16

1165 Words
Nara menghempaskan tubuhnya diatas kasur hotel yang telah Adrian pesan. Prempuan itu nampak kelelahan setelah berjam-jam duduk di pesawat tanpa melakukan apapun. Salahkan saja Adrian yang membawa Nara berbulan madu hingga keluar negeri. Padahal dibenak Nara laki-laki itu akan membawanya ke Lombok ataupun Bali. Tapi apa yang sekarang Nara dapatkan? Kini ia berada di negeri orang. Bukan untuk mencari sesuap nasi atau setumpuk ilmu tapi untuk berbulan madu sesuai perintah Adrian. "Nara, bangun." Adrian mencolek bahu Nara membuat prempuan itu mengerang marah. "Apa? Aku capek Adrian," gerutu Nara sambil menatap tajam Adrian. Prempuan itu menelentangkan tubuhnya, melabarkan kedua kakinya dan juga kedua tangannya. Membuat kasur besar itu penuh dengan tubuh Nara. "Mandi, baru kamu boleh istirahat." "Gak mau, Adrian. Aku capek," rengek Nara sambil memegang guling dengan erat. "Naraa..." "Capek, Adriann." Adrian berdecak. "Ckk, padahal kita belum melakukan apa-apa dan sekarang kamu telah mengeluh kelelahan," ucap Adrian membuat Nara merengangkan penganganya pada guling. "Memang kita akan melakukan apa?" tanya Nara sambil membuka matanya yang sempat terpejam. "Membuat adik bayi untuk Babang dan Iyel." Blussh... Pipi Nara tiba-tiba bersemu merah saat Adrian mengatakan hal itu. Adrian yang melihatnya hanya bisa tersenyum geli. Entah mengapa wanita itu selalu berhasil membuatnya tersenyum. "Mau mandi sendiri atau aku yang akan memandikanmu?" tanya Adrian dengan satu alis terangkat. "Aaaaaa...." teriak Nara sambil melompat menuju kamar mandi. Adrian yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala sambil membereskan kasurnya berantakan akibat perbuatan Nara. Setelah menghabis berjam-jam untuk tidur dengan nyanyak. Malamnya Nara telah siap dengan dress santai bewaran biru tua, sedangkan Adrian mengenakan pakaian yang tak kalah santai dengan Nara. "Kita mau kemana Adrian?" tanya Nara saat mereka baru keluar dari kamar hotel mereka. "Makan," ucap Adrian singkat membuat bibir Nara mengerucut. "Kenapa tidak dikamar aja, sih," gerutu Nara sambil mengehentakan kakinya. "Kamu tidak bosan hanya tidur dikamar?" tanya Adrian membuat bibir Nara kembali memaju beberapa senti. "Kita akan bersenang-senang, sayang." Adrian mengecup bibir Nara sekilas membuat wanita itu menempelkan tangan pada dadanya. Jantungnya kembali kumat. Adrian dan Nara memasuki restaurant yang berada di hotel. Mereka memilih untuk makan disini karena cuaca yang nampak kurang bersahabat, sampai-sampai harus membuat Nara berdekatan dengan Adrian karena angin yang begitu kencang. Adrian memanggil pelayan. Nara mengerutkan keningnya saat membolak-balikann daftar menu, semua yang barada disana sangat asing bagi Nara yang pecinta ketoprak. "Pak, ada ketoprak, gak?" goda Nara pada Adrian. Ia sendiri terkekeh panggilannya pada Adrian. "Tidak ada Nara," ucap Adrian singkat membuar Nara membrengutkan mukannya. Adrian kemudian mengatakan sesuatu dengan menggunakan bahasa asing. Sampai pelayan itu menangguk-angguk, kemudia berlalu dari meja mereka. "Pak, aku belum mesen." "Sudah aku pesankan. Dan, jangan panggil aku dengan sebutan 'Pak' karena aku bukan Boss kamu melainkan suamimu." "Iya, iya. Pak suami." Nara terkekeh sedangkan Adrian hanya memasang wajah datarnya. Nara terkikik geli saat melihat muka Adrian. Nara tahu, pasti pria itu sedang marah dengannya akibat panggilan itu. Nara mencolek dagu Adrian. "Iya, deh. Suami, juga Ayahnya Babang sama Iyel." Adrian berbalik manatap Nara sedetik kemudian pria itu mencium kilat pipi Nara. "Pakk...." "Adrian?" seorang prempuan dengan tubuh model melambaiknya pada Adrian lalu berjalan mendekat kearah meja mereka. Tubuh yang tinggi semampai, kulit yang putih dengan rambut pirang bergelombang membuat Nara menjadi minder seketika. Prempuan itu mengecup kedua pipi Adrian membuat mata Nara membulat sempurna dengan tingkahnya. Belum lagi dengan Adrian yang hanya diam saja diperlakukan seperti itu. Entah mengapa, ada bagian hati Nara yang menjadi sakit saat Adrian hanya diam. Belum lagi prempuan itu, seenaknya mencium pipi Adrian. "Kamu siapa?" tanyanya pada Nara. Belum sempat Nara menjawab, prempuan itu lebih dulu memotong ucapan Nara. "Sekretaris? Tadi aku mendengar kamu memanggil Adrian dengan sebutan Pak?" tebaknya membuat Nara memelotot. Dulunya dia memang sekretaris Adrian dan sekarang telah menjadi isterinya. "Kenalkan aku, Erisca. Pacar Adrian." "Hah?" pandangan Nara beralih lada Adrian. Lelaki itu hanya diam ditempatnya tanpa ada niatan menjelaskan sesuatu pada Nara. "Iya, aku kekasihnya. Kamu mau apa?" tanya Erisca menatap Nara dari atas hingga kebawah. Nara manatap Adrian tak percaya. Lelaki itu memiliki kekasih. Kenapa bukan wanita itu saja yang Adrian nikahi, apa lelaki itu sengaja membuat hidup Nara hancur. Cukup sudah, Nara tak tahan. Dengan nafas yang memburu Nara melangkahkan kakinya meninggalkan Adrian dengan Erisca. Bahkan laki-laki itu hanya menatap Nara tanpa ada niatan sedikitpun mengecahnya pergi. Setelah tubuh Nara menghilang dari pandangan sepasang wanita itu, barulah Adrian menatap jengah wanita yang kini menampilkan wajah puasnya. "Sudah puas?" tanya Adrian menatap wanita yang masih ada belum juga ada perubahan. "Sangat-sangat puas, Kak," pekik Erisca menatap Adrian. Sedangkan Adrian hanya bisa mengelengkan kapalanya melihat tingkah kekanak-kanakan Erisca. Sepupunya. "Akhirnya dendamku terbalaskan juga. Kau ingat, Kak? Dave, kekasihku yang memutuskanku karena kau datang-datang mengaku sebagai pacarku. Anggap saja itu pembalasan." Adrian mendengus. "Bukannya kau sudah mendapat yang baru?" tanya Adrian menangangkat sebuah alisnya. "Ah, iya! Aku sudah akan menikah sebentar lagi. Dan, Kakak harus datang bersama pacarmu itu. Aku merasa bersalah dengannya." "Dia bukan pacarku. Dia isteriku." "Hah?! Yang benar saja? Oh, aku benar-benar merasa bersalah. Perlu aku mengejarnya untuk meminta maaf?" tanya Erisca merasa bersalah. "Tidak perlu. Lebih baik kau pulang sekarang. Bibi pasti kesusahan menjagamu," ucap Adrian membuat Erisca mendengus. Prempuan itu pun pamit sebelum keluar dari restauran. "Hah.." Adrian menghela nafas panjang. Sekarang, bagaimana menjelaskannya pada Nara yang sedang mengamuk. Matilah kau, Adrian. *** Nara menghapus air mata yang membasih pipinya. Prempuan itu membanting koper hitamnya lalu memasukan baju-baju yang telah ia tata rapi didalam lemari hotel untuk kembali dimasukan kedalam koper. Ia ingin pulang. Nara tak ingin berada disini. Melihat prempuan itu dengan mudahnya mencium pipi Adrian membuat hatinya sakit. Hah? Apakah Nara sudah jatuh cinta pada Adrian? Nara merutuki kebodohanya sendiri karena mudah sekali percaya pada posona Adrian. Nara menutup kopernya. Tiba-tiba tubuh Nara didekap seseorang dari belakang. Nara meronta didalam dekapan Adrian tapi karena kekuatannya tak sebanding dengan Adrian. Nara hanya bisa terisak didalam dekapan Adrian. "Dia bukan pacarku. Prempuan itu Erisca, adik sepupuku." Nara mengeleng dari pelukan Adrian. Kali ini Nara tidak akan percaya dengan ucapan Adrian. "Aku pernah membuatnya putus dengan kekasihnya karena mengaku sebagai pacarnya. Dan, dia ingin balas dendam karena itu." Adrian memutar tubuh Nara hingga mereka saling behadapan. Nara menatap bola mata itu, tidak ada kebohongan hanya ada kejujuran yang terpancar. Prempuan itu masih terisak lalu dengan sekali tarikan Adrian membawa tubuh Nara kedalam pelukannya yang dibalas pelukan erat oleh Nara. Puas Nara menangis, prempuan itu mendongakan kepalanya. Menatap wajah laki-laki yang membuatnya jatuh cinta. "I love you." Tidak balasan dari Adrian, laki-laki itu langsung mencium bibir Nara yang menjadi candunya. Bibir yang sangat manis. Puas dengan bibir Nara yang telah membengkak, Adrian mengelus pipi Nara yang dibanjiri air mata. Dan, memindahkan anak rambut Nara kesamping telingnya. "Bolehkah, Nara?" tanya Adria meminta persetujan Nara. Nampak malu-malu, prempuan itu hanya mengangguk dengan pipi memerah. Adrian langsung mengangkat tubuh Nara dengan gaya bridal stayle lalu menurunkannya di kasur dengan perlahan-perlahan. Dan terjadilah persatuan dua anak manusia diantara rasa kebingungan saling mencintai atau saling membutuhkan. Itu semua akibat cinta. Oh, jangan lupakan sebuah rahasia yang Nara pendam salama ini akhirnya terbongkar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD