Pemuda Pewaris Elemen Api

791 Words
"A-aku bisa menjelaskan semuanya.. Tolong jangan bunuh aku. Ini adalah akal muslihat Wang Yan." Yang Shao pucat, tangannya menuding sosok yang kaku itu. Yang Shao menambah kesan sedih. Ia menangis tersedu-sedu. Padahal, kelakuannya sebelum ini seperti orang dewasa. Keji dan jahat. Tapi kini ia terlihat seorang anak remaja usia 14 tahun. Kesombongan dan kekejaman sirna. Petir menggelegar, kilat menyambar. Air hujan semakin deras, suara gemericiknya tak menghalangi niat membunuh di hati Li Wei. Entah mengapa, ada sesuatu energi gelap di melingkup dibenaknya, itu membuat dia berubah kejam. Li Wei maju, melangkah dua tindak. Makin dekat ke arah Yang Shao. Anak itu semakin melolong. Takut kejadian serupa Wang Yan, menimpa dirinya. Tapi suaranya terendam gemericik air hujan, memantul-mantul di atas jembatan Yunxiu Qiao. Li Wei berbisik lirih. Nyaris tak terdengar sama sekali. "Semoga di kehidupanmu yang akan datang, bereinkarnasi menjadi sosok yang lebih baik." Yang Shao melotot. Sandiwara berpura-pura sedih hilang sudah. Tangan Li Wei terulur. Bagian lantas tubuhnya terasa panas. Tapi itu tidak lama. Ia bahkan tak sempat menjerit. Li Wei menyentuh dadanya, lembut, dengan akibat yang tak terduga. Bagian d**a Yang Shao berubah berwarna hitam. Bentuknya menyerupai telapak tangan. Dada Yan Shao hangus oleh energi api di telapak tangan Li Wei. Kini semua berakhir sudah. Li Wei menghirup udara dalam-dalam. Beberapa tetes air masuk ke hidung, membuatnya batuk-batuk. Tapi dia tidak peduli. Rasanya lega, menghabisi nyawa orang yang menindas dan menghina ayah dan ibunya. Sejurus kemudian, seiring dengan gelagar Guntur di langit, Li Wei tersentak. Dia kaget. Ia seperti orang tersadar dari keadaan kesurupan. "Apa yang aku lakukan? Apakah dua orang ini mati di tanganku?" Li Wei gemetar. Ia tak percaya kalau dirinya mampu membuat tewas dua anak muda itu dengan mudah. Tapi kenyataan di depan mata. Dua jenazah adalah bukti. Jenazah k kaku, membeku di bawah tetesan hujan. Li Wei melirik ke kiri dan ke kanan. Tak ada seorangpun yang lewat. Tak ada saksi mata Hujan masih deras, Li Wei berlari pulang ke rumahnya, di perkampungan kumuh. Di rumahnya, Wei Fang bibinya telah menunggu. "Anak bodoh kamu akan jatuh sakit. Hujan begitu deras dan udara sangat dingin. Hangatkan tubuhmu, lalu minum sup buatanku." Wei Fang menyodorkan sehelai kain. Li Wei mengambil dan membersihkan air yang mengalir di rambut dan sekujur tubuh. Sesudahnya berganti pakaian baru, lalu duduk-duduk di depan perapian, menghangatkan badan. "Minum ini sup buatanku adalah kesukaanmu. Jangan biarkan dirimu jatuh sakit."Wei Fang terdengar prihatin. "Kedepannya, akan banyak pekerjaan menanti. Permainan musik Erhu-mu sudah terkenal di kota ini." Li Wei menyesap kaldu daging itu. Cairan hangat mengalir melalui tenggorokan dan menghangatkan perutnya. Pikirannya kembali jernih. "Aku telah membunuh dua anak muda itu. Apakah ini berarti aku akan menjadi buronan?" Li Wei kini mulai takut. Hingga malam menjelang hujan tak kunjung reda. Hatinya tenang setelah hingga tengah malam, tak ada gedoran di pintu rumah. "Itu berarti aku aman. Memang tak ada saksi mata, yang akan memberatkanku." Ia pun jatuh tertidur. Semua beban di pikirannya lepas sudah. Sekarang dia tertidur pulas. Keesokan hari nya. Li Wei mengenakan baju seragam yang dibagikan penjahit Wang, dari Sekolah Beladiri Jalur Merpati. Ketika melintasi jembatan Yunxiu Xiao, ia melihat banyak orang berkerumun. Semua sibuk berbicara dengan wajah serius. Tapi sosok jenazah Yang Shao dan Wang Yan, tak lagi disana. Dengan berdebar-debar Li Wei mendekati kerumunan itu. "Konon tabib yang memeriksa berkata, d**a dua anak muda itu hangus tersambar petir!" Ada yang membantah. "Benarkah? Tapi yang aku dengar, wujud hangus di d**a mereka, bentuknya mirip telapak tangan. Seorang ahli mengatakan bahwa itu perbuatan seseorang pada tingkat tinggi kultivasi beladiri." Dua kata-kata itu telah membuat hati lebih mencelus. Tapi untungnya mereka menyangka itu perbuatan seorang seniman beladiri tingkat tinggi. Tak mungkin akan curiga pada seorang bocah lemah seperti dirinya. Li Wei baru akan meninggalkan kerumunan itu, ketika satu pembicaraan menarik perhatiannya. Dia pun berbalik dan ikut dalam kerumunan mendengar penjelasan itu. "Ini adalah teknik yang hanya dapat dilakukan oleh ahli penguasa elemen dunia. Menurut pandanganku, yang membunuh dua anak muda itu adalah seorang jago, Pengendali Elemen Api." Suara ribut terdengar. Semua orang terkejut. "Pengendali api?" "Bukankah kemampuan seperti itu, telah lama menghilang dari Benua Longwu kami? Para Sage dan Manusia Setengah Abadi, sudah ratusan tahun hilang eksistensinya dari benua ini? Apakah ini pertanda kebangkitan para Sage? Apakah perang akan dimulai, mengulangi kejadian ratusan tahun lalu?" Semua orang ribut dan ketakutan. Mendengar nama Sage serta pengendali api, itu membuat pikiran kembali pada masa kekacauan ratusan tahun yang lalu. Pagi terasa dingin. Angin bertiup, membuat tulang terasa rontok diiris hembusan dingin. Tapi tiada yang sedih sedingin hati Li Wei. Apakah hal yang dilakukannya, itu perbuatan seorang pewaris pengendali api? Apakah mutiara energi yang diwariskan Naga Longxu itu, telah mengubahnya menjadi seorang Pengendali Api? Calon Sage? Anak itu berjalan cepat, menuju Sekolah Beladiri Jalur Merpati dengan tidak bersemangat. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD