XIX

1250 Words

“ Kebahagiaan itu ada, jika kamu mau menjemputnya.” -             Tama menelfon Senja, dan perempuan itu sedang tidak di dalam kondisi untuk menolak panggilan Tama karena Ratih sedang ada di hadapannya langsung berhadapan dengannya. Menolak panggilan Tama hanya membuat perempuan itu semkin berpikir buruk.             Bertindak layaknya wanita dewasa Senjana. Dia tidak berhubungan dengan wanita itu... tenang... tenang...             “Halo Tama....” sapa Senja pertama kali, ada kelegaan saat Tama berhasil menghubungi Senja dan permepuan itu mengangkat panggilannya.             “Kenapa kamu sangat sulit di hubungi?”             Senja mengerucutkan bibirnya walaupun tak kentara, memangnya apa peduli Tama untuk mengetahui alasan di balik itu semua?             “Aku... sedang banyak peke

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD