Part 10 Foto kenangan

2915 Words
Seorang ahli filsafat dan agama, Blaise Pascal pernah berkata bahwa ada satu ruang dalam hati manusia yang tidak ada satu pun yang bisa mengisinya, kecuali Tuhan. Itu salah satu alasan manusia bisa terus mencari cara untuk mengisi kekosongan itu. Setiap orang punya caranya sendiri. Entah melalui uang, penampilan, kekuasaan, seks dan lain sebagainya. Meskipun demikian, akan tetap merasa ada yang kosong. Selain dengan Tuhan, seseorang boleh mencari ketenangan dengan melakukan apa yang disenanginya. Seperti berbelanja, bercengkrama, berlibur keliling dunia, namun perasaan kosong itu akan tetap ada di sana. Ruang kosong yang ada itu hanya bisa kita kendalikan jika kita bersyukur. Selain itu banyak juga orang yang mencoba melakukannya dengan cinta dan ada juga yang cukup dengan kekaguman. Tidak berani melangkah lebih jauh karena takut dan tidak siap terluka. Mengobati luka mudah, namun tidak dengan duka. Itu yang Aina lakukan ketika pertama kali melihat Gibran di perpustakaan kota. Menunggui dirinya yang duduk tertidur bersandar di rak buku karena sebuah buku yang dibacanya hingga jatuh tertidur. Ketika membuka mata dan melihat laki-laki itu, satu hal yang dirasakan Aina, kagum. Mendengar suara penjual sayur keliling, Aina meletakkan lembaran-lembaran foto yang baru saja dicetaknya. Foto kenangan yang masih tersimpan dalam USB yang disembunyikannya dalam kotak harta karunnya. Ia ingin menghias kamarnya juga kamar Bizar dengan foto-foto kenangan keluarganya. Semua foto di rumah lama sudah terbakar. Tanpa menonaktifkan printernya, Aina beranjak untuk membeli beberapa sayuran. Setidaknya saat ia kembali nanti, foto-foto dalam file itu sudah selesai tercetak dan mengefisienkan waktunya. Bizar yang mendengar suara pintu dibuka, turut membuka matanya. Hari ini Minggu dan ia tidak berangkat ke sekolah. Dua hari lalu ia demam, kemarin pun ia tidak berangkat ke sekolah. Saat membuka pintu kamarnya, ia melihat bundanya keluar. Ia pun turut berlari menyusulnya. Tapi pintu sudah lebih dulu dikunci dan dari jendela ia melihat jika bundanya berbelanja sayuran dengan ibu-ibu lainnya. Merasa haus, Bizar beranjak ke dapur. Saat melintasi pintu kamar bundanya, ia melihat printer yang bekerja dan ada beberapa kertas yang jatuh otomatis di atas meja. Sementara di lantai ada banyak bingkai foto baru yang masih belum terbuka bungkusan plastiknya. Setelah meneguk satu gelas air, Bizar ke kamar bundanya. Penasaran dengan apa yang bundanya cetak. "Ayah?" Mata Bizar membelalak melihat foto Gibran yang memangku seorang anak kecil. Di foto itu juga ada bundanya, papa dan mamanya. Bizar sudah tahu wajah Ekadanta dan Nura dari potongan koran yang disimpan Aina di panti sehingga tidak terkejut melihat keduanya. Mengenalkan keduanya adalah papa dan mamanya yang sudah bahagia di surga. Tapi melihat Gibran di antara mereka tentu saja membuatnya terkejut. Gibran hanya orang asing yang tidak sengaja ditemuinya di sekolah. Seorang pria yang mau menjadi ayah pura-puranya demi sebuah lomba. "Anak bunda sudah bangun, masih pusing tidak kepalanya?" tanya Aina berlalu ke dapur untuk menyimpan belanjaannya. Bizar tidak menjawab melainkan sibuk memperhatikan foto lainnya. Meskipun dalam foto itu Gibran terlihat lebih muda, tapi ia tidak akan salah mengenalinya. Matanya kembali melihat Gibran di foto lain dan di foto itu ada bayi kecil di pangkuan bundanya. Bayi laki-laki yang sama seperti foto lainnya. Di foto lain Gibran mengenakan seragam polisi dan menggendong seorang bayi laki-laki yang makan biskuit. Sementara papa dan mamanya membakar ikan. Tidak ada Aina dalam foto itu. Foto lain yang dilihat Bizar adalah foto papa dan mamanya seperti orang sakit. Di samping tempat tidur ada dokter yang mengacungkan jempol dan suster yang mengacungkan dua jarinya. Sementara mamanya memeluk bayi. "Anak kecil yang imut itu Bizar. Bizar mau lihat foto-fotonya Bizar dari bayi? Bunda punya banyak. Mulai yang muka nangis, ketawa, lagi tidur, lagi pakai popok, sampai muka jelek juga ada." "Bunda, ini siapa?" tanya Bizar menunjuk foto Gibran. Bukan hanya disatu foto, melainkan tiga foto yang dilihatnya. "Itu temannya papa sama mamanya Bizar." Aina kembali mengambil kertas foto yang baru untuk diselipkan di printer. "Ko-lek-si foto A-lif," baca Bizar pada file yang dibuka Aina. "Jadi dulu Bizar dipanggil Alif ya bunda?" pertanyaan Bizar diangguki Aina sambil mengecek ponsel miliknya. Ia sekalian ingin mencetak stiker kuenya. "Namanya siapa bunda? Ada banyak fotonya," ujar Bizar kembali memperhatikan foto-foto Gibran. Ingin sekali rasanya ia menunjukkan semua itu pada Gibran. "Mungkin saja Alif yang dicari ayah Gib itu Bizar. Dia beneran ayahnya Bizar," batinnya dalam hati. "Namanya Om Gibran. Di seragamnya ada namanya," Bizar langsung mencari foto Gibran yang mengenakan seragam dan benar, ada tulisan nama 'Gibran A. H.' di dadanya. "Ayahnya Bizar kan bunda?" Aina bergeming mendengar Bizar menyebut kata 'ayah' seperti saat keponakannya itu mengigau. "Bizar ingat mukanya bunda. Ingat karena pernah ketemu di sekolah. Maaf ya bunda, Bizar masih bohong sama bunda," lanjutnya lagi dalam hati. "Bi-Bizar ingat? Kok bisa?" lirih Aina mengernyit. Ia heran dan juga tidak percaya bagaimana bisa bayi delapan bulan yang akrab dengan Gibran dalam rentang waktu dua bulan bisa ingat? Sementara saat ia menunjukkan foto Ekadanta dan Nura, Bizar bertanya mereka siapa? Sedekat itukah Bizar dan Gibran? "Bizar sering mimpi bunda, lihat ayah tapi tidak tahu bagaimana caranya mau bilang sama bunda. Ya ampun Bizar, kamu bohong lagi. Tapi kan Bizar memang mimpi ketemu ayah kemarin sama tadi malam. Setengah bohong ini namanya," lanjutnya dalam hati saja. Aina menatap mata polos Bizar yang berkaca-kaca melihat foto Gibran. Jangan sampai keponakannya minta bertemu sementara ia sendiri tidak tahu kabar laki-laki itu. Bagaimana jika Gibran sudah berkeluarga? Bagaimana jika Gibran bahkan tidak mengingatnya? Bizar akan kecewa. Aina juga tidak ingin jadi benalu dalam hidup orang lain atau perusak rumah tangga orang lain. Keluarga Gibran akan terkejut jika Bizar memanggilnya ayah. "Ayah tinggal di mana Bunda?" Aina speechless. Ketakutannya beberapa detik lalu kini sudah terucap dari bibir Bizar. Ia harus bagaimana sekarang? Satu-satunya cara adalah mengelak. Aina menggeleng dan menatap penuh permohonan maaf pada keponakannya. Bizar tampak kecewa dengan tertunduk lesu. Aina menarik Bizar dalam dekapannya dan mengusap sayang punggungnya. "Bizar jangan sedih. Anak laki-laki itu jangan cengeng dong. Nanti kalau Allah sudah putuskan Bizar ketemu sama om Gibran, pasti akan ketemu," hibur Aina. "Bunda, dulu... ayah sayang tidak sama Bizar?" tanyanya lagi karena penasaran. "Iya. Om Gibran sayang sekali sama Bizar. Dia bahkan sering main ke rumah dan rebut perhatian kamu. Anehnya kamu lebih senang sama dia yang orang asing ketimbang keluarga kamu sendiri. Dulu bunda itu gemes banget kalau kamu lebih pilih digendong sama dia daripada sama bunda. Saking sayangnya dia juga kasih gaji beberapa bulannya di kotak s**u kamu. Bunda hanya tidak tahu kenapa dia tidak kembali menepati janjinya." Batin Aina. "Bizar juga sayang sekali. Kalau Bizar ketemu ayah, Bizar akan peluk seperti ini. Erat bunda, biar Bizar tidak pisah lagi sama ayah," ungkap Bizar memeluk erat tubuh Aina kemudian mencium pipinya. "Bunda tidak kasih tahu ayah kalau kita tinggal di panti?" Bizar mengurai pelukannya. "Tidak, kan bunda sudah bilang. Kalau ayahnya Bizar kerja di tempat jauh dan susah dihubungi. Ponsel bunda juga waktu itu rusak. Jadinya tidak bisa kasih kabar deh," ungkap Aina mengulang cerita kebohongannya. Meminta maaf dalam hati karena sudah berbohong. "Bunda, Bizar mau foto yang ini," tunjuk Bizar pada sebuah foto di mana semua orang berkumpul dan dirinya duduk dipangkuan Gibran sambil disuapi bubur oleh Aina. Nura sedang mengaduk kopi dan Ekadanta mengambil foto selfie mereka. Setelah mengatakan keinginannya, ia sibuk mencari frame yang cocok. Aina mengulas senyum melihat keponakannya begitu bersemangat. Seolah tidak ada tanda-tanda jika semalam Bizar masih demam walau tidak separah malam sebelumnya. Bizar adalah kekuatannya. Melihat Bizar tidak baik-baik saja membuatnya tidak berdaya. "Ayah keren ya Bunda? Kalau teman sekolahnya Bizar tahu pasti bilangnya Bizar juga keren." Aina kembali mendesah pasrah dan memaksakan senyum di wajahnya. Tidak ingin merusak moment pagi Bizar yang indah. Walaupun kenyataannya tidak semanis yang dibayangkan keponakannya. Bizar masih anak-anak dan polos, sehingga ia tidak bisa memaksa Bizar melupakan hal itu. Kenangan dengan Gibran nyatanya membekas dan turut hadir dalam alam bawah sadarnya. "Bizar mau taruh di kamar, di meja dekat tempat tidurnya Bizar. Biar Bizar bisa lihat kalau mau tidur sama bangun pagi Bunda," ujarnya sambil meloncat-loncat kegirangan. Aina hanya bisa mengangguk dan memasang foto itu di frame pilihan Bizar. *** Gibran mengulas senyum karena rencananya kali ini akan berjalan lancar. Setelah Sabtu kemarin gagal bertemu Bizar karena anak itu demam dan tidak datang ke sekolah, hari ini ia memastikan jika Senin atau Selasa nanti dirinya punya alasan lagi ke sekolah TK itu. Gibran menemui kepala sekolah dan mengatakan jika Prof. Hamizan Irsyad, dekan Fakultas Kedokteran Universitas Makassar ingin menyumbangkan dana untuk pembangunan toilet dan beberapa titik tempat cuci tangan untuk anak-anak. Agar setiap kali mereka selesai bermain maka akan mencuci tangannya lebih dulu sebelum masuk ke kelas. Tentu saja itu disambut baik oleh pihak sekolah. TK ini dipilih karena TK ini merupakan TK keponakannya dulu. "Kak Gibran sibuk apa?" Bara duduk di sampingnya sambil meletakkan dua gelas jus jeruk. "Kepo!" Gibran tampak abai dan tidak menyadari smirk di wajah Bara. "Ma... kak Gibran punya rahasia lagi.... Kali ini lihatin foto bocah laki-laki...." Gibran mendelik kesal dan ingin mencekik Bara saat ini juga tapi Mariska sudah lebih dulu muncul di pintu dapur belakang. "Mana? Mana fotonya?" Wanita itu menghampirinya kedua putranya dengan masih mengenakan apron dan memegang spatula kayunya. "Bara bohong ma. Gibran cuma lihatin foto anaknya bang Fikri." Gibran mengelak dan menjulurkan lidahnya pada Bara dan jangan lupakan bonus senyum menyebalkannya. "Anaknya bang Fikri belum ada yang pakai seragam TK. Iya kan ma? Tadi Bara lihat foto selfie kak Gibran sama bocah kecil pakai seragam TK. " "Iya, Gibran ngaku. Beberapa waktu lalu Gibran pura-pura jadi ayahnya bocah ini," ujar Gibran menunjukkan foto kenangannya bersama Abi di ponselnya, "Ayahnya tidak bisa datang karena kerja di luar kota. Jadi Gibran gantiin dan itu menguntungkan Gibran untuk sering melakukan pengintaian di sekolah TK itu." "Kenapa harus kamu? Bukan rekan kamu yang lain?" Mariska memicing curiga. "Guru di sana nggak ada yang single ya ma. Kecurigaan mama itu... buang. Hush.... Ini tuh gara-gara bang Kamil, bang Ali sama Samuel. Katanya cuma Gibran yang cocok masuk menyamar jadi ayah di sekolah TK itu." "Memangnya mereka bertiga kenapa?" Mariska mengisyaratkan kedua anaknya bergeser hingga ke tepi kursi taman belakang. Untung saja kursi itu muat untuk mereka bertiga walau duduk berimpitan. "Sam bilang dia terlalu muda buat punya anak usia lima tahun," Mariska mengangguk setuju, polisi yang satu itu memang masih terlihat seperti remaja, "Sementara bang Kamil kayak Beast diserial Disney Beauty and the Beast karena wajahnya brewokan. Terus bang Ali hari itu nyamar jadi penjual sayur keliling dan penampilannya mirip Luffy si manusia karet." "Itu kayak apa tampilannya?" Mariska mengernyit. Ia tahu jika Ali rekan Gibran itu kerap kali menyamar dengan berbagai profesi dalam sehari. Saat Bara menunjukkan gambar yang dimaksud Gibran, Mariska tertawa. Sekali lagi Mariska memuji anggota tim anaknya. "Terus kak Gibran dibilang mirip sama siapa?" tanya Bara dan kali ini ia benar-benar penasaran. "Woody." Gibran menjawab kemudian menghabiskan jusnya. "Kak Gibran mau ke mana? Kemarin kak Gibran sudah janji mau temani saya!" protes Bara. "Kamu ajak Aluna saja. Sekalian kencan, iya kan ma?" Gibran membalas dengan senyum jahil. Ia tahu jika semalam Aluna kesal pada Bara karena batal mengajaknya jalan-jalan. Mau bagaimana lagi jika ada pasien darurat? "Kalau masih ngambek kasih puisi romantis saja! Aluna itu gampang luluh! Asal jangan bujuk pakai traktiran, dia bakal langsung kesal karena takut dikira matre!!" teriak Gibran lagi dari dalam rumah seolah berada di hutan belantara. "Dia ngambek karena kamu ada pasien? Dia nggak percaya?" Bara mengangguk. "Bilang saja kamu rindu. Kalau ada yang merindukan dia, Aluna langsung merasa dirinya penting melebihi pejabat. Sudah punya ide buat luluhkan hatinya Derdi?" Bara menggeleng karena sibuk dengan pasien, ia belum benar-benar memikirkan cara meluluhkan hati calon mertuanya itu. (Baca series ARU part#2 DOKTER JANTUNGKU) "Bara takut salah langkah Ma." "Mama tahu kalau kamu suka sama Aluna sebelum kamu ketemu dia di rumah dan dia mengacak-acak kamar Gibran. Kamu tidak sadar kalau di kafe itu ada temannya mama yang juga makan siang sama cucunya. Dia foto kalian dan kirim ke mama. Itu artinya Aluna sudah ada di Makassar sebelum kopernya nyusul. Kalian para pria nggak bisa bohongin mama." "Bara ngaku Ma. Bara juga tidak tahu soal kepulangannya. Sejak awal Bara tidak tahu kalau dia putrinya om Derdi. Bara kira om Derdi sama tante Lenata cuma punya anak kembar. Bara yang tidak sengaja kasih tahu Aluna kalau kak Gibran pernah koma. Dia jadi marah dan parahnya... dia bilang Bara ini biang kerok hatinya." Bara mengulas senyum dan Mariska mencubit gemas pipi putra bungsunya itu. "Mama ke dalam dulu. Gorengan mama mungkin sudah hangus gara-gara kepincut sama duo ganteng." *** Hari Senin berlalu dengan banyaknya pekerjaan. Tapi Gibran sendiri merasa waktu berlalu begitu cepat. Salah satu kasus yang diusutnya kini sudah tuntas dan ia punya libur dua hari. Bagi Gibran libur dua hari itu sangat berharga. Pagi-pagi ia sudah bersiap dengan pakaian kantor. Kemeja berdasi dan celana bahan dan tatanan rambut berbeda. Tidak seperti Gibran yang biasanya akan berangkat kerja. "Mau ke mana Gib? Derdi bilang kamu libur hari ini sama besok?" Mariska meletakkan sepiring tempe goreng di meja makan, "Kalian janjian?" "Tidak Ma. Kak Gibran yang ikut-ikutan." Bara mendesah pelan ikut duduk di meja makan. Mereka mengenakan warna kemeja yang sama tapi dengan bentuk kerah baju yang berbeda. "Kamu yang ikut-ikutan. Aku sudah dari tadi duduk di sini. Kami mau ngajar di kampus?" Bara mengangguk atas pertanyaan Gibran, "Setelah itu ke mana?" "Kepo!" Bara menjawab dengan acuh tak acuh dan mengundang delikan tajam mata Gibran. Hamizan yang baru saja akan bergabung di meja makan berbalik ke kamarnya. Mariska menikmati perdebatan kedua putranya. Sesekali Jay dan Ratna menyahut ketika dipaksa menjawab atau dipaksa memilih. Siapa yang akan menduga jika kedua laki-laki dewasa itu akan berdebat seperti anak kecil yang saling mencibir. Pagi dengan perdebatan seperti ini memang jarang terjadi. Biasanya Gibran akan bergegas pagi-pagi ke kantor polisi dan Bara akan ke rumah sakit atau ada kelas pagi di kampus. Tapi kali ini sedikit berbeda karena Gibran mengatakan ada bisnis. Katanya mumpung dapat libur. "Gibran kamu jual nama Papa?" Hamizan ikut bergabung di meja makan sambil mengetik sesuatu dengan ponselnya dan membuat semua orang melongo melihat penampilannya. "Papa!" seru Gibran dan Bara bersamaan. "Hem. Ada apa? Loh? Kalian berdua kenapa ikut-ikutan pakai baju yang sama?" Hamizan mengernyit dan Mariska hanya mengulum senyum. Sebelum keluar kamar ia sudah memilihkan kemeja untuk suaminya. Tapi bukan kemeja yang dikenakannya sekarang. "Dasar papa... suka ikut-ikutan," bisik batin Mariska. Terkadang sulit menebak suaminya walau mereka sudah menikah puluhan tahun. pagi ini sifat kekanakan dari profesor yang satu ini muncul. Pasti ada maksud terselubung. "Kamu mau ke mana Gib? Kesambet apa pakai baju rapi begitu?" tanya Hamizan seolah menyindir. Selain seragam resminya, Gibran memang jarang sekali mengenakan kemeja. Putra sulungnya lebih suka mengenakan kaos berkerah atau kaos oblong lengan pendek ataupun panjang. Luarannya kalau bukan jaket akan berganti rompi anti peluru. "Gibran ada