Sadarlah, kondisi ini bukanlah kenyataan yang harus aku syukuri. Tidak pernah bisa sepaham dengan ibu, aku malah ingin menyerah dari semua ini. Sampai terkadang aku berpikir, jika pada saat kecelakaan aku mati, harusnya tidak ada yang perlu disesali. Karena kupikir ibu juga sudah sangat bahagia dengan bisa mencintai pak Ranu. Terdengar bodoh memang pemikiranku ini, tapi lihatlah, bertukar posisi lalu terkurung di dalamnya, bukankah sama saja dengan mati. Bahkan menurutku lebih buruk dari pada mati. Sebenarnya semua itu sudah tercermin dari pembicaraanku dan ibu yang sama-sama tidak menemukan jalan terbaik. Mungkin penyebabnya karena kami sudah sama-sama lelah. Sama-sama benci terkurung dalam kondisi yang salah seperti ini. Ingin rasanya aku dan ibu mengambil jalan pintas untuk memb

