Pagi yang cerah, ketika matahari tampak hangat bersinar dan memancarkan cahaya yang terasa lembur, jatuh di antara dedaunan persik di hutan utara Kota Shuimiao.
Li Wei melangkah dengan hati-hati, berharap menemukan sumber daya yang ia butuhkan. Meski hutan ini telah digambarkan sebagai tempat yang menyeramkan oleh banyak orang, hingga sejauh ini ia hanya bertemu dengan makhluk-makhluk kecil seperti kelinci. Dan semua makhluk itu tampak jinak dan tidak takut padanya.
"Menurut petunjuk Tuan Erkin, semua tanaman yang saya butuhkan berada di dalam jantung hutan. Meskipun ada resiko bertemu dengan penjaga hutan dari Benteng Musim Semi, sepertinya saya tidak punya pilihan lain," pikir Li Wei.
Li Wei terus berjalan, dan hingga hari menjelang siang, dimana ia hanya bertemu dengan hewan-hewan hutan biasa. Tak ada tanda-tanda makhluk supernatural seperti magical beast atau mahluk spiritual, apalagi para penjaga dari Benteng Musim Semi, seperti yang banyak orang ceritakan.
Tatkala rasa cemas memudar, dan kewaspadaan itu mulai kendor dan udara semakin panas seiring matahari bersinar terang, tiba-tiba Li Wei mendengar suara gemericik air yang menggoda, membuat ia ingin meneguknya dan menceburkan diri kedalam aliran air tersebut. "Apakah itu benar adalah suara air?" Li Wei yang kehausan langsung mencari sumber suara gemericik air tersebut.
Tak lama kemudian, ia menemukan sumbernya. Aliran air deras yang tampak jernih, di kelilingi pepohonan hijau dan daun-daun lebat, itu adalah pemandangan nirawan baginya saat itu
"Ah, betapa air sungai yang jernih," ucap Li Wei.
Ia lalu melangkah, berjongkok dan meneguk tetes demi tetes air Sungai jernih yang ia tamping dengan dua telapak tangan. Li Wei memejamkan mata sambil menikmati minuman segar tersebut. “Ini nikmati surgawi yang tiada tara, air jernih Pelepas dahaga!”
Ketika si anak muda Tengah asyik dengan meneguk cairan jernih itu, mendadak satu suara lembut terdengar di telinganya.
"Hihihi... Kamu sungguh anak muda yang lucu."
Li Wei terkejut!
Spontan kepalanya menoleh kekiri dan kenana. Ia mencari-cari sumber suara itu.
Dan ketika matanya tertumbuk pada sumber suara itu, Li Wei terbelalak.
Tampak seorang gadis yang amat elok berdiri di tengah sungai di antara aliran air yang deras, namun ia tidak terbawa arus.
Bahkan, ia tenggelam pun tidak.
Gadis ini tampak sangat aneh, kecantikannya bahkan lebih dari kecantikan manusia biasa. Ia seperti seorang peri dari negeri dongeng yang menjadi nyata.
Dengan wajah memerah karena malu melihat kecantikan itu, Li Wei bertanya gugup.
"S-siapa kamu? Apakah kamu seorang bidadari di hutan persik ini?" tanya Li Wei dengan takjub.
Gadis itu mengangguk dan tertawa lembut.
"Tentu saja, aku adalah seorang Nymph, makhluk hutan yang terkenal. Namaku Phapia. Apakah kamu tidak tahu siapa aku?" Phapia tampak melambai-lambai, dan dari tangannya tak terlihat ada energi sihir yang merayap dan berkeliling di sekitar anak muda itu.
Li Wei terpesona oleh kecantikan luar biasa Phapia. Ia tampak seperti linglung.
Tapi siapakah yang dapat menahan godaan melihat sosok cantik, dengan rambut emas, mahkota bunga, dan pakaian sutra itu? Phapia tampak terlalu cantik untuk ukuran manusia biasa.
Phapia yang telah memikat Li Wei lebih jauh saat dia berkata, "Kemarilah mendekat anak muda. Biarkan Phapia mendengar cerita-ceritamu. {{hapia adalah pendengar yang baik. Juga, apapun yang kau inginkan, pasti akan Phapia penuhi."
Sihir! Dan Li Wei tak menyadarinya.
Li Wei mulai merasa seperti terhipnotis oleh pesona sihir Phapia, bertanya dengan bodoh.
"Apakah kamu akan menolongku? Aku mencari Daun Kemangi terbelah dua, Bayleaf Pemimpi, dan Kacang Polong Berdaun Merah di hutan ini," jawab Li Wei dengan mata terpesona.
Namun, dia tidak menyadari bahwa dia semakin dalam terperangkap dalam pesona sihir Nymph.
Li Wei tanpa sadar telah berjalan perlahan-lahan menuju tengah sungai yang deras dan dalam, ia terhanyut oleh daya tarik Phapia.
Wajah Nymph itu terlihat semakin rakus, ketika ia melihat mangsanya akan masuk dalam perangkapnya.
"Sekarang, makin mendekat, anak muda," kata Phapia sambil melambai-lambaikan tiga jenis tanaman yang dipegangnya. Dimata Li Wei itulah barang yang ia cari, tapi sesungguhnya itu tak lebih dari tiga helai dedaunan kering.
"Daun Kemangi terbelah dua, Bayleaf Pemimpi, dan Kacang Polong Berdaun Merah. Inilah yang kau cari, bukan?" senyum licik menghiasi wajahnya saat Li Wei semakin terperangkap dalam pesonanya. Dia menceburkan diri dan siap untuk tenggelam Bersama Paphia.
BYUR! Saat ini, air telah setinggi batang hidung Li Wei. Ia langsung kehabisan oksigen.
Bersyukur secara tiba-tiba, suara cambuk memecah keheningan.
TAR! TAR! TAR!
Sebuah tali rami kasar, seketika membelenggu dua tangan Li Wei dan menariknya keluar dari sungai dengan kekuatan yang kuat. Li Wei Hampir mati, saat itu langsung megap-megap setelah bisa menghirup oksigen lagi.
"Kembali!" bentakan keras menyertainya ketika tubuh Li Wei terhempas ke bibir sungai. Itulah suara sang pengendali cambuk yang menyelamatkan Li Wei.
Sementara itu, Paphia sang Nymph Tengah dilanda angkara murka. Korbannya yang sudah didepan mata, siap untuk disantap, tiba-tiba lolos oleh seorang yang ia kenal.
"Verna! Apa yang kamu lakukan? Kamu telah campur tangan berkali-kali dan menggagalkan semua upayaku untuk memangsa manusia!" Phapia, yang sebelumnya tampak cantik, kini berubah menjadi sosok yang mengerikan.
Wajahnya penuh dengan tatapan bengis, matanya berkilau dengan kekejaman, dan rambutnya yang panjang bergulung seperti tali rami. Ia terlihat kisut dan menua.
Sosok yang datang untuk menyelamatkan itu Li Wei balas memaki Paphia, "Cih! Kamu adalah Nymph paling tidak tahu malu yang pernah aku kenal. Kamu terus-menerus menipu manusia, menjebak mereka dengan sihir, dan akhirnya menyantap mereka. Kamulah alasan mengapa hutan Persik ini harus dijaga ketat oleh para ahli dari Benteng Musim Semi."
Meskipun Li Wei mungkin dalam pengaruh hipnotis, ia tetap sadar.
Sosok yang memegang tali rami dan menyelamatkannya adalah seorang wanita cantik yang tidak kalah mempesona. Meskipun pakaian yang dikenakannya sederhana, itu tidak bisa menyembunyikan kecantikan alaminya.
Perbedaan utama adalah bahwa aura perempuan ini terasa positif dan ramah. Sementara Phapia mengendalikan kekuatan air, sosok ini adalah seorang Dryad yang mengendalikan kekuatan tanaman dan tumbuhan.
Phapia mencoba menyerang Verna dengan air yang meluap, tetapi Verna menghadapinya dengan tenang. Dia menggerakkan tangannya dan ribuan daun muncul, membentuk perisai alam yang menghentikan serangan air mematikan itu.
Setelah beberapa saat, Phapia kehabisan tenaga dan terpaksa menghentikan serangannya. Verna melihatnya dengan tatapan menghina dan berkata, "Apakah kamu sudah selesai? Aku tidak menyangka kemampuanmu hanya sebatas itu. Sekarang giliran ku. Rasanya tidak adil jika hanya kamu yang menyerang."
Verna melambaikan tangannya, dan ribuan daun kecil melesat dengan cepat ke arah Phapia di tengah sungai. Daun-daun ini adalah senjata rahasia yang mematikan, karena masing-masing mengandung energi nebula yang mematikan.
Phapia terpaksa melakukan atraksi salto untuk menghindari serangan itu. Meskipun ia berhasil melepaskan diri, beberapa daun masih melukai tubuhnya. Akhirnya, Phapia terjun ke dalam air dengan keadaan yang kacau dan penuh luka.
Dengan rasa marah, Phapia mengancam, "Urusan kita tidak berakhir di sini. Aku akan membalas dengan lebih kejam!"
Nymph itu lalu menyelam dan menghilang tanpa jejak.
Li Wei mulai tersadar setelah pengaruh hipnotis Phapia hilang bersama dengan pergi Nymph itu. Ia menatap Verna, Dryad yang telah menyelamatkannya, dengan wajah penuh tanda tanya.
"S-siapa Anda? Dan kemana sosok perempuan cantik tadi?" tanya Li Wei pada Verna sang Dryad yang berdiri di depannya.
Verna tersenyum lembut, "Aku adalah Verna, seorang Dryad yang menjaga hutan ini. Dan sosok cantik tadi adalah seorang Nymph bernama Phapia. Dia sering mencampuri urusan manusia dengan cara yang kurang baik, dan aku berusaha melindungi mereka dari tipu dayanya."
Li Wei mengangguk mengerti, "Terima kasih, Verna, karena menyelamatkan saya dari pengaruhnya. Aku hampir menjadi mangsanya."
Verna melirik ke hutan sekitarnya, "Kita sebaiknya segera pergi dari tempat ini sebelum Phapia Kembali dengan kawanannya. Hutan ini tidak selalu aman."
Mereka berdua memulai perjalanan keluar dari aliran Sungai yang rimbun dengan tanaman itu. Li Wei tidak menyadari bahwa petualangannya baru saja dimulai.
BERSAMBUNG