bisnis Pa. Mau cari duit tambahan," jawab Gibran yang kemudian menandaskan minumannya. "Cari duit tambahan dengan jual nama papa di sekolah TK? Pura-pura jadi kontraktor yang mau buat toilet sama tempat cuci tangan anak? Ada apa di sekolah TK itu? Jawab papa atau kamu tidak boleh keluar rumah hari ini. Kamu itu harusnya kontrol ke rumah sakit karena dua hari yang lalu kamu tidak ke rumah sakit." "Pa... jangan jahat dong... Gibran tidak jual nama Papa." Gibran memelas, bahunya terkulai. Soal check up rutin ia merasa tidak butuh lagi. Lagi pula di rumah ada Bara yang hampir setiap hari akan mengecek kondisi kesehatannya. "Bukan jual nama papa sih, tapi... pin-jam." Bara tersenyum manis pada Gibran sementara Jay dan Ratna terbatuk menahan tawa karena Gibran sudah beranjak dari kursinya ingin mencekik Bara tapi dicekal Hamizan dan dipaksa kembali duduk. "Alasannya?" Hamiz menuntut jawaban. Gibran pun menceritakan kisah yang kurang lebih sama dengan yang diceritakannya pada mamanya dan Bara beberapa hari lalu di taman belakang dekat lapangan basket. Kisah yang butuh waktu sekitar 10 menit untuk menceritakannya hanya dijawab dengan 'oh' saja oleh papanya. Pagi ini Gibran berangkat dengan motor milik Bara sementara adiknya itu ia paksa naik mobilnya. Katanya butuh ganti suasana. Sekalian berangkat bersama dengan papa yang punya tujuan yang sama ke kampus. Bara setuju dengan satu syarat. Selfie bertiga di depan mobil Gibran mumpung ketiganya menggunakan warna baju dark grey yang sama. Saat foto itu Bara kirimkan pada Mariska, wanita itu tersenyum lebar merasa hidupnya sempurna, sesempurna senyum ketiganya. *** Gibran baru saja keluar dari ruang kepala sekolah dan bergegas ke ruang kelas Abi. Sayangnya bocah kecil itu sudah tidak berada di kelasnya. Langkahnya pun bergegas ke taman bermain tapi tetap saja nihil. Ia pun bertanya pada beberapa anak dan mengatakan jika Abi berada di dekat kantin. Setelah mengitari kantin, ia sama sekali tidak menemukannya. Hingga ia bertemu gadis kecil yang dia kenal bernama Salsa menunjuk ke arah papan pengumuman sambil tersenyum. Gibran mengacungkan jempol sebagai ganti ucapan terimakasih. "Sedang lihat apa?" bisik Gibran pada Abi yang mendongak menatap papan pengumuman di mana pengumuman juara lomba yang mereka ikuti dulu terpasang. "Ihh... jangan bikin kaget dong om," ucap Bizar menjewer telinga yang berada di dekatnya, "A-ayah?? Ini beneran ayah?" "Sshhh... sakit jagoan!" Gibran mengulas senyum dan berjongkok di sampingnya. Bugh! "Ayaaah!!" Bizar langsung mengalungkan kedua lengannya di leher Gibran. Memeluknya erat sampai kedua matanya berkaca-kaca ketika merasakan usapan yang menenangkan dari Gibran. "Ayah rindu," bisik Gibran. Bizar menegakkan punggungnya tapi kedua tangannya masih bertautan di leher Gibran. Rasanya tidak ingin dilepaskan. Melihat mata Abi yang berkaca-kaca, Gibran mengernyit. Apalagi setelah melihat setetes bening jatuh di kedua pipi bocah kecil itu. "Kenapa Abi menangis? Ada yang gangguin Abi?" *** --------------------- Terima kasih sudah tapp ❤️ Maaf kemarin tidak update, lagi ujian, hehehe Silahkan mampir dicerita lainnya Ada cerita tentang *DOKTER JANTUNGKU *Bukan Jendral Tapi Pangeran ---------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD