Jessica tak menyia-nyiakan waktu. Ia langsung duduk di pangkuan Jonathan yang bersandar di sisi ranjang. “Kenapa kau kemari?” tanya Jonathan, suaranya sedikit tercekat. Ia berusaha memalingkan wajah, tetapi gejolak gairah dalam tubuhnya seolah menariknya kembali, makin tak terkendali. “Aku akan membantumu melepaskannya, Jo. Kita lakukan saja. Aku istrimu,” bisik Jessica nakal, menggesekkan bibirnya ke daun telinga Jonathan. “Hentikan, Jes!” Suara Jonathan terdengar serak, napasnya mulai memburu. “Aku tahu kau sudah tidak tahan,” ucap Jessica. Tanpa memberi celah, ia langsung melumat bibir Jonathan dengan rakus. Pertahanan Jonathan runtuh. Dikuasai oleh puncak gairah, ia tak lagi melawan. Ia segera merebahkan Jessica ke ranjang. Jessica menyambutnya dengan desahan nakal. Tangannya mul

