku menjauh darinya!" Larbi menjelaskan sambil menyantap makanannya. Gandi menatap wajah Runa, kali ini dia sedikit curiga. "Apa kamu jatuh cinta dengan Larbi? Wajahmu merah sekali?" Spontan Gandi bertanya. "Uhhukkk" Runa terkejut hingga tersedak makanannya sendiri. "Ah, maaf Runa, ini minum dulu!" Gandi memberikan gelas berisi air putih. Runa menggerakkan tangan,  "Mana mungkin aku bisa jatuh cinta dengan pria mulut pedas seperti dia, Ya Tuhan, pertanyaanmu itu, membuatku ingin muntah kak Gandi." gerutu Runa mencoba mengelak. Runa melanjutkan makannya. Gandi tetap masih curiga dengan Runa, "Lisa dulu, sebelum menyukai seorang pria, dia selalu membencinya seperti ini." pikir Gandi. Leon memperhatikan Runa dari kejauhan, dia sendiri jadi ikut penasaran, "Apa istimewanya gadis itu ya? Aneh! Sangat aneh, Larbi bisa tahkluk dengan gadis bisu itu." Leon berbicara dalam hati. Larbi dan Runa selesai makan, sekarang keduanya kembali terlihat acuh satu sama lain meninggalkan kantin tapi arah mereka malah bertemu lalu saling berpapasan dan ... TERSANGKUT. Mereka berdua berhenti karena gantungan kunci Runa dan tas Larbi nyangkut, membuat mereka tidak bisa bergerak.  "Astaga, apa lagi kali ini? Runa melihat ke arah tasnya, Lihat! Kamu selalu membawa sial buatku, Gadis bisu!" Larbi terlihat sangar menatap Runa masih dengan suara hati. Adi, Leon dan Gandi sekarang melihat pemandangan yang lucu karena mereka saling membantu melepaskan gantungan kunci itu. "Di, Lihat! Mereka bekerja sama, Larbi semakin aneh saja," komentar Leon "Aku terkejut," Adi terlihat bengong melihat pemandangan itu. Gandi tidak berkomentar hanya saja, dia menahan tawa dan sedikit tersenyum. "Ehhemm" tiba-tiba Gandi berdehem. Runa dan Larbi terkejut dan gantungan kunci itu tiba-tiba lepas. Larbi memandang Runa sebentar, lalu pergi begitu saja. "Aku masih memegang kartu Asmu, jangan lupa untuk membelikanku makan siang, kak Larbi." Ucap Runa dalam hati. "Aku tidak lupa," Larbi menjawab dengan suara hati, tidak berbalik dan terus berjalan. "Kenapa aku selalu kesal melihatnya!" gerutu Runa berbalik dan menemui Gandi. "Kak, bisa ajarkan aku komputer lagi! Aku harus mengerjakan tugas sebelum masuk kelas," Runa menyelesaikan gerakannya. "Tentu, ayo!"  Gandi dan Runa terlihat sangat akrap, mereka berdua pergi ke perpustakaan lagi untuk belajar menggunakan komputer. Setelah belajar dengan Gandi dan selesai mengerjakan tugas Runa masuk kelas. *** Siang itu kelas Runa selesai, masa ospek tinggal sehari, besok Runa sudah masuk kuliah sesuai jurusan. Kali ini Runa mengambil mata kuliah management, agar suatu hari bisa bekerja di kantor, Runa keluar ruangan dengan begitu mengantuk, hari sudah siang, Loyola dan Gengnya tiba-tiba menghadang di depan Runa, tanpa basa-basi Runa menghindar membuat mereka geram dan bengong. "Dia ... Mengabaikan kita?" Loyola terlihat geram. Tiba-tiba Loyola bersama dua orang lainnya menggeret Runa ke sebuah lorong sepi yang tidak ada CCTV, mereka bertiga mengguyur Runa dengan air lalu membubuhi tepung. Runa sangat terkejut,"Apa-apan mereka ini? Runa memeriksa handphone didalam tasnya," gumam Runa melihat masih dalam keadaan aman. "Ini baru permulaan, jangan sok jadi gadis idola, gadis bisu! Kamu sudah merebut pangeran Larbi, setelah itu kamu mendekati Pangeran Gandi, mereka itu Para Pria keren di kampus. Awas saja merebut mereka berdua dari kami!" Loyola mencengkeram dagu Runa dengan sangat kencang. Runa hanya diam "Astaga! Percuma meladeni mereka, aku juga tidak bisa berbicara, aku pakai bahasa isyarat mereka juga tidak akan pernah mengerti," pikir Runa mengabaikan mereka.  Runa membersihkan sedikit tepung dan pergi begitu saja, mereka masih terlihat geram. Menarik tas Runa membuat Runa terpelanting ke Lantai, paha sebelah kanan terasa sakit. Runa memandang mereka dengan mata yang ganas, "Mereka sangat keterlaluan!" ungkapnya dalam hati. Runa membalas mereka dengan cara yang sama, menarik tas mereka dan membuat mereka merasakan apa yang Runa rasakan. "Kamu berani melempar kami? Lihat saja! Akan aku pastikan kamu dapat sanksi karena perbuatanmu!"  " Kalian yang akan mendapatkan sangsi tentang perbuatan kalian kali ini," kemaraahn Runa dalam hatinya, Runa pergi dan melapor ke bagian kemahasiswaan. Baju Runa basah kuyup dan penuh tepung, kakinya tertatih-tatih karena terasa sakit.  "Pergilah ke klinik kampus, dan bergantilah disana! Obati lukamu juga!kamu tidak boleh terluka karena kamu perwakilan kampus untuk ke Jerman. Aku akan mengurus mereka yang membuatmu seperti ini," kata Dosen itu. Runa keluar dari ruang kemahasiswaan, bertemu Mary yang sedang lewat. "Runa? Ada apa denganmu? Siapa yang membuatmu seperti ini?" Mery terlihat sangat terkejut. Runa menggerakkan tangannya,  "Aku tidak apa-apa kak, setelah di beri obat juga akan sembuh. Sekarang aku harus ke klinik."  "Aku akan mengantarmu kesana!" Mery memapah Runa sampai ke klinik. Sesampainya disana, Runa berganti pakaian olahraga yang disediakan pihak klinik lalu berbaring di ranjang klinik. Dokter wanita bernama Selvi itu memeriksa perlahan dan memberi obat untuk nyeri dan lebam. "Tidak ada yang serius, kamu hanya perlu memberikan obat oles ini, untuk mengurangi rasa sakit." keterangan dari Dokter Selvi. Runa menggerakkan tangannya,  "Apa aku masih tetap bisa berenang? "tanya Runa  dalam hati. Dokter itu menjawab, "Tidak apa-apa, ini tidak berpengaruh dengan ototmu hanya luka memar yang ringan. Dua sampai tiga hari. lukamu akan sembuh."  Runa tersenyum dan menggenggam tangan dokter itu, "Terimakasih" ungkap Runa dengan bahasa isyarat  Hari itu Runa langsung pergi ke kelas berenang, Mery masuk kelas karena ada jadwal kuliah. Hari itu kolam renang masih sepi, Runa melakukan pemanasan sembari melatih kakinya yang memar untuk terbiasa saat berenang, "Ternyata obat oles dari dokter itu sangat manjur, sudah tidak begitu nyeri ketika di gerakkan," batin Runa masih melakukan peregangan. Kolam renang di Kelas berenang ada dua jenis yang satu kedalamannya sampai tujuh meter, tujuannya untuk berlatih loncat indah. Biasanya hanya orang yang ahli yang bisa melakukannya dikampus ini, kemampuan Runa yang berhubungan dengan laut dan air selalu di luar ekpektasi, dia adalah gadis laut yang dapat dengan mudah menahklukkan ganasnya air.   Di dalam loncat indah ada ketinggian dengan empat tingkatan, Runa mencoba dari tingkatan ke dua karena dia pernah loncat dari tebing curam langsung ke laut dan dia berhasil selamat dengan loncatan yang begitu indah, saat bersiap tampak Larbi akan masuk ke kelas berenang dan menghentikan langkahnya. "Gadis itu? Dia mencoba loncat indah, apa dia tidak takut celaka jika masih dalam tahap pemula?" dalam hati, Larbi menggelengkan kepala. Runa bersiap, gerakan terbang menggulung di udara lalu terjun kebawah dengan sempurna. Membuat Larbi bengong seketika,"Dia? Gadis itu?Tidak mungkin! Dia mahir juga dalam hal ini," batin Larbi yang cukup heran. Setelah Runa berenang menepi, dia memegang kaki kanannya lalu mengolesnya lagi dengan obat oles. "Jika loncat indah aku tidak apa-apa, berarti aku masih bisa berenang dengan sempurna. Aku sangat merindukan laut!" Suara hati Rina yang begitu optimis. Larbi masuk ke kelas berenang, berpura-pura tidak melihat apapun.  "Aku belum pernah menang darimu, score terakhir kita seri, bagaimana jika kita bertanding?" Larbi melepas pakaiannya begitu saja di hadapan Runa, walaupun dia sudah memakai celana rencananya, Runa tetap berbalik. "Apa kamu menantangku?" Suara hati Runa berjalan ke arah kolam renang yang satunya.  "Mungkin, kamu bisa menganggapnya begitu!" jawab Larbi sambil melakukan pemanasan.  "Baiklah, ayo kita lakukan!"  Mereka bersiap di tempat masing-masing, menggunakan kaca mata renangnya, lalu menceburkan diri mereka ke air dan mulai! Mereka adalah Rival yang sepadan, kecepatan mereka tidak tertandingi oleh mahasiswa lain, baru setengah perjalanan Mr Key masuk ke ruangan dan melihat mereka bertanding. "Aku suka dengan semangat kalian, aku akan melihat siapa yang akan menang kali ini?" Runa tampak berhati-hati melaju tidak secepat sebelumnya, Larbi berenang kilat seperti petir. Pada akhirnya score menunjukkan ... "Kali ini Larbi menang, ada apa dengan kakimu Runa?" tanya Mr Key melihat Runa memberikan obat oles lagi setelah naik ke atas. "Tadi pagi aku terpeleset, tapi aku sudah ke dokter klinik, dokter bilang, aku baik-baik saja. Dua sampai tiga hari lukaku akan sembuh." Jelas Runa memijat kaki kanannya. "Kenapa kamu tidak bilang jika kamu cedera?"Larbi melihat dengan tatapan sinis. "Emangnya ngaruh kalau aku bilang, kamu juga nggak bakal peduli kan?"suara hati Runa berekspresi sebal dengan Larbi.  "Aku menang dengan tidak adil jika begini, lain kali aku akan mengulang kembali!" Larbi pergi ke kamar mandi untuk ganti baju. "Baiklah, sepertinya kamu dan Larbi bisa langsung pulang! Biar nanti sore, Tari dan Gandi yang berlatih," mr Key meninggalkan kelas renang. Runa pergi ke kamar mandi juga untuk ganti baju. Beberapa menit kemudian mereka berdua keluar bersamaan, "Hei, kak Larbi. Mr Key bilang kita boleh pulang, nanti sore biar Kak Tari dan Kak Gandi yang berlatih."panggil Runa dengan suara hatinya lalu berjalan duluan.  Larbi menatap Runa pergi. "Kamu bisa sopan memanggilku?" Larbi mengikuti Runa dari belakang. "Alasannya karena kamu lebih tua, nggak mungkin kan aku panggil dik Larbi." jawab suara hati Runa geram. Larbi tersenyum sedikit kecut, "Mulutmu sama pedasnya denganku. Aku hanya heran, ada seorang gadis yang bertahan karena kekejamanku?"gumam Larbi berjalan duluan meninggalkan Runa.  "Siapa yang bertahan? dia terlalu percaya diri, Jangan lupa membelikan aku makan siang!" Runa berteriak dalam hatinya.  "Pelankan suaramu! Hanya aku yang bisa mendengar, jangan membuat gendang telingaku pecah karena ulahmu!" gertak Larbi dalam hati, berjalan ke kantin dan Runa mengikutinya dari jarak yang cukup jauh. Sesampainya di kantin banyak gadis yang memandang Larbi dengan tatapan kagum dan sangat menyukainya. Runa duduk di kursi paling ujung, menunggu Larbi mengantar makanannya. Larbi selesai memesan makanan dan membawa satu nampan penuh, kursi dikantin penuh dengan gadis-gadis penggemarnya dan dia sangat tidak suka. Larbi berjalan di antara gadis-gadis itu menuju meja Runa.  "Kamu akan tahu rasanya di cemburui banyak orang, sejak saat itu kamu akan memintaku untuk tidak mendekatimu karena aku membuatmu sial! Penderitaan selesai." Gumam Larbi sambil meletakkan nampannya di meja Runa. Runa sedikit terkejut, ketika Larbi tiba-tiba duduk di hadapanya. "Apa yang kamu lakukan disini?" tanya suara hati Runa. Larbi tetap diam dan menurunkan makan siang untuk Runa.  "Hei, bicaralah!Mereka melihatku, seraya ingin menerkamku. Bisakah kamu berbaik hati untuk pindah! " Larbi memandang wajah Runa begitu intens sekarang. "Ada syaratnya! Kamu harus berhenti memerintahku untuk melayanimu, bagaimana?" Larbi mulai bernegosiasi dengan suara hati Runa. Runa kembali menatap mata Larbi dengan sinis, " Ya, ya, ya, Aku mengerti, kamu sudah merasa muak untuk melakukan konsekuensi itu kan? Baiklah, aku akan membongkar kartu Asmu di depan semua orang." Jawab Runa dalam hati sambil menyantap makanannya. "Aku baru ingat!Tapi bagaimana kamu bisa membongkar, sedangkan kamu bisu! Memangnya mereka percaya kepadamu?" Larbi meremehkan Runa dalam hati. Sebelum Runa menjawab, tiba-tiba Gandi dan Leon datang. Mereka melihat Runa dan Larbi makan bersama langsung bengong. "Bi, kamu nggak salah minum obat?" Leon masih bingung karena itu di luar kebiasaan. Larbi ketangkap basah dan tidak bisa berkutik, Larbi mengalihkan pembicaraan. "Dimana Adi?"  "Jangan mengalihkan pembicaraan!" Kata Leon duduk disampingnya. Gandi langsung duduk di sebelah Runa. "Jika aku bilang pada kak Gandi, pasti gadis-gadis itu akan percaya." Larbi terlihat panik, karena Gandi mengerti bahasa isyarat. "Baiklah, baiklah. Aku pindah!" Kata Larbi dengan Sura hatinya. Larbi tiba-tiba berdiri mengangkat piringnya, tapi Leon menariknya untuk duduk kembali. "Mau kemana? Sudah ketangkap basah, kamu mau lari? Kamu suka kan dengan Runa?" Leon bicara dengan spontan. Runa, Larbi dan Gandi bengong,  Larbi akhirnya menjelaskan,  "Aku benci di kelilingi gadis-gadis, jika aku mendekatinya. Fokus mereka bukan kepadaku tapi kepadanya! makanya aku duduk disini untuk makan, aku tidak bisa tenang makan ketika semua orang memandangku," Larbi menjelaskan dengan alasan yang lumayan logis. "Makanya kamu harus punya pacar, biar para gadis itu tidak mengganggu!" Leon mencoba memberi saran. Gandi menatap Runa, Runa melirik ke Larbi.  Runa mulai menggerakkan tangannya, sebenarnya ingin mengajak Gandi pergi tapi Larbi salah paham, dia berdiri mendekati Runa untuk menghentikan gerakan tangannya, Larbi memeluknya dari belakang.  Leon dan Gandi tiba-tiba bengong, seisi kantin juga ikut terdiam melihat kejadian itu lalu memotret hal yang sangat langka ini. "Apa yang kamu lakukan kak Larbi? " tanya Runa dalam hati, menoleh keatas untuk menatap Larbi. Larbi membalas tatapan mata itu, "Aku sudah bilang, jangan bilang pada siapapun!" jelas Larbi dalam hatinya.  