Mata Tiana berkedip-kedip ketika tangan Yama menyalipkan anak rambutnya ke belakang telinga. Wajah lelaki itu begitu dekat dengan wajahnya sampai Tiana bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat. Tiana memejamkan matanya ketika wajah Yama semakin dekat dengannya. Bahkan kedua tangannya kini meremas sprei dengan kencang. Ia benar-benar gugup dan takut. Tiba-tiba saja ia merasakan bibirnya beradu dengan bibir yang lain. Matanya langsung terbuka dengan lebar. Kedua tangannya yang tadinya meremas sprei kini berada di d**a Yama. Lalu bibir itu bergerak mengoyak bibirnya, Tiana menahan napas. Ia melihat wajah Yama yang kini terpejam matanya. Ia bingung harus melakukan apa, ia benar-benar tak mengerti. Tiana pun mengikuti nalurinya. Ia ikut memejamkan matanya seperti Yama. Berusaha menikmat

