Yama merasa kasihan kepada keluarga Tiana. Setiap pagi mereka akan menimba air di sumur untuk kebutuhan mandi, mencuci dan memasak. Ia memandang tubuh gempal bapak mertuanya yang kini sedang menimba air, terlihat dengan jelas bahwa pria itu merasa kelelahan setelah 2 ember besar terisi penuh. Karena ingin menjadi menantu yang baik, Yama pun mendekatinya. "Pak, sini gantian biar Yama aja," ujar Yama menawarkan diri untuk membantu Pak Arief. "Ulah ah, kajeun Bapak wae, kamu rek ka sakola kan?" (Gak usah ah, biarin Bapak aja, kamu mau ke sekolah kan?) "Masih ada waktu banyak, Pak. Udah, Bapak istirahat aja, biar gantian sama Yama," ucap Yama seraya tersenyum lebar. "Emang bisa kamu teh, Yamaha?" tanya Pak Arief ragu-ragu. "Yamaha mah motor, Pak," ucap Yama terkekeh pelan. "Tenang aj

