“Kau senang, bukan?”
Apa? Tinggal bersama? Apa maksudnya? Dan apakah tadi ia salah mendengar, karena ia mendengar ada kata tentang menikah. Casey merasakan kepanikan menyebar di otaknya seperti api yang melalap kertas dalam sekejap mata. Apa-apaan ini? Sean membuat alarm panik Casey berdenting sangat nyaring hingga Casey sulit berpikir. Setelah ini apa yang harus dilakukannya?
Casey memungut garpunya, Gloria yang berdiri tidak jauh darinya mengambil garpu yang terjatuh itu dari tangan Casey dan memberikannya garpu baru.
“A-aku mohon maaf, tangan ku tergelincir.” Ujar Casey beralasan, lalu menunduk dengan bibir yang mengumpat kata kasar.
Sial, sial, sial, sial. Sialan Tuan muda Blaxton ini! Kenapa ia terus mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal? Bukankah ini hanya tentang mencuri the Oppenheimer? Kenapa ia mengatakan suatu cerita karangan yang tidak perlu seperti pertunangan dan tinggal bersama, lalu semakin gila karena ia juga membicarakan pernikahan? Apakah kebohongan merupakan salah bagian hidup hingga ia tidak bisa lepas dari berbohong?
Casey dan Lexie bertukar tatapan, lalu secara kompak melirik Tom, melihat dan menunggu apa yang akan Tom katakan dan lakukan.
“Te-tentu, kau tunangannya.” Jawab Tom singkat dan tenang namun tak mampu menyembunyikan nada ragunya.
Casey memejamkan matanya dalam seraya berdecak. Ia benar-benar terkena kesialan, benar-benar kacau. Padahal ia baru saja menarik napas lega, ia seharusnya mempelajari nasihat bahwa kita tidak boleh terlalu berharap pada sesuatu. Kau akan merasakan perasaan yang amat sangat sakit saat kau mendapatkan fakta bahwa seuatu yang kau harapkan tidak berjalan sesuai dengan apa yang kau inginkan.
Hati Casey menggusar, Tapi ia juga tidak bisa membiarkan ini terjadi begitu saja ia harus memutar otak untuk memberi tahu Tom rencana Sean, ditambah ia harus lebih dulu menggali informasi tentang Sean dan The Oppenheimer lebih banyak pada Tom. Ia harus mencari kelemahan Sean jika ingin melawannya balik.
Casey memutar otak, ia tetap harus bisa melepaskan diri dan berdiskusi dengan Tom. Ia tidak tahu apa-apa tentang Sean. “Tapi aku harus tetap pulang untuk mengambil baju-“ Casey beralasan.
Dan Sean menggeleng seraya menatapnya, seolah mengatakan bahwa ia tahu Casey hanya mencoba membuat alasan. Casey harus kembali menelan Kecewa dan kesal bulat-bulat, Sean bahkan mencegahnya untuk berdiskusi dengan Tom, ia menyabotase sumber informasinya. Casey menyadari bahwa Sean sedang berusaha membuatnya menjadi tahanannya, membuatnya menjadi kucing rumahan tunduk pada seluruh peraturannya.
“Tidak perlu. Aku mempunyai banyak uang, terlalu banyak hingga aku bingung harus aku kemanakan. Kau tunanganku dan aku memberimu tugas untuk menghabiskan uang-uang itu. Menghabiskan uang adalah pekerjaan wanita, bukan?” ujar Sean tanpa melirik Casey. Tak ada sedikit pun nada ragu dalam ucapannya.
Pria itu lebih memilih menyesap teh nya dengan gerakan anggun, seolah ia bangsawan. Apakah ia pikir ia dewa olimpian? Meskipun Casey mengakui bahwa Sean memang dianugerahi ketampanan dengan rambut kelam yang membuat kita terpancing untuk menyelaminya lalu dibingkai tulang wajah yang tegas mempesona. Tapi apakah karena ia tampan, ia jadi merasa ia bebas melakukan apa saja?
Casey merasakan giginya bergemelatuk. Tidak sama sekali! Seberapa tampan pun seseorang, tapi jika ia menyebalkan, manipulatif, dan berlidah tajam, semua nilai positif yang ia miliki akan hilang.
Lagi, apakah yang baru saja ia ucapkan itu sindiran? Ia mengatakan sesuatu tentang wanita seolah wanita adalah lintah darat. Apakah ia seorang misoginis?
Alis Casey berkedut, dua tangan menggengam lututnya di balik meja makan, berusaha meredam emosinya dengan menggigit bibir, namun dalam hati ia tidak bisa berhenti berdecih. Sombong sekali pemuda di hadapannya ini, Casey jadi penasaran memangnya sebanyak apa tabungannya? Jika ia menjadi orang terkaya di Yokshire mungkin ia akan percaya, tapi ia tak menemukan nama Sean Archer Blaxton di deretan nama orang terkaya di majalah bisnis.
“Kalau begitu saat kalian akan pulang beri tahu aku-“ Tom tidak sempat melanjutkan ucapannya karena Sean kembali menginterupsi.
“Kita yang harus berpamitan pada ayah mu.” Potong Sean yang membuat Casey seketika memandangnya dengan tatapan membunuh. Sean membalas tatapan itu dengan tatapan dingin, seolah bertanya; memangnya apa yang bisa kau lakukan?
Casey tidak bisa menghitung lagi ini keberapa kali, ia mendapat serangan kilat tanpa ampun. Ia benar-benar tak bisa mengelak d******i Tuan muda Blaxton itu. Akhirnya Casey memilih memalingkan wajahnya dari Sean lebih dulu dengan rasa kesal. Selama hidupnya, Casey tidak pernah mengenal kata menyesal. Ia tidak pernah menyesal dengan keputusan yang diambilnya, ia hidup dinamis dan tercukupi dan teratur. Namun sekarang ia tidak menyangka bahwa ia akan merusak kedinamisan hidupnya hanya karena satu orang, Sean Archer Blaxton. Pria penuh kejutan yang selalu memasang jebakan kemana pun Casey melangkah. Dosa apa yang Casey lakukan hingga ia harus berhadapan dengan semacam Sean? Casey memejamkan netra bulatnya. Apakah ini kutukan dari mumi ahmanet? Jika tahu akan seperti ini, harusnya ia melenyapkan saja pemuda ini di ruang koleksi berlian itu.
Casey menghela napas, penyesalan hanya penyesalan. Mengeluh dan menyesali keputusan yang sudah di ambilnya tidak memberinya keuntungan apa pun selain menambah frustasi. Ia tidak memiliki kekuatan untuk kembali ke masa lalu.
“Setelah Break fast kami pergi,” ujar Sean menyelesaikan sarapannya dan mengelap ujung mulutnya dengan napkin putih yang sudah disiapkan. Casey harusnya terkejut mendengar itu, namun ia sudah menutup telinganya. Tidak mu ambil pusing lagi dengan apa yang dikatakan orang itu.
Casey menepikan garpu dan pisau makannya lesu, ia tidak tertarik pada apa pun sekarang. Ia juga tidak bisa memikirkan apa pun.
“AH!”
Namun, seberapa dalam lamunannya hingga membuat ia lengah, naluri bertarungnya bukanlah sesuatu yang dapat diabaikan. Casey hampir saja mematahkan tangan dihadapannya saat tiba-tiba tangan itu menarik wajah Casey dan mengangkatnya hingga mendekat ke wajah sang pemilik tangan. Dalam jarak sorot mata yang dekat, Casey dapat melihat bahwa Sean meringis karena refleks tangannya.
Sean memaksakan sebuah senyum untuk menutupi ringisannya, “Kau selalu berhasil menggodaku. Dimana pun, kapan pun.” Ujar Sean sang pemilik tangan terkutuk yang belakangan membuat Casey meradang karena selalu menggoda bagian bawah dari tubuh bagian depannya. Casey menyipitkan matanya sinis, ingin sekali ia memuntahkan semua kudapan yang baru di santapnya tepat di wajah Sean, jika saja ia tidak ingat bahwa Sean memegang kartu As nya, bahkan juga Tom hingga membuat tua bangka itu tidak berkutik. Jika Casey naif, ia bisa membahayakan banyak orang sekaligus.
Cup
Casey membolakan matanya saat tiba-tiba Sean mengecup sudut kanan bibirnya, bergerak naik ke arah daun telinganya hingga membuat bulu romanya meremang, merasakan sensasi gelitik dan panas tatkala deru napas Sean menyentuh kulit telinganya lembut.
“Jangan mengatakan hal aneh pada pak Tua Stone-mu itu. Kau tahu aku penuh kejutan bukan?” bisik Sean namun Casey tahu bahwa itu adalah ancaman. Sean mempunyai gaya yang khas, ia senang mengancam seseorang seraya melakukan gerakan seduksi. Membuat Casey bisa mengukur sebarapa manipulatif dan pervert-nya pria di hadapannya ini.
Oh demi Tuhan, ia membenci kebiasaan ini. Tapi bagi Casey, setiap tubuhnya adalah berharga. Ia tidak akan pernah mengizinkan siapa pun memerintahnya dengan cara yang tidak ia kehendaki. Ia ingin bermain cara manipulatif? Jika itu caranya bermain, baiklah Casey pum akan membalasnya dengan cara yang sama.
Casey menolehkan wajahnya ke samping, mencari bibir Sean dengan bibirnya. Saat ia merasakan benda lembab nan kenyal itu sudah berada di jangkauan, ia memagutnya dan menggodanya hingga membuat Sean tak kuasa untuk tidak membalasnya.
Casey tersenyum, pria memang hanya pria bukan? Kita selalu diingatkan untuk tidak melupakan setiap ucapan orang tua. Harta, tahta, wanita. Itu adalah kelemahan pria dan Casey tahu bahwa itu benar adanya.
Saat Sean terlihat menikmati ciuman itu, saat itulah Casey melancarkan aksinya, ia mengigit bibir bawah tuan Muda Blaxton itu, membuatnya meringis dan seketika menjauhkan wajahnya dari Casey. Sementara Casey tersenyum manis tanpa dosa, menikmati aksinya.
“Urgh....” ringis Sean pelan.
Sean menatap Casey dengan tatapan tak terbaca, namun Casey malah menatapnya seolah mengatakan; Ha kau lupa bahwa aku juga penuh kejutan bukan?
Keadaan di atas meja makan itu berubah sedikit canggung. Yunwei terlihat yang canggung hingga ia terus meminum tehnya, menyembunyikan sorot matanya yang iri namun juga merasa malu. Lexie pun melakukan hal yang sama, bedanya ia tengah asyik merangkai cerita adegan ini dalam hati untuk ia ceritakan pada Emma. Lexie begitu tak sabar, bagaimana jika Emma mendengar cerita ini. Dua pria yang sudah begitu matang hanya bisa saling senyum puas. Melihat adegan romantis di usia tua, merupakan suatu yang terasa wajar.
“Kalian romantis sekali. Ah Aku melihat kalian semalam di danau, dan jika aku tidak salah lihat sepertinya Casey menceburkan Sean ke danau yang ada di taman dengan tendangan? Apa yang sedang kalian lakukan?” Tanya Jai melirik Casey yang sudah msmgakhiri sarapannya dan dengan cepat Sean mengambil alih tugas untuk menjawab.
Sean tersenyum simpul, “Penasaran? Sebagai saudara laki-laki yang baik aku akan menjawab itu merupakan-“
“Kenapa selalu kau yang menjawab? Hubungan kalian terlihat dipaksakan. Kau seolah mengendalikan Nona Stone apakah aku salah?” Sky melirik Sean dan Casey bergantian.
Sean hendak menyahut pertanyaan Sky namun Sky memotongnya dengan sindiran ketus yang membuat emosi Sean naik. Inilah sifat yang ia benci dari pria yang harus ia akui sebagai saudara kembar itu.
“Anda perhatian sekali, saudara ipar. Kami hanya mencoba mengeksplor cara berhubungan yang baru. Kami bosan terus di kamar, dan kami memang hobi mencoba hal-hal baru.” Jawab Casey mengambil alih kendali pembicaraan.
“Hubungan s*x dengan saling menceburkan?” tanya Sky mengambang terlihat bingung, namun Casey dan Sean jelas tahu itu hanyalah pura. Sean dan Casey saling melirik penuh arti.
“Hubungan kami memang unik, lihat ia begitu panas dan tak terduga. Kau tahu, ia sekarang sedang begitu panas karenaku. Ia bahkan menggigit bibirku sampai berdarah.” Ujar Sean memamerkan bibir bawahnya dengan segores darah. Sementara Casey terhenyak dan menatap Sean tak terima. Itu bukan uang sesungguhnya ia pikirkan!
“Aku bisa melakukan lebih dari itu sayang,” balas Casey dengan nada seduktif yang lembut, tapi Sean tahu itu jelas bentuk kekesalan Casey karena alis berkedut dan senyum bulannya bterlihat aneh. Tanpa sadar Sean tersenyum jahil, rupanya tikus berdadaa indah itu cukup imut saat kesal.
“Aku sering mengikat Casey di ranjang dan menutup matanya.” Ujar Sean memantik perang.
Casey menatao seribu makna lalu tersenyum, “Bahkan kami saling mencambuk.” Jawab Casey tanpa mengalihkan tatapannya dari Sean.
“Saling menampar favorit kami.” Tambah Sean lagi juga tak membuang tatapannya dari Casey. Ia malah semakin bersemangat.
“Apalagi jika menampar p****t sintal Casey.”
Alis Casey makin berkedut. Bukankah semalam ia mengatakan Caseybhanya bocah enam belas tahun? Tapi apa yang baru saja ia katakan? Sungguh pria yang tidak konsisten.
“Aku akan menenggelamkan mu dan aku akan mengikat benda kebangganmu mu di lampu taman-“
“Wow itu terdengar sangat berlebihan. Hubungan seks macam apa itu?” Sky yang tidak tahan melihat dua orang yang saling menggoda itu, memotong dan menatap aneh ke arah Casey dan Sean.
Sean tersenyum manis ke arah Casey. Ternyata Casey cukup bisa di ajak kerja sama.
“Pernah mendengar istilah b**m? Jika belum, mungkin kau belum mengeksplor dunia s*x lebih jauh, ah ya, aku lupa saudara kembarku ini penakut.” Sean memutuskan tatapannya dari Casey lalu melirik Sky dengan tatapan tak terbaca.
“Jaga bicaramu. Aku juga bisa mengatakan satu hal buruk tentangmu, tentang-“
Air wajah Sean berubah datar, “Ancaman menunjukkan seberapa tertekan dan takutnya seseorang, itulah kata pepatah. Ah, Aku dan Casey pamit untuk pergi, maaf membuat anda harus mendengar hal yang tak seharusnya dibahas di meja makan ayah mertua, harap maklumi usia kami yang masih penuh semangat.” Ujar Sean seraya mendorong kursinya melirik tuan Stone dan Casey bergantian, lalu menarik tangan Casey untuk ikut bersamanya meninggalkan lima orang yang masih terduduk di atas kursi meja makan itu.