“Kak, kenapa harus berangkat malam-malam begini? Apa tidak apa-apa?”
Seorang gadis kecil tampak memperhatikan setiap kegiatan yang dilakukan perempuan cantik di hadapannya. Kedua caramel-nya menatap khawatir, bergerak cepat mengikuti kemana arah kakak perempuannya itu bergerak.
Perempuan cantik itu menoleh, menatap adik semata wayangnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Adik yang sepuluh tahun lebih muda darinya, dan satu-satunya harta yang paling berharga dalam hidupnya semenjak kepergian ayah dan ibunya setahun yang lalu.
Ia mengulurkan sebelah tangannya, mengusap lembut surai madu milik adiknya itu. “Tidak akan terjadi apa-apa. Kau tahu sendiri ‘kan kalau kakakmu ini kuat?” Gadis kecil itu mengangguk polos, sepolos wajahnya yang tak memiliki noda sedikitpun. “Kalau begitu, jangan memikirkan apapun dan menunggu dengan tenang sebelum kakak pulang, ya?”
“Baik, kak.”
“Baiklah, sekarang masuk ke dalam kamarmu. Kakak sudah memanggil Alex untuk datang ke sini menemanimu. Jadi kau tidak akan sendiri.”
Kedua caramel itu berbinar senang. Sahabat karibnya akan datang menemaninya, mereka bisa bermain dengan puas semalaman. Bukankah itusuatu hal yang sangat menyenangkan?
“Benarkah?”
“Tentu saja, memangnya kakak pernah berbohong padamu?”
Gadis kecil itu menggeleng. “Tidak, kakak selalu jujur. Jadi Wendy sayang sama kak Olive.” Ia tersenyum lebar kemudian menubrukkan tubuhnya pada tubuh sang kakak yang lebih besar darinya.
“Sudah jangan lama-lama peluknya, kamu mau kakak terlambat kemudian dipecat?”
“Tidak mau, kakak tidak boleh dipecat. Ini adalah pekerjaan yang sangat kakak inginkan sejak dulu. Jadi Wendy tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”
“Astaga, sejak kapan adik kakak yang nakal bisa dewasa begini?” Olive mencubit hidung mungil gadis kecil yang entah sejak kapan sudah berada dalam gendongannya itu. “Baiklah, sekarang waktunya untuk berangkat.” Ia menurunkan Wendy dari gendongannya kemudian mengambil sebuah tas yang tergeletak di atas sofa.
“Jadilah anak baik dan jangan nakal. Awas kalau ada barang yang rusak. Alex sebentar lagi juga akan datang.” Ia berjalan menuju pintu, memutar kenop kemudian berbalik kembali menatap wajah adiknya yang seakan tidak bisa ia lihat lagi di kemudian hari.
Entah mengapa rasa khawatir tiba-tiba saja menyergap, perasaan tak tenang mulai menghantuinya. Apakah itu sebuah pertanda sesuatu yang buruk akan menimpanya? Dia menggeleng cepat. ‘Semua akan berjalan dengan lancar,' gumamnya dalam hati.
Setelah tubuhnya keluar sempurna, ia mulai berjalan menyusuri lorong sempit yang menghubungkan rumahnya dengan jalan besar di depan sana. Jalanan sepi tanpa penerangan sedikitpun itu membuat bulu kuduknya tiba-tiba merinding, padahal ia sudah terbiasa melewati jalan ini di malam-malam sebelumnya. Namun, hawa dingin yang berhembus pelan menyapu tengkuknya membuatnya kehilangan nyali.
Ia berbalik kembali menatap ke belakang, tepat pada rumahnya yang masih berjarak beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Ia tersenyum, keadaan rumahnya tampak damai dan aman-aman saja. Sebelum lampu teras yang tiba-tiba padam, menyala, kemudian padam lagi. Begitu seterusnya sampai sesuatu yang tajam tiba-tiba menembus kulit lehernya.
Ia berteriak sekuat tenaga, dapat ia rasakan tubuhnya perlahan-lahan mulai membiru dan mati rasa. Hingga akhirnya ia menghembuskan napas terakhirnya setelah menggumamkan sebuah nama. Nama sang adik yang tampak tersentak di dalam sana, yang kemudian berlari keluar dan menyaksikan tubuh kaku kakaknya yang tergeletak di halaman depan rumahnya.
Matanya menatap kosong, entah apa yang dipikirkan anak kecil tujuh tahun itu, yang pasti ia merasakan sakit yang luar biasa melihat panutannya setahun belakangan itu kini terbujur kaku.
“Kak Olive,” lirihnya.
Membuat sosok yang berdiri tepat di samping tubuh kakaknya menoleh menatapnya sambil menyeringai. “Well, hai, manis. Belum tidur?” Ia mulai melangkahkan kakinya mendekati anak kecil yang tak bergeming dari posisinya itu, kemudian berjongkok untuk menyetarakan tinggi mereka.
“Kau mau ice cream?”
Wendy mengangguk polos. Hanya itu yang bisa dilakukannya. Entah hipnotis apa yang dilakukan laki-laki dihadapannya sehingga ia menjadi anak yang patuh dan mulai mengikuti langkahnya menjauh dari tempat itu. Melupakan tubuh kaku kakaknya di depan rumah sendirian.
Tanpa mereka berdua sadari. Sepasang mata menjadi saksi dari kejadian yang baru saja terjadi. Sepasang almond bening yang sejak tadi menyaksikan semuanya di balik persembunyiannya.
*****