Hening. Suasana di ruangan yang tak terlalu sempit ini mendadak sunyi beberapa saat. Semua terdiam dengan pikiran masing-masing. Ummi pun diam saja di sampingku. Pun ibu. Sementara abah masih mengetik pesan entah apa. "Assalamu'alaikum." Suara laki-laki yang begitu kukenali muncul dari arah pintu. Kami semua menoleh ke belakang. Kulihat laki-laki yang membersamaiku setahun lebih itu begitu pucat. Ada beberapa perban di kening dan lengannya. Bahkan dia harus menggunakan bantuin kruk untuk membantunya berjalan. Air mataku tak bisa terbendung lagi. Kubiarkan ia tumpah membasahi pipi. Bukannya langsung menghambur ke arahnya, aku justru terpaku di tempatku berdiri. Benar-benar tak tega melihatnya seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi. "Azka! Kamu dari mana saja jam segini baru data

