Kediaman keluarga Windsor.
Di kamar Clara...
"Rino tidak boleh membiarkannya pergi sendirian, meskipun dia bersama teman-temannya. Aku harus menelepon Rino," kata Clara, meraih ponselnya dengan cemas.
Stanford University.
Masih di taman kampus...
"Clara meneleponku? Ada apa? Angkat saja telepon dari Clara, siapa tahu ada hal penting," gumam Rino, melihat nama Clara tertera di layar ponselnya.
Percakapan Rino Windsor dan Clara Windsor melalui telepon :
Clara Windsor : Tidak, Rino! Jangan biarkan dia sendirian, meskipun dia sedang bersama teman-temannya sekarang.
Rino Windsor : Ya, kau benar, Clara. Aku akan ke ruang dosen dulu untuk mengambil kunci mobilku.
Clara Windsor : Okay...
Nut... Nut... Nut...
Sambungan telepon keduanya pun terputus.
"Aku harus ke ruang dosen sekarang," kata Rino, bergegas pergi.
Di ruang dosen lagi...
"Mr. Rino Windsor," panggil Pak Roy, salah satu dosen senior.
"Yes, Sir, why?" tanya Rino, terlihat sedang mencari kunci mobilnya dengan terburu-buru.
"Ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda, tapi sepertinya Anda sedang terburu-buru. Jadi, saya bicarakan besok saja, Sir," jawab Pak Roy.
"Okay, Mr. Roy, saya akan kembali ke kampus nanti. Tidak perlu dibicarakan besok. Permisi, Mr. Roy," kata Rino, baru saja menemukan kunci mobilnya.
"Oh, okay, Mr. Rino Windsor," sambung Pak Roy.
Di depan ruang dosen...
"Semoga tidak terlambat," kata Rino, berlari mengejar Della ke parkiran mobil.
Di parkiran mobil...
"Itu dia! Dia sudah masuk ke dalam mobil dan juga dia sudah bersiap-siap untuk pergi ke toko buku," kata Rino, melajukan mobilnya, mulai mengikuti Della pergi ke toko buku.
Di toko buku...
"Ini dia buku yang kita cari," kata Natalia, menemukan buku yang dimaksud.
"Della, ini satu untukmu," sambung Ricky, memberikan buku itu padaku.
"Terima kasih. Ehm, saya mau cari buku yang lainnya. Bisa tolong tunggu sebentar?" pintaku.
"Of course, we will wait here," kata Ricky.
"Saya mau mencari beberapa buku lain juga di sini," sambung Natalia.
"Oh, okay, then we'll meet at the cashier later," kataku.
"Okay..." sorak Natalia dan Ricky.
Aku berjalan menyusuri rak buku, mencari novel percintaan. "Buku novel percintaan di mana ya? Nah, ini dia! Ya ampun, tinggi lagi, tidak sampai. Duh, padahal saya ingin..." kataku, terpotong oleh suara seorang pria.
"Ini bukunya," kata Rino, tiba-tiba muncul di sampingku.
"Terima kasih, Mr. Rino..." kataku, terkejut melihatnya.
"Iya..." jawab Rino singkat, membuatku semakin terkejut dengan kedatangannya secara tiba-tiba.
Dari kejauhan, Natalia berbisik pada Ricky, "Lihat! Mr. Rino Windsor dan Della bersama lagi. Bagaimana kalau kita jodohkan mereka berdua?"
"Impossible, Natalia! Come on, let's go to the cashier," sambung Ricky, tidak setuju.
"Okay..."
"Kamu suka membaca buku novel percintaan?" tanya Rino, mengalihkan perhatianku.
"Iya, Pak Rino Windsor," jawabku.
"Panggil Rino saja kalau di luar kampus. Satu lagi, tidak perlu panggil saya dengan nama lengkap," kata Rino, tersenyum tipis.
"Oh, oke, baiklah Pak Rino Windsor, em, maksud saya Rino," sambungku, salah tingkah.
"Oh ya, kamu bersedia tidak menemani saya pergi berbelanja setelah dari toko buku?" tanya Rino.
"Iya, Pak, saya bersedia. Tapi Natalia dan Ricky bagaimana? Saya tidak enak meninggalkan mereka, sedangkan saya pergi dengan mereka," jawabku, merasa bersalah.
"Oke, serahkan saja padaku. Biar saya yang akan berbicara pada mereka, bagaimana? Setuju?" tawar Rino.
"Oke, setuju..."
"Della, there's Mr. Rino too," kata Natalia, berpura-pura tidak mengetahui keberadaan Rino.
"I also didn't know that Mr. Rino was here too. Earlier, he also helped me get this book," jawabku.
"Oh..." kata Natalia dan Ricky bersamaan.
"Oh yeah, you two don't mind if I take you for a walk today, Della?" tanya Rino pada Natalia dan Ricky.
"Yes, Mr. Rino, of course, you don't mind, Mr. Rino. I said earlier that I borrowed Della, and now I'm returning Della to Mr. Rino. Isn't that right, Natalia?" tanya Ricky.
"That's right, Ricky. Okay then, let's go first, Mr. Rino, Della," jawab Natalia.
"Okay..." kataku dan Rino bersamaan.
"Okay, let's go to the mall now," ajak Rino, menggandeng tanganku, pergi dari toko buku.
"Yes, Mr. Rino," kataku.
Saya pun pergi ke mall bersama Rino. Di mall, saya tidak sengaja melihat ke cermin dan bayangan Rino di cermin tidak ada. Itulah yang membuat saya takut, saya juga berpikir bahwa Rino bukanlah manusia.
Rino juga tidak ikut makan siang bersamaku. Setelah berbelanja, Rino mengantarku pulang ke rumah.
Lalu saya bertemu dengan tetangga yang menurutku juga sangat aneh ketika bertemu dengan Rino dan saya.
Tetangga saya bernama Dion, dia anak dari Mr. Evans dan Mrs. Evans, teman ayah dan ibu.
"Hi Della.." sapa Dion.
"Yes, oh hi Dion." sapa Della juga.
Dion tertegun melihat Rino bersama Della. Vampir? Apa yang dia lakukan di sini? batin Dion, matanya menyipit curiga.
"Dion?" Della melambai di depan wajah Dion, membuyarkan lamunannya. "Kau tidak apa-apa?"
Dion tersentak. "Ah, ya, aku baik-baik saja."
"Kau yakin? Kau terlihat aneh," tanya Della, khawatir.
"Tidak apa-apa," jawab Dion singkat.
Rino menatap Dion dengan waspada. Manusia serigala. Sial! Kenapa aku harus bertemu dengannya di sini.
Della memperhatikan tatapan aneh antara Dion dan Rino. Ada apa dengan mereka berdua? Atau hanya perasaanku saja?
"Aunt Della...." panggil David.
"Yes oh hi David." sapa Della.
Kedatangan David sedikit meredakan ketegangan antara Dion dan Rino. Tatapan tajam mereka beradu, menciptakan suasana yang tidak nyaman.
"Hi Uncle Dion.." sapa David riang.
"Oh hi David." sapa Dion.
"And.. Who is this Uncle, Auntie?" tanya David penasaran.
"Paman? Oh, maksudmu dia? Dia adalah dosenku di kampus," bisik Della pada David.
Rino tersenyum tipis melihat Della berbisik.
"Oh.." seru David.
"Yes.." seru Della juga.
"I'm sorry sir, I didn't know you were a teacher." David meminta maaf pada Rino.
"Sorry, why are you apologizing to me?" tanya Rino.
"Because I have called you uncle." jawab David.
"It's okay." kata Rino.
"Oh yeah Della, I forgot something, is Uncle Dominic there?" tanya Dion.
"Dad, huh? I don't know, I just got home. You can ask David directly." jawab Della.
"David.." panggil Dion.
"Yes Uncle, I know what you're going to ask me. Grandpa, right?"
" Yes, right.."
"He was at home, helping his great-grandfather and my father."
"Ok.." seru Dion.
"Why uncle?"
"No, I'm just asking because I was told to bring this to your grandfather and grandmother." Dion menunjukkan bungkusan yang dibawanya. "Kiriman dari Nenek dan Kakek Evans."
"Oh, a gift from Grandma Evans and Grandpa Evans."
"Yes.."
"Okay then, just go straight to the house, why is Uncle Dion here?"
"Okay, okay.. Della."
"Yes Dion, what's wrong?"
"I went into your house first."
"Oh yeah.."
"Bye.."
"Bye.."
"Okay Della then see you tomorrow at campus, I'll take my leave and go home." pamit Rino, senyumnya hanya mencapai mata.
"Okay.."
"Bye.."
"Bye.."
"Hey little one, where are you going? Let's go home." ajak Della.
"But auntie.."
Della mencubit pipi David gemas. "Kenapa tante, tante? Ayo pulang sekarang, atau tante adukan ke Nenek kalau kau sedang kasmaran dengan teman sekelasmu, ya?" goda Della.
Mata David membulat. "Darimana tante tahu?"
"Ada deh.." jawab Della misterius.
"Apakah tante membaca buku di meja belajarku?"
"Kepo nich bocah, ayo pulang!" Della menarik tangan David.
"Iya iya.." kata David patuh.
Saya dan David pun masuk ke dalam rumah.
"Good afternoon everyone, Della is home." Della mencium punggung tangan neneknya.
"Good afternoon my beautiful granddaughter." Mrs. Daniel membalas pelukan Della.
"Where are grandpa and grandma?" tanya Della, melepas sepatunya.
"He's inside, oh yeah Della. Who was the man you were in the car with earlier?" tanya Mrs. Daniel dengan nada menyelidik.
"Oh, that's Mr. Rino, Grandma. Mr. Rino is a lecturer at Della's campus, Grandma." jawab Della santai.
"What's his full name?" tanya Mr. Daniel, yang tiba-tiba muncul dari ruang tengah.
"Mr. Rino Windsor, Grandpa.."
Kakek Della mengerutkan kening. "Windsor? Kakek kenal ayahnya. Mr. Windsor itu dokter." Dia menatap Della dengan tatapan serius. "Apakah dia pacarmu?"
Della tertawa. "Pacar? Bukan, Kakek. Dia memang tampan, tapi dia dosenku. Aku baru bertemu dengannya di kampus."
"Jangan meremehkan takdir, Della. Kakek bisa merasakan kalian berdua ditakdirkan bersama. Cepat atau lambat, kalian akan menjadi kekasih."
"Don't be like that, Grandpa. Aunt Della finds it very difficult to fall in love, which is why she doesn't have a boyfriend yet. Look at her old school friends who are already married and have children, while Aunt Della..." David menyeringai menggoda.
"David..!! Mom.." Della melotot, memperingatkan keponakannya.
"David, you.." kata Kevin, ayah David, mencoba menengahi.
"Okay Dad.." sambung David, mengangkat kedua tangannya menyerah.
Kediaman Keluarga Windsor.
Di balkon, Rino menyesap teh herbalnya, menatap langit senja.
"Hi handsome, how was your day today at campus?" goda Mike, kakak Rino.
"My day today, is very good." jawab Rino, tersenyum tipis.
"Hi my handsome brother." sapa Clara, adik perempuan Rino, sambil memeluknya dari belakang.
"Hi too Clara." sapa Rino juga.
"Do you know what his name is?" tanya Mr. Windsor, tiba-tiba muncul di balkon.
"Yes, I know, Dad." jawab Rino lagi.
"And his name is Della Adiningrat, right my son?" tanya Mrs. Windsor, yang juga ikut bergabung.
Rino terkejut. "Yes mom, wait, how did you know her name was Della Adiningrat?"
"Your older sister." jawab Mrs. Windsor misterius.
"Clara.." Mike menambahkan, menyeringai.
"Mariam.." kata Clara.
"Yes, our second younger sister, Clara." sambung Rino, masih bingung.
"Mom will greet her, and I'll come downstairs to greet her too, okay? Come on, Alex, let's go downstairs to greet our daughter, her husband, and her child." pinta Mrs. Windsor, bersemangat.
"Okay, Mom.." kata Clara, Mike dan Rino patuh.
Di depan rumah keluarga Windsor...
Sebuah mobil berhenti di depan rumah mewah keluarga Windsor. Mariam keluar dari mobil, diikuti oleh suaminya, Ben, dan kedua anak mereka, Alina dan Peter.
"Come on, my husband, my son, and my daughter. Mom, I'm home." ajak Mariam, melangkah masuk ke halaman rumah.
"Okay.." ajak Ben juga.
"Grandpa, we're home." kata Alina dan Peter bersamaan.
"We're coming, darling.." sambung Mr. Windsor dan Mrs. Windsor bersamaan, muncul di depan pintu.
Ben tertegun melihat kecepatan keluarga Windsor. "Cepat sekali.." gumamnya dalam hati.
"Kau lupa siapa kami?" tanya Mrs. Windsor, tersenyum mengejek.
"Vampir.." jawab Ben, menunduk hormat.
"Enough mom, dad. Forget him now, where is my handsome brother, my beautiful sister, and my naughty brother-in-law?" tanya Mariam, mengalihkan perhatian.
"It's inside. Come on in." jawab Mrs. Windsor, mempersilakan mereka masuk.
"Okay.." kata Maryam.
Di ruang TV...
"Hi all my brothers and sisters, I'm back." sapa Maryam, memasuki ruang TV.
"Hi too my little sister." sapa Rino juga.
"Hi my beautiful sister." sapa Clara juga.
"Hi Maryam, my sister-in-law." sapa Mike juga.
"Uncle Rino.." Peter dan Alina berlari menghampiri Rino.
"Yes, my beautiful and handsome nephews, how are you?" tanya Rino, memeluk mereka.
"We are fine uncle.." jawab Peter.
"And we always miss you uncle." Alina menambahkan.