Ayu berjalan cepat menyusuri lorong butik, langkahnya nyaris berlari. Nafasnya terengah, dadanya sesak, seakan udara begitu sulit masuk. Ia baru berhenti ketika tiba di ruang staf kecil, lalu menutup pintu rapat-rapat, menyandarkan tubuh ke balik pintu dengan tubuh gemetar. Tangannya terangkat, menyentuh bibir sendiri. Rasa itu … masih jelas tertinggal. Hangat, dalam, dan membingungkan. “Tidak … ini salah …” bisiknya pelan, matanya terpejam rapat. Ayu menggelengkan kepala berulang kali, mencoba menolak ingatan itu. Namun semakin ia berusaha menghapusnya, semakin kuat bayangan Jonathan menempel di benaknya—tatapannya yang tajam, genggamannya yang tak ingin melepaskan, ciumannya yang membuat seluruh tubuhnya bergetar. Ayu memukul dadanya sendiri, frustasi. “Kenapa aku bisa… membiarkannya