Runa menatap larbi dengan sinis, "Siapa yang mau bilang tentang hal itu? Aku hanya ingin mengajak kak Gandi pergi. Lepas nggak! " Larbi bingung, dia merasa malu dalam sekejap.  Leon dan Gandi terkejut menatap mereka berdua  "Apa kalian benar-benar berpacaran?" Leon bertanya dengan spontan. Larbi menjawab, "Iya," Runa terus menggelengkan kepala. Larbi spontan mengatakan hal itu, karena dia teringat perkataan Leon tadi. "Gan, tampar aku!" Leon ingin membuktikan hal ini nyata. "Beneran?" Gandi memastikan lagi perintah Leon. "Iya beneran," Leon menyiapkan pipinya. "PLAK!"  "Aww! Jangan sekeras itu juga. Ini nyata, oh my God!" Leon sedikit bersandar di kursi. Runa menggerutu, "Kamu bicara sembarangan, Kak Larbi. Penggemarmu akan segera membunuhku, setelah ini! Lepaskan aku!" Runa menggerakkan badannya untuk melepaskan pelukan Larbi.  Akhirnya, pelukan itu terlepas, Runa berdiri dan berbalik, mereka berdua saling menatap, Runa terlihat sangat geram.  "Tarik kata-katamu kalau kita berpacaran!" Tiba-tiba Larbi menarik pinggang Runa dan memeluknya lagi. Larbi menatap mata Runa, Runa terkejut dengan yang di lakukan Larbi. Hal ini kembali terulang saat mereka akan berciuman di dalam Aquarium.  Leon dan Gandi masih bengong, "Larbi berubah total, dia bisa romantis dengan seorang gadis. Tapi, kenapa gadis bisu ini yang terpilih?" Gumam Leon masih tidak percaya dalam hatinya. "Aku akan tetap melayanimu, tapi berpura-puralah menjadi pacarku! Itu bisa menyingkirkan gadis-gadis itu untuk menyukaiku. Runa bengong sejenak, kamu gila? Mereka akan membunuhku di belakang, dan aku tidak akan hidup tenang karenamu, AkuTidak mau!" Runa membuang muka ke arah lain sambil bergumam dalam hati "Kamu tidak bisa menolak, hari ini kamu adalah pacarku! " Larbi memaksakan kehendaknya tanpa dia sadari. Semua gadis di kantin itu menyingkir dan pergi, setelah tahu Larbi dan Runa berpacaran.  "Lihat! Kamu menolongku, mereka pergi, tidak ada yang akan menyentuh pacar Larbi. Jadi, aku pastikan kamu aman." Larbi memberi tahu Runa dengan suara hatinya Runa sangat kesal, "kapan aku menjawab iya? Kapan aku jatuh cinta padamu? Ini benar-benar mimpi buruk! Aku tidak bisa menjelaskan apapun pada mereka bahkan aku tidak bisa membela diri. Lepaskan! Kamu benar-benar manusia tidak punya hati, lebih baik mulai detik ini, kamu berhenti melayaniku! Berpacaran bukan sebuah permainan!keadaan ini tidak menguntungkan aku, kamu malah membawaku ke dalam masalah, aku mungkin bisu tapi jangan pernah menggunakan kelemahanku untuk kepentinganmu! Kamu selalu bilang aku pembawa sial, sebenarnya kamulah yang membawa sial! Runa memaki Larbi dari dalam hatinya. Runa melepaskan pelukan Larbi dan pergi dalam keadaan menangis. Gandi mengejar Runa, Larbi terpaku sejenak ketika seorang gadis dengan berani memakinya bahkan mengatakan dirinya pembawa sial. "Selama ini tidak ada orang yang memarahiku, bahkan orang tuaku sekalipun tidak pernah memarahiku ketika aku salah, tapi gadis itu selalu berani berkata kejam padaku! Apa aku begitu keterlaluan sampai membuatnya menangis? Semua gadis di kampus menyukaiku, mungkin jika aku melakukan hal tadi, mereka akan dengan sangat terbuka menerimaku. Tapi, dia tidak. Dia menolak untuk berpacaran denganku, kenapa dadaku terasa sakit?" Larbi bergumam dalam hati dan baru sadar dalam hatinya terasa sakit
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD