Bab 2 Fabian – Seorang BidadariLelah. Satu kata itu sudah cukup menggambarkan bagaimana aku sekarang. Menggeluti bidang pekerjaan yang tidak aku inginkan, hanya wujud bakti sebagai anak laki-laki kepada orang tua. Ya, melanjutkan mengelola bisnis Papa.
“Butuh ke alam, Bro! Muka sudah lecek kayak kertas bekas, tinggal lempar ke tong sampah.” Angga berseloroh.
“Jangan, ah! Dipungut orang nanti, ganteng gitu masa mau dibuang? Dijadikan pajangan aja, Mas. Sekalian saya temani foto pakai kebaya putih.” Dania menimpali.
Aku menggeleng. “Enggak bisa, Dan, penghulunya lagi sakit.” Kalimat sederhana ini berhasil memancing kerusuhan di dalam kantor. Aku hanya tersenyum dan berpamitan pulang terlebih dahulu.
Menjelang petang, langkahku mengantarkan matahari tumbang. Apa terdengar cukup puitis? Ya. Aku suka menulis, meski bukan seorang penulis. Hanya sekadar menyalurkan hobby di samping kesibukan dalam mengelola bisnis papa.
“Fabian ... jangan kabur habis godain anak orang, ya!”
Aku menoleh, Angga menginterupsiku dari belakang. Laki-laki itu, teman sekantorku, sudah seperti keluarga sendiri.
Dia berdiri di hadapanku dengan napas terengah-engah. Aku hanya mengamati dan menunggu apa yang ingin dia katakan.
“Dasar buaya! Celoteh anak gadis gitu, ditanggapi,” tutur Angga lagi begitu napasnya sudah kembali normal.
“Hanya menanggapi, enggak ada maksud lain,” balasku sekenanya.
“Sama aja, Yan. Sama aja.”
“Pahala tahu, bikin seneng anak orang,” elakku.
Angga hanya tertawa, rambutnya yang sebahu berulang kali diterpa angin. Bukan kelihatan tampan, malah tampak semrawutnya. Dia butuh tukang potong rambut sepertinya.
“Nih,” kata Angga sambil menyodorkan amplop cokelat ukuran sedang.
“Apa, nih? Surat pengunduran diri?” tanyaku sambil menerawang isi amplop tersebut.
“Nantangin. Dikirim surat pengunduran diri beneran, awas ya! Nanti kelimpungan.”
“Tanya, Ngga. Kalau bener, kusobek nih kertas!” Jemariku sudah sigap mengambil garis tengah untuk segera menarik masing-masing sisi secara berlawanan.
Angga lebih dulu menahan. “Tiket pesawat, Bro! Pergi sana, cari udara segar! Krisis perusahaan juga sudah berakhir, jangan terkurung di kantor sampai murung! Mukamu tuh, sepet banget dilihat.”
Aku hanya mengangguk singkat. Karena kalau merespons ucapan Angga lagi, tidak akan ada ujungnya. Angga tipe laki-laki cerewet yang kalau bicara, bisa lebih panjang dari emak-emak kompleks yang memperdebatkan cerita dalam sinetron yang ditayangkan channel ikan terbang.
Aku mengibaskan amplop cokelat itu sambil berlalu menuju mobil jenis Hatchback. Mobil merek ternama keluaran Jepang. Jalanan yang lengang membuatku bisa memaksimalkan kecepatan dengan jarak tempuh hanya dalam hitungan detik.
❤️❤️❤️
Waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB saat kedua kakiku mulai berpijak di tanah Yogyakarta. Meski belum keluar dari lingkungan Bandara Adisutjipto, rasanya begitu bebas telah mengembuskan angin segar.
Ornamen batik terlukis di tiap-tiap tiang dan juga beberapa bagian lantai yang kulewati. Kekentalan budaya Jawa, bahkan sudah terasa meski baru pada bandara saja.
Bersama carrier bag di atas punggung, aku mencari sosok yang dijanjikan Angga akan menjemputku kemari. Angin Yogyakarta menyapa ramah menggerakkan sisi kemeja yang tidak kukancingkan.
“Tuan Muda?” Suara seorang laki-laki paruh baya dengan beberapa helai rambut berwarna putih menyapaku bersama tepukan tangan pada bahu.
Aku menggeleng dengan cepat.
“Lho ... wajah masnya mirip sama yang di foto ini, tapi kok salah orang, yo?” Laki-laki itu menyerahkan benda pipih miliknya dan memperlihatkan gambar yang tertera di layar ponselnya. Suaranya cukup medok.
Aku mendecak. Laki-laki itu memang memperlihatkan fotoku setahun yang lalu saat ada pertemuan di luar kota. Aku tidak habis pikir, bagaimana Angga bisa mengubah namaku menjadi Tuan Muda?
“Iya Pak, itu saya,” ucapku. “Nama saya Fabian, Pak. Bukan Tuan Muda.” Aku memberikan penjelasan.
“Turene Mas Angga, asmane njenengan Tuan Muda. Ya ... saya tulis di sini, begini,” ucapnya sambil menunjuk sebuah papan karton bertuliskan Tuan Muda.
Sejujurnya aku sudah berulang kali melewati laki-laki paruh baya ini. Siapa sangka, kalau itu jemputanku?
“Nama saya kados tiang Korea, Mas. Pengen tahu, mboten?”
“Siapa, Pak?” tanyaku menanggapi sebagai bentuk ramah tamah.
“K-A-N-G T-A-E J-O-O. Kang Tae Joo, Mas. Jowone, Kang Tejo,” jelas Kang Tejo sambil tertawa.
Siang ini riang, kami beriringan menuju tempat parkir mobil. Sebenarnya aku diminta menunggu saja, tetapi itu bukan keahlianku.
“Biar saya yang mengemudi ya, Pak?” Badanku remuk kalau hanya duduk saja. Aku ingin bergerak sedikit meski hanya sekadar menggerakkan kemudi mobil.
“Lho ya jangan to Mas. Nanti saya dimarahi sama Mas Angga. Menjemput niku satu paket sama nyopir, sanes disopiri.”
“Ayolah Kang Tejo, Angga enggak akan tahu, dia enggak ada di sini.”
“Mas Angga mboten ten mriki, tapi Gusti Allah mersani, Mas.” Kang Tejo tidak mudah dirayu. Padahal aku bukan mengajaknya berbuat macam-macam. Apa orang-orang sini, selalu jujur begini?
Aku mengalah, mobil berwarna hitam membelah riuhnya jalan. Yogyakarta tidak sesepi yang aku bayangkan. Padahal aku memburu kesepian. Jalanan padat meski tidak sampai merayap. Beberapa bangunan memiliki tulisan aksara Jawa.
Kelahiran Surabaya, dengan orang tua yang sering berpindah-pindah, membuatku kesulitan berbahasa Jawa dengan baik. Meski dapat memahami apa yang didengar, aku tidak bisa membalas dengan bahasa yang sama. Komunikasi berbahasa Jawa sehari-hari saja masih kesulitan, apalagi membaca aksara Jawa. Jelas, aku tidak bisa.
Hingga pada lampu merah yang entah ke berapa, mobil yang aku tumpangi memasuki jalanan yang lebih sepi dan kecil. Hanya bisa dilalui dua mobil, tanpa saling mendahului.
“Langsung ke penginapan nggih, Mas?”
Aku mengangguk, mengiyakan.
❤️❤️❤️
Sore hari ketika jarum jam berputar dari angka empat menuju angka lima. Aku keluar dari penginapan, hendak mengunjungi pantai yang sedari tadi mengganggu indra penglihatan karena terlihat dari balkon kamar.
Langit yang tenang, tidak banyak awan menggantung di sana. Jingga berpadu dengan biru, seakan siap menyambut senja.
Pantai ini terbilang sepi, tidak banyak pengunjung, tidak banyak sampah di tepi. Ombaknya seakan milikku sendiri. Sebuah batang pohon yang entah sengaja dipotong atau memang tumbang, kupilih untuk mengistirahatkan kaki.
Ponsel dalam saku telah aku keluarkan guna membidik beberapa gambar. Dari arah barat, ketika matahari berjalan mendekati ujung pantai. Dari arah timur, banyak pedagang yang menganggur. Dari arah utara, hanya sebuah bongkahan batu besar dan dari arah selatan, seseorang tersenyum dengan menawan.
Jemariku menyentuh tombol tengah, menyimpan senyuman itu di galeri ponsel milikku. Setelahnya, aku membuka catatan tempatku menuangkan beberapa luapan kata, yang tiba-tiba saja memenuhi isi kepala.
Pantai, aku terpikat.
Bisakah deburan ombakmu membawanya mendekat?
Gadis itu,
Gadis yang sedang dirayu angin, hingga menari rambut-rambutnya
Gadis berbaju sebiru laut dengan senyum secerah langit
Tidak ada mendung di sana karena justru mendung itu memenuhi dadaku, hingga sesak dan penuh gelisah
Ingin aku mendekat, tetapi nyaliku menciut
Kau bawa ke mana keberanianku, pantai?
Tidak kau tenggelamkan di dasar laut, bukan?
Usai mencatat puisi apa adanya itu, aku kembali melihat isi galeri. Melihat senyumnya kembali dan aku turut menarik kedua sudut bibirku. Senyumku hanya samar, sedang senyumnya menjelma memoar.
Satu hal yang aku sadari, dalam sepinya pantai ini aku tidak hanya menikmati senja, atau mengantar kepulangan matahari saja. Akan tetapi, aku juga melihat keindahan ciptaan Sang Kuasa. Seorang bidadari ... apakah dia datang dari surga?