Aini duduk di tengah kedua temannya seperti akan diadili karena melakukan kesalahan dan harus dihukum berat untuk menebus kesalahamnya.
"Apa? Kenapa kalian melihatķu begitu?" Tanya Aini merasa aneh melihat temannya,
"Kamu tau tidak itu siapa" tanya Lia,
Aini hanya mengangguk tanda bahwa ia tau siapa Dave, "tau nona Liaaa" jawabnya dengan menekan dan sengaja memperpanjang bacaan huruf terakhirnya,
"Lalu?"katanya lagi...
"Apanya yang lalu?" Balik Aini bertanya sebab ia memang tidak paham maksud perkatan Lia.
"Kamu gak bodoh kan Ni? Atau emang pura-pura doang?" Tanya Salsa gemas,
"Apanya sih? Aku tuh gak ngerti kalian bahas apa," ucap Aini,
"DAVE" ujar mereka bersamaan,
"Oh" gumam Aini pelan, sambil mengangguk,
"See" ucap Lia,
"Cuma itu? Demi apa!" Seru Salsa kesal,
"Kamu ga b**o kan Ni, atau emang beneran lagi lemot? Kamu kenapa sih?" Kesalnya menempelkan telapak tangannya ke kening Aini, "gak panas kok" ujarnya lagi,
"Isss.. apaan sih" Aini sebal dan menghalau tangan Salsa,
"Ya kamu yang kenapa,? Kamu kenapa bisa sam Dave, kamu tau siapa dia kan? Di mana kamu bertemu dia, AINI" tekan Lia mencoba mengintimidasi,
"Oh, sabar dong. Aku minum dulu jusnya. Entar aku cerite deh," ujarnya santai.
Aini bukan tidak tau bahwa kedua temannya penasaran tapi memang dasar kadang jiwa isengnya muncul sekalian aja dia mengerjai kedua temannya agar kesal. Kadang mereka kesal membuat hiburan tersendiri untuknya,
"Uh.. kenyang deh" ucapnya kemudian mengerlingkan sebelah matanya kepada temannya,
"Begini, aku akan mulai oke. Tapi kalian jangan menyela," ujarnya
"Oke" ucap Lia,
"Siap" seru Salsa karena semangat.
"Pertama aku gak pernah tau siapa Dave,..." dia menjeda sejenak lalu melanjutkan, "kedua Pak Juna menawarkan aku magang di perusahaan temannya.
Memang benar dia tidak tau siapa Dave dan Pak Juna yang menawarkan namun mereka bertemu bahkan tidak dalam keadaan formal atau di kantor. Pertemuan yang menegangkan dan memalukan, tentu saja untuk Aini tidak untuk pria seperti Dave,
Ketiga, aku bertemu dengannya ketika Leo mengejarku dan terus menggangguku" lanjutnya, sebelum dia sempat meneruskan ucapannya,
"APA. KAPAN?" tanya kedua temannya bersamaan,
Aini hanya mengangguk, "ia waktu sehari setelah dia bertemu dengan kita berdua Sa, keesokan harinya aku mengantar surat rekomendasi magang serta dokumen yang dibutuhkan. Lalu, di jalan tidak sengaja bertemu dia. Dia mengancamku dan hampir saja aku kenapa-napa jika tidak ada Dave saat itu, aku bahkan tidak ingat itu Dave karena tidak terlalu melihat wajahnya," terang Aini,
"Lalu?" Sambung Lia,
Aini yang paham pun melanjutkan, " ia lalu aku tidak tau bagaiman ceritanya bertemu bahwa pak Juna di cafe biasa.
Memang dia kan tidak tau bisa bertemu Juna di cafe itu yang ternyata bersama dengan Dave,
Dan kalian tau, temannya itu adalah Dave, dan tidak taunya si Dave malah menagih utang karena sudah menolongku. Awalnya aku tidak tau tetapi dia mengingatkanku akan kejadian itu, akhirnya aku ingat siapa dia" jelasnya sambil mengamati kedua temannya,
Ia ingin tau bagaimana reaksi kedua temannya.
"Ternyata Marsha mantan Dave dan Leo ada di sana menyapa kami, dan Dave setelah tau bahwa Loe bermasalah denganku pun bersandiwara di depan mereka dengan mengatakan bahwa aku pacarnya, yang sudah bertunangan," ujarnya lagi menambahkan,
"Wow. Ini namanya takdir" ucap Salsa tersenyum menggoda,
"Ia, ini seperti di sinetron yang ternyata kamu alami sendiri tapi bukan bagian itu yang aku tanyakan. Kenapa akhirnya kalian bisa di sini,?" Tanya Lia,
"Oh, itu aku ternyata magang di kantor Dave dan yang direkomendasikan pak Juna padaku adalah Dave," jelasnya,
"Dan aku juga ingin bercerita pada kalian bahwa aku tinggal di apartemen Dave untuk beberapa hari ke depan" ujarnya.
"Kenapa? Kamu ada masalah?" Tanya Lia,
"Tidak apa-apa Ni, kalau bisa kamu poroti aja dia. Mana tau dia nikahi kamu" kerling Salsa,
"Ya gak dong. Dia ngaku jadi tunanganku aja aku udah bingung banget, gimana kalau media tau. Dia terkenal lo," ucapnya sendu
"Ya gak apa-apa dong. Buat dia suka sama kamu beneran" kata Salsa memberi semangat,
Lia yang kesal menyenggol lengannya dan menatap Salsa tajam, "canda" ujar Salsa, "just kidding, tapi kalau beneran gak apa kok" cengirnya lagi,
"Gak usah ngada-ngada deh," kesal Lia, "sekarang Aini nih, tanya kenapa" katanya membalikkan topik pembicaraan,
"Ia,aku bertengkar dengan papa, kalian gak usah kasih tau siapapun aku di mana ya. Aku malas balik kalau ternyata tante Niar terus yang dipercaya," jelasnya,
Aini bukan tidak tau kalau selama ini banyak kebohongan yang disembunyikan tante Niar tapi tetap saja papanya tidak akan percaya padanya.
Entah karena alasan apa dulu ayahnya meninggalkan dia dan ibunya. Bahkan ibu pernah bercerita bahwa masih mengandung dirinya saja ayahnya sering meninggalkan ibunya padahal dulu mereka menikah karena cinta kan? Apakah karena ibunya anak yatim piatu? Sampai begitu terhinanya dia bahkan ayahnya meninggalkan mereka.
"Ni, jangan sedih dong. Kita gak akan cerita kok, tenang aja. Janji" kata Salsa sambil memeluk Aini setelah dia berpindah dari duduk di samping temannya itu,
"Ia. Tenang aja. Kamu aman. Kalau mau tinggal di rumah juga bisa. Kamu tau kan rumah sepi kok. Apalagi di tempat Salsa," ujar Lia menjelaskan,
"Ia apalagi orang di rumah juga mengantar adikku kan" ujarnya,
"Tapi kalau kamu emang nyamannya di tempat Dave ya gak apa," ujar Salsa.
"Kita selalu mendukungmu kok," tambahnya lagi.
Aini hanya mengangguk mengiyakan ajakan dan saran kedua temannya. Akhirnya mereka bertiga berpelukan sampai Dave datang ke kantin,
"Kamu sudah siap? Ayo pulang" ajaknya,
"Dave, kenalkan ini temanku" kata Aini memperkenalkan keduanya,
"Salsa"
"Dave"
"Lia"
Setelah berkenalan mereka berempat menuju parkiran kampus, dan berpisah di sana
"Duluan ya Li, Sa" kata Aini, "makasih buat hari ini" ucapnya tulus
"Oke"
"Sama Ni," ujar mereka bersamaan.
Mereka sudah di dalam mobil dengan Dave duduk di kemudinya,
"Cerita apa aja ke mereka?" Tanyanya,
"Tidak ada, hanya cerita biasa antar wanita" ucapnya,
"Antar wanita ya?" Kata Dave sambil berpikir,
"Biasanya wanita akan menceritakan pria idaman, idola dan pernikahan impian" katanya lagi,
"Hem.. biasanya. Tapi tidak semua" jelas Aini,..
"Atau kalian menceritakanku" tanya Dave,
Aini yang mendengarpun terkejut, bagaiamana Dave bisa tau pikirnya. Apa dia cenayang? Ah,sudahlah. Bukankah dari semalam dia sudah bisa menebak pikiranku, batinnya.
"Tidak. Untuk apa kami menceritakan kamu? Tidak penting sekali" ucapnya mencebik,
"Hahaha.. mana tau" ujarnya
"Ah, sudahlah. Aku lelah" katanya,
"Kamu mau ke mana? Ada acara lagi kah?" Tanya Dave,
Aini menggeleng bertanda tidak ada.
"Mau langsung pulang ke apartemen?" Tanyanya,
"Kamu mau ke mana?" Tanya Aini,
"Tidak kemana-mana. Tapi jika kamu belum ingin pulang, ayo bermain sejenak." Ujarnya,
Aini berpikir di apartemen pun belum tentu ada yang bisa dia kerjakan melihat apartemen itu cukup rapi untuk ditinggali seorang pria lajang. Otomatis pasti akan ada asisten yang membersihkan, pikirnya.
"Ayo" katanya semangat.
"Let's go" ucap Dave, melajukan mobilnya,
***