XII

1524 Words

“Kalau Tuhan tidak menakdirkan, ia punya banyak jalan untuk memisahkan.” -             Bram menatap Senja dengan tatapan yang sulit di artikan. Bram melihat segala keriangan yang Senja pancarkan sebelumnya... hilang begitu saja. Tapi saat tiba tiba tubuh Senja bangkit dan mendekati Devano. Bram tak tau apa yang akan di lakukan Senja.             “Terima kasih sudah mau menerima tawaran interview dari kami, Tuan Devano Atala.” Senja berusaha sangat keras untuk tersenyum. Sangat sulit untuk memegang tangan Devano dengan senyum merekah, saat diri Senja terus membisikan untuk memeluk laki laki di hadapannya dan menangis sejadi jadinya.             Tuhan! Apa yang engkau rencanakan.             Devano akhirnya bernafas lega. Ia tak semenakutkan itu ternyata.             “Sama sama, saya h

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD