Bab 3

1355 Words
Perbincangan pagi, bukan membuat semangat hati ini. Malah membuat aku takut sampai ingin gantung diri.   Belum kelar pembahasan mengenai pak Ranu yang terlihat terburu-buru ingin menikahi ibu, pagi ini aku sengaja mengajak ibu bicara. Si tokoh utama yang sedang membuat pusing semua orang terlihat malah santai-santai saja, memasak seperti biasa. Bahkan sesekali ibu ber- talking-talking ria dengan kucing peliharannya. Sambil membuat kopi pagi ini, menghilangkan sedikit rasa kantuk karena semalam sibuk melanjutkan pekerjaanku yang tidak kunjung usai, aku mencuri lirikan ke arah ibu sebelum memulai pembicaraan ini. “Bu ….” “Kenapa?” “Itu beneran pak Ranu mau ngelamar Ibu?” Terus mengaduk sendok dalam kopi sachet yang akan kunikmati pagi ini, aku malah mendengar suara tawa ibu. Dia menghentikan gerakannya mengusap kucing, mencuci tangan, lalu duduk di hadapanku dalam suasana sarapan pagi ini. “Kemarin ibu Inara bilangnya begitu. Tapi jujur ibu belum mendengar dari pak Ranu langsung, jadi ibu pikir masih sebatas kabar angin saja.” Sedikit memahami, kuteguk kopi yang baru saja selesai kubuat. Manis dan pahit mulai terasa bercampur dalam mulutku. Jujur saja sejak tadi otakku waspada. Jika tiba-tiba saja ibu mengatakan benar, dan siap dinikahin dalam minggu ini, aku rasanya akan mati mendadak mendengar kabar tersebut. “Kenapa toh? Kamu kayaknya curiga banget.” Tertawa dalam ringisan, aku melirik ibu sebal. Kenapa ibu tidak peka sih atas apa yang kurasakan kini? Ya Tuhan, rasanya kalimat yang kemarin Elam katakan kembali berputar-putar dalam otakku ini. Jujur semua terasa aneh, kenapa tiba-tiba sekali? Kenapa perjalanan cinta ibu dengan pak Ranu itu terasa sangat instan? Mungkin kah ibu … bunting, seperti yang dikatakan Elam. Tidak. Aku tidak mau mendengar kabar buruk seperti itu. “Hey, ibu tanya. Kenapa malah diem begitu? Kamu kenapa sih, Rhea? Kamu enggak setuju ibu menikah sama pak Ranu? Kamu mau ibu pacaran dulu?” Ibu menyelidiki sikapku kini. Posisi dudukku yang tidak stabil layaknya orang sedang ambeien, lalu keringat dingin yang mulai menjalar dipelipisku, semakin membuatku kehilangan kata-kata. Sejujurnya, aku tidak pernah melarang ibu bahagia. Dan jika memang menikah, menemukan lagi laki-laki pengganti ayah, adalah kebahagiaannya, aku pasti mendukung. Tapi … dengar ya, ada tapinya. Tapi … kalau laki-laki yang dipilih ibu usianya jauh lebih muda, dan terlihat tidak sabaran, apa aku tidak curiga. Curiga lah, masa tidak! Dan rasanya aneh saja aku harus memanggil dia papa atau bapak kepada laki-laki yang bahkan pantasnya mirip abangku, maybe, masalahnya aku tidak punya abang juga. “Begini, Bu. Kemarin Rhea udah ngomongin masalah ini sama Elam.” “Masalah?” ulang ibu terasa kurang tepat menamakan lamaran ini masalah. Aduh, salah lagi. “Maksud aku, kondisi yang terjadi. Tentang hal yang Ibu ceritakan kemarin pagi. Tentang ibu Inara yang bilang jika adiknya, si pak Ranu itu mau melamar Ibu. Rhea udah ceritain ke Elam semuanya. Enggak ada yang terlewat sedikitpun.” “Terus, tanggapan Elam apa?” Ekspresi penasaran aku bisa melihatnya. Apa mungkin ibu lebih mendengarkan pendapat Elam dari pada aku? Huh, menyebalkan. “Elam jelas kaget, Bu. Dia malah mikir yang enggak-enggak, karena semua terlalu mendadak. Kenalan terus tiba-tiba mau melamar, eh, dalam seminggu mau dinikahin. Apa enggak terlalu terburu-buru, itu tanggapan Elam. Dan dia juga ngomong sesuatu yang sama sekali enggak Rhea pikirkan. Dia ngomong, apa saudara ayah sudah tahu jika ibu mau menikah lagi? Karena kata Elam, biar bagaimana pun hubungan Ibu kedepannya dengan pak Ranu, ada aku yang wajib kalian pikirkan. Jadi Elam yakin, saudara-saudara ayah harus tahu kondisi ini. Jangan sampai … amit-amit … ketika Ibu sudah menikah nanti, aku kalian lupakan. Sedangkan sampai detik ini hubungan kita sama keluarga ayah masih baik-baik saja.” “Yah, setidaknya buat mereka percaya, posisi pengganti ayah adalah sosok laki-laki baik, Bu. Itu inti sederhana dari jawaban Elam kemarin. Kalau Ibu enggak percaya, dan berpikir aku mengada-ngada, Ibu bisa tanyakan kepada Elam semuanya.” Ibu tersenyum, aku semakin menciut. Kenapa ibu malah senyam senyum? “Kata siapa ibu tidak percaya?” “Ya, kan siapa tahu.” Mengangguk-angguk setuju, ibu kembali berkomentar. “Yang Elam bilang, benar. Ibu pun kaget, karena semuanya serba mendadak. Tapi karena ibu pikir kemarin kalian sudah ketemu dengan orangnya langsung, mungkin semuanya akan lebih lancar. Ternyata ada yang terlewat juga dalam pikiran ibu. Untung Elam mengingatkan.” “Elam bukan mengingatkan sih, Bu. Karena setiap bulan pun, Elam yang selalu yakinin aku untuk datang ke rumah keluarga ayah. Setidaknya silaturahmi tetap dijaga. Karena katanya, ketika dia akan menikahiku nanti, maka keluarga ayah lah yang akan menjadi wali dariku. Bukan pak Ranu.” Lagi-lagi ibu mengangguk. Menyetujui penjelasanku. “Ibu kayaknya harus ngomong banyak terima kasih nih untuk Elam. Duh, beruntung banget ibu punya calon mantu kayak dia.” “Rhea juga bahagia, Bu. Bisa kenal sama Elam.” Seperti menerima semua saran dariku, sedikit banyak aku bisa bernapas lega. Setidaknya ibu akan berpikir dua kali jika ibu Inara datang ke rumah untuk mengajukan lamaran kepada ibu.   ***   “Lagi bahagia kayaknya,” tegur Elam ketika kami sama-sama menikmati makan siang di kantin kantor yang begitu ramai. Semua meja serta kursi terlihat full. Bahkan ada yang rela berbagi meja dan kursi dengan orang-orang yang tidak mereka kenal, karena sudah tidak ada tempat lagi. “Iya dong.” Elam mengusap kepalaku, sebelum berjalan menuju salah satu penjual makanan layaknya warteg dalam kantin kantorku ini. Sedangkan aku sendiri sibuk menyantap menu bakso malang super pedas plus mie yang sengaja aku minta tambahkan tadi. Saat ingin menyendokkan bakso ke dalam mulut, ada seseorang yang menegurku, bertanya apa posisi di hadapanku ini kosong? “Ada orangnya, Mbak. Lagi antri beli nasi.” Aku menujuk posisi di mana Elam berada kini dengan bibir dowerku, efek pedas dan panas bercampur jadi satu. “Owh, maaf.” Mereka mulai mengangkut lagi, makanan yang mereka pesan, dan mencari di mana ada kursi yang kosong. “Kenapa?” tanya Elam setelah kembali dengan sepiring nasi, serta lauk pauk yang berbentuk layaknya sebuah gunung Merapi. “Biasalah, udah pesen makanan sebelum cari kursi. Mana kebagian,” ucapku santai dan kembali menikmati baksoku kembali. “Kamu tadi kayaknya belum cerita deh bahagia kenapa?” Aku tersenyum, melirik Elam yang penasaran. “Itu … anu, aduh esnya habis. Pesenin lagi dong. Es the manis aja.” “Kalau pedes jangan minum es, ngeyel banget sih. Enggak akan hilang pedesnya.” “Ih, udah. Pesenin aja. Komentar mulu kayak netijen.” Elam terlihat gemas, namun tetap bergerak menuju tempat penjual minuman, dan kembali dengan segelas es teh manis dan teh hangat. “Tumben kamu minum teh?” “Buat kamu. Minum dulu yang anget, baru minum yang dingin kalau dahaga kamu enggak puas!” Mengucapkan kata-kata bagai perintah, aku hanya bisa mengikuti. Menurutku, selagi apa yang Elam katakan wajar, aku mencoba dan berkuat hati untuk mengikutinya. “Dasar cewek, makan pedes, minumnya es. Maunya kurus, tapi diajak hidup sehat aja susah.” “Udah deh, diem. Mau dengerin aku enggak, kenapa aku bahagia.” “Ya, ya. Silakan nyonya, bisa bicara sekarang.” Sedikit tersenyum, dan sudah lebih bisa mengontrol rasa pedas di bibirku, mulailah pembicaraan soal ibu mengalir begitu saja. “Tadi pagi aku ngomong sama ibu, ceritain semua yang ada dipikiran kamu. Terus kamu tahu enggak tanggapan dia apa?” “Apa?” tanya Elam dengan mulut penuh nasi. “Dia setuju sama pendapatmu.” Elam mengangguk seperti sedang bangga pada dirinya sendiri. “Sebenarnya pak Ranu juga wajib kenal sama semua saudara ibu. Enggak asal nikah, ijab kelar. Enggak gitu. Menurutku ya. Karena menikah itu, menggabungkan 2 keluarga. Bukan cuma keluarga kamu, atau keluargaku doang. Tapi keluarga kita.” “Eh, tapi ya, Rhe. Aku bicara begini enggak semata-mata pengen mereka pacaran. Enggak sama sekali. Aku mau mereka berdua bahagia. Tapi dengan langkah-langkah yang benar. Itu yang sekarang aku lagi lakuin ke kamu. Aku mencintaimu. Tapi aku enggak mau merusakmu. Aku mencintaimu. Tapi aku tidak mau terburu-buru. Aku ingin ibumu mengenalku. Sehingga tidak ada penyesalan telah melepaskan putri satu-satunya untuk laki-laki seperti aku.” Kembali dibuat tidak bisa berkata-kata, Elam memang memahami bagaimana dia memposisikan dirinya dalam keluargaku yang sudah kehilangan sosok laki-laki selama 15 tahun ini. Terima kasih Elam. Terima kasih sudah hadir dalam kehidupan kami, aku dan ibu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD