"Nara, tutup jendelanya..."
Seorang laki-laki dewasa mengerjapkan matanya perlahan saat merasakan sinar mentari yang menerobos jendela kamarnya. Perlahan kesadarannya mulai muncul bersamaan dengan matanya yang telah terbuka sempurna. Kedua netra matanya menatap kearah jendela kamar yang terbuka, tubuhnya tiba-tiba berhenti bergerak saat menyadari sesuatu yang salah.
Nara telah pergi dari kehidupannya. Wanita itu sendiri yang memilih meninggalnya dan Dariel. Padahal saat ini anaknya sedang dalam kondisi tidak baik, tapi wanita itu sendiri yang memilih pergi.
Tangan Adrian mengepal erat, rahangnya mengeras saat kembali mengingat hal itu. Sudah satu minggu lebih Nara meninggalkannya dan selama itu pula ia masih merasakan kehadiran perempuan itu.
Adrian tidak berbohong jika ada sesuatu yang hilang dari kehidupannya. Tapi, lagi-lagi pria itu berpedapat bahwa Nara adalah bagian terkecil dari dirinya. Jadi ia tidak terlalu memusingkannya.
Sebelum bertemu Nara, ia tidak pernah merasakan hal seperti ini. Dulu, kepentingan utama yang selalu ada di otaknya adalah Dariel. Anaknya dan anaknya, ia tidak pernah merasakan hal ini, bahkan saat ditinggal Natasha. Entahlah, mungkin itu hanya efek kelelahan Adrian.
Tokkk... Tokk...
"Ayah! Buka pintunya!" teriakan dan gedoron dari balik pintu memaksa Adrian menghentikan kegiatan melamunnya. Pria itu segera melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.
Tepat saat pintu terbuka, Dariel segera mendorong Adrian. Bocah kecil itu segera masuk kedalam kamar. "Ayah, mana Bunda? Kok Iyel gak dibangunin?" tanya anak laki-laki itu dengan muka cemberut.
Adrian kembali terdiam. Ia melupakan bahwa ada anaknya lah yang mengalami perubahan terbesar saat Nara pergi. "Iyel, hari ini libur dulu sekolahnya."
"Ayah mana Bunda?" tanya Dariel lirih.
"Mommy nanti akan datang menjenguk Iyel," ujar Adrian mengalihkan pembicaraan. Ia tidak sanggup melihat wajah anaknya sekarang.
"Ayah, Iyel mau mandi sama Ayah!"
Adrian bernafas lega saat mendengar permintaan anaknya yang tidak ada sangkut pautnya dengan Nara. Dengan segera saja pria itu mengangkat Dariel kedalam gendongannya. Membawa anaknya kedalam kamar mandi miliknya. Entah sudah berapa lama Adrian tidak memandikan Dariel, karena selalu Nara yang mengambil peran itu. Ah, lagi-lagi Nara.
Mulai detik ini, Adrian akan mengapus tantang wanita itu. Ia hanya perempuan yang Adrian nikahi dengan tiba-tiba, perempuan yang ia janjikan untuk dijadikan tempat hati Adrian berlabuh. Tapi, itu semua hanya karangan seorang Adrian.
"Ayah, dingin!" Adrian terkesiap saat mendengar teriakan anaknya. Bocah laki-laki mengangkat-angkat kedua tanganya untuk meminta segera digendong, ia tidak bisa menahan dinginnya air bathtub.
Dengan cekatan Adrian mengangkat anaknya. "Ayah, airnya dingin!"
"Biasanya Iyel mandinya pake air dingin, kan?"
"Gak lagi. Kalo Bunda mandiin Iyel pasti pake air hangat, jadinya gak kedinginan deh."
Adrian terdiam, lagi-lagi Nara yang menjadi penyebabnya. Dan hal itu kembali membuat Adrian menghela nafas panjang. Ada rasa sesal di hatinya saat melihat anaknya menjadikan wanita itu tokoh utama dalam kehidupannya.
"Jadi mandinya pake air hangat?" tanya Adrian.
Dariel mengerucutkan bibirnya. "Gak jadi deh mandinya. Gak ada Babang, gak bisa maen air." bocah itu melepaskan tubuhnya dari pelukan Adrian dan kembali berjalan dengan tubuh polos keluar kamar Ayahnya.
Adrian hanya bisa menatap kagum kearah anak laki-laki yang dengan santainya berjalan keluar kamar tanpa mengenakan sehelai pakaian pun. Padahal dulu anaknya itu anti sekali untuk bertelanjang, bahkan didalam rumah sekalipun.
"Iyel, gak malu?"
Dariel membalikan tubuhnya. "Kenapa malu? Ini rumah Ayah dan gak ada siapa-siapa disini."
Adrian terdiam. Dan, kali ini ia mengakuai bahwa seorang Nara membawa perubahan besar dalam kehidupan Dariel dan juga dirinya. Tapi sayang seribu sayang, wanita itu telah pergi. Dan, itu semua karenanya.
***
"Bunda?" panggil seorang anak laki-laki pada seorang perempuan yang berada dibalik stir mobil.
"Apa, Bang?"
"Bunda gak usah nungguin, Babang. Jemput aja pulang sekolah."
"Bunda gak kenapa-napa, Bang."
Razka mengelengkan kepalanya. "Muka Bunda pucat. Tadi juga Bunda huek... Huekk," ujar Razka menirukan saat Bundanya tengah muntah. Nara terkekeh melihat tingkah Razka yang selalu menjadi penyemangatnya di pagi hari.
Nara membenarkan perkataan Razka. Saat ia dan anaknya sedang sarapan bersama, tiba-tiba Nara merasakan perutnya diaduk-aduk dengan mixer membuatnya memuntahkan kembali sarapannya. Untung saja, Razka tidak mengeluh. Pria kecil itu malahan membawakan air hangat untuk Nara.
"Oke. Bunda nanti jemput waktu pulang sekolah. Babang jangan kemana-mana ya!" peringat Nara. Razka menganggukan kepalanya. "Siap, Bunda Boss!" serunya sambil bergaya hormat membuat Nara kembali tersenyum.
"Dahh, Bunda!"
"Jangan lari, Bang!"
Razka mengangkat jempolnya pada Nara. Bocah laki-laki itu segera berlari memasuki gerbang sekolahnya. Setelah memastikan anaknya telah aman, wanita itu segera menghidupkan mesin mobilnya.
Tiba-tiba Nara mengingat sesuatu, matanya kembali melihat keadaan sekitar sekolah yang telah sepi karena gerbang yang hampir tertutup. Mata hitamnya kembali menjelajahi sekitar sekolah, dan tidak menemukan apa yang ia cari.
"Iye, udah berangkat belum ya?" guman Nara. Dari informasi yang Nara dapatkan, kondisi Dariel telah membaik dan anak itu telah kembali ke rumahnya. Kemungkinan Adrian belum menyuruh Dariel untuk sekolah karena ia tidak melihat anaknya itu.
Karena gerbang sekolah telah tertutup, Nara segera memacu mobilnya dengan kecepatan perlahan menembus jalan raya. Tujuanya kali ini adalah rumah Adrian. Entah Nara menyebutnya apa, suami atau mantan suami karena sampai sekarang Nara belum menerima surat cerai.
Disinilah Nara sekarang. Didepan rumah mewah milik Adrian Maynard. Ditatapnya rumah yang pernah dulu ia tempati, tidak banyak yang berubah. Hanya rumah itu terlihat lebih sepi, tidak seperti dulu saat Nara menempatinya.
Pintu putih berukir itu terbuka, seorang bocah laki-laki berlari riang keluar dari rumah. Seketika Nara bernafas lega saat melihat keadaan Dariel baik-baik saja. Detik berikutnya, nafasnya terasa sesak saat melihat seoarang laki-laki dewasa dengan wanita cantik yang bergelayut manja di lengannya. Adrian nampak bahagia dengan kekasihnya.
Nara mengalihkan pandangannya. Ia masih belum sanggup untuk melihat kedekatan mereka. Bohong jika Nara mengatakan tidak apa-apa, karena pada dasarnya hatinya masih dimiliki laki-laki itu. Walaupun dengan sikap cuek dan datar, Nara masih mencintai laki-laki itu.
Nara segera menghidupkan mesin mobilnya, memacunya menuju salah satu tempat yang ia datangi saat sedang butuh penenangan. Sebuah Kafe yang tidak terlalu jauh dari sekolah Razka. Kafe yang memiliki konsep kuno klasik, yang selalu membuat Nara tenang dan merasa nyaman berada disini.
"Haii! Boleh aku duduk disini?" seorang laki-laki dengan kaos polo dan celana jeans menyapa Nara. Sedangkan Nara hanya bisa mengangguk pasrah karena tidak sopan untuknya menolak.
"Katanya, kalo ke Kafe ini gak enak duduk sendirian. Lebih enak berdua, kata orang sih," ujar laki-laki itu seraya menarik bangku dan mendudukinya. Ia menampilkan senyum lebarnya membuat Nara tersenyum kecil.
Pria itu menjulurkan tangannya ke arah Nara. "Bara."
"Nara."
"Wah, nama kita sama. Hanya beda satu huruf," ujar Bara membuat Nara tersenyum kaku. Sebenarnya Nara merasa tidak nyaman dengan laki-laki itu karena sedari tadi pria itu tidak berhenti berbicara. Tidak seperi Adrian yang irit bicara membuat Nara gemas.
Astaga, Nara! Untuk apa kau memikirkan kekasih orang?! -batin Nara.
Nara terdiam, walaupun ia asal berpendapat. Nara yakin wanita bernama Natasha itu adalah kekasih Adrian. Lihatlah kemesraan mereka. Tapi, lagi-lagi Nara berpikir bahwa derajatnya lebih tinggi daripada wanita itu karena sampai sekarang ia adalah isteri sah Adrian. Setidaknya untuk sekarang.
"Betul gak?" tanya laki-laki itu membuat Nara terkesiap. Dengan ragu, Nara mengangguk saja. Entah apa yang ditanyakan laki-laki dihadapannya ini.
"Ah, Maaf. Kalo aku membuatmu gak nyaman. Aku sedang ada masalah, dengan banyak berbicara membuatku sedikit melupakannya."
"Masalah apa?" tanya Nara.
"Anakku marah padaku. Ia ingin sekali aku menikah lagi. Tapi... Aku belum bisa menemukan yang terbaik."
"Kalo kamu mau cari yang terbaik itu gak ada. Carilah wanita yang bisa menutupi kekuranganmu dan kamu sebaliknya, menutupi kekuranganya," ujar Nara. Ia kembali menyesap hot tea yang tadi ia pesan.
Bara mengangguk-angguk sambil memandangi Nara. Laki-laki tersenyum kecil melihat wajah cantik Nara. "Menunggu siapa?" tanya Bara saat melihat Nara melirik jamnya.
"Anak."
"Anak? Kamu sudah menikah?" tanya Bara terkejut. Ia tidak menyangka wanita didepannya kini telah mempunyai anak, entahlah Nara terlihat seperti mahasiswi dan itu berarti ia juga mempunyai suami.
"Berapa usianya?"
"Tujuh tahun."
Bara tersenyum lebar. "Sama seperti anakku. Hem... Sebentar lagi ia akan ulang tahun, bisakah kamu membantuku untuk mencari kado untuk anak perempuan?" tanya Bara penuh harap.
"Tapi, anakku laki-laki."
"Tapi, kamu perempuan."
"Oke."