Bab 2

2027 Words
Keramaian toko buku siang itu tidak membuat kejengkelan Sana berkurang. Malah gadis itu semakin bertambah jengkel saja melihat beberapa pemuda memasuki toko. Di antara pemuda itu ada Joe, pemuda yang selalu membuat darahnya mendidih. Sana tidak tahu apa yang diinginkan Joe darinya sehingga pemuda itu selalu mengganggunya. Seingatnya ia tidak pernah berbuat salah pada Joe, tetapi pemuda itu selalu membuat hidupnya terasa tidak tenang. Sana semakin jengkel karena sekarang Joe berjalan ke arahnya. "Selamat siang, Mbak Sana," sapa Joe ramah seperti biasa. Sana mengembuskan napas melalui hidung perlahan lantas tersenyum. "Selamat siang," jawabnya berusaha seramah mungkin. Semenjengkelkan apa pun Joe, kalau pemuda itu berada di dalam toko berarti ia adalah pembeli, dan Sana harus selalu ingat bahwa pembeli adalah raja. Maka harus dilayani sebaik mungkin. "Selamat datang." Joe terkekeh melihat keramahan Sana. Bukan karena ia tidak menghargai gadis itu, tetapi karena ia tahu kalau dibalik senyum ramah itu Sana mati-matian menahan diri agar tidak mencakarnya. "Tumben ramah, biasanya kayak macan betina," sindir Joe di sela kekehannya. Sana memutar bola mata jengah. Joe baru saja memfitnahnya. Ia tidak pernah merasa seperti yang dituduhkan pemuda itu. Beruntungnya, Joe tidak mengatakan itu dengan suara keras. Ia berbisik. "Jangan fitnah deh, Joe. Nggak lucu!" Sana balas berseru lirih. Bibir gadis itu mengerucut. "Jelas nggak lucu dong, kan, gue bukan badut, Mbak," balas Joe. Pemuda itu sekarang tidak lagi tertawa, tetapi tersenyum lebar. "Nggak ada yang bilang kamu badut!" Sana mendengus. Gadis itu semakin kesal saja. Joe tidak mau menjauh dari depan meja kasirnya, sementara para pembeli yang ingin membayar beberapa ada yang antre di belakang. "Nanti pulang gue jemput ya?" tawar Joe. Sana menggeleng. "Nggak usah!" sahutnya ketus. "Aku naik motor aku sendiri aja." "Yaelah ditolak lagi gue," ucap Joe dengan gaya lebaynya. Pemuda itu mengusap wajahnya yang memelas. Sana berdecak. Ini yang menyebabkan ia tidak menyukai Joe, pemuda itu selalu mengganggu pekerjaannya. Joe tidak peduli dengan deretan para pembeli yang semakin banyak mengantre di belakangnya. "Joe, please, kamu minggir ya," pinta Sana lirih. "Banyak yang antre mau bayar belanjaannya di belakang kamu." Joe menoleh ke belakangnya dan meringis melihat beberapa orang yang berbaris dengan buku ataupun keranjang belanjaan di tangan mereka. Orang-orang itu berbaris di belakangnya. Joe tersenyum meminta maaf kepada mereka kemudian meninggalkan tempat itu dengan wajah tak berdosa. Sana menggeram tertahan. Sungguh ia harus ekstra sabar berada di dekat pemuda itu. Joe sangat lihai dalam hal menaikkan emosinya. Ia harus segera meminta Joe menjauhinya. Ia tidak ingin mati muda. Di balik salah satu rak buku, Joe terkikik melihat Sana yang meminta maaf karena membuat para pembeli yang ingin membayar menunggu. Jujur saja ia sangat suka melihat gadis itu bekerja. Sana yang ramah terhadap siapa pun, termasuk padanya meskipun ia suka mengganggu, membuat Joe terkesan. Semakin hari ia semakin menyukai gadis itu. "Si Joe beneran udah nggak waras deh kayaknya." Komentar salah satu temannya tidak membuat Joe merubah fokus. Pemuda itu tetap saja memandangi Sana yang sedang menghitung jumlah belanjaan seorang pembeli. "Bro, lu ngapain dah senyum-senyum sendiri mulu dari tadi?" tanya Romi, salah seorang teman Joe. Mereka tadi bersama-sama ke toko buku. Hanya saja tujuan mereka berbeda. Romi yang murni ingin membeli buku, sementara Joe karena ingin melihat dan mendekati Sana. "Jangan diganggu!" sahut Sean. Pemuda itu merangkul bahu Ferdinand. "Joe lagi kasmaran." "Astaga! Beneran, Joe? Sama siapa?" tanya Romi penasaran. Pemuda itu menoleh pada Sean. "Lu tau siapa ceweknya Joe?" "Astaga, Romi! Lu itu cowok apa cewek sih? Keponya itu lho setengah mati." Sean bergidik geli. "Bodo amat!" ucap Romi tak peduli. Baginya sangat penting mengetahui siapa gadis yang disukai Joe. Selama ini Joe jadi rebutan mahasiswi di kampus mereka, tetapi tidak ada satu pun dari para mahasiswi itu yang berhasil mendapatkan perhatiannya. Sekarang kata Sean kalau Joe sedang kasmaran. Tentu saja ia sangat penasaran siapa gadis yang sudah meluluhkan es di hati sahabatnya. "Yang penting lu kasih tau gue siapa cewek yang disukai Joe. Buruan!" "Udah kepo maksa lagi lu!" sungut Ferdinand kesal. "Gue nggak tau. Yang tau si ini!" Pemuda itu memeluk Sean yang masih memeluk bahunya. Romi menatap Sean tajam. "Siapa, Sean? Buruan kasih tau gue!" bentaknya lirih. Sean memutar bola mata kesal. Sifat penasaran dan ingin tahu Romi sungguh membuatnya kesal. Sean berdecak. "Boleh gue kasih tau nggak, Joe?" Sean menatap sahabatnya dengan tatapan menggoda. Ia tahu kalau Joe tidak suka masalah pribadinya diumbar. "Kasih tau aja," jawab Joe tanpa menatap teman-temannya. Fokus matanya masih pada Sana yang terlihat semakin sibuk. Pembeli yang tadinya bisa dihitung dengan jari sekarang sudah membuat antrean yang cukup panjang. Sean melongo mendengar jawaban itu. Tumben, pikirnya. Tidak biasanya Joe seterbuka ini. Biasanya ia selalu tertutup tentang masalah asmaranya. Sean mengangkat bahu. "Noh, cewek yang lagi sibuk jaga kasir noh!" Sean menunjuk Sana yang masih saja sibuk. "Itu cewek yang Joe taksir." Mata Romi dan Ferdinand melebar. Tak percaya kalau gadis kasir itu yang disukai Joe. Pantas tadi Joe melarang mereka untuk membayar buku dan alat-alat tulis yang mereka beli di sana, ternyata ini alasannya. "Cantik banget, Joe. Buat gue boleh?" tanya Ferdinan sambil memeluk bahu Joe. Pertanyaan yang mendapat hadiah death glare gratis dari Joe. Pemuda itu tahu kalau Ferdinand hanya bercanda, tetapi sungguh bagi Joe candaan itu tidak lucu. Sean dan Romi tertawa bersamaan. Ferdinand seolah tidak tahu bagaimana sikap Joe saja. Joe itu seorang yang posesif, sangat tidak mungkin kalau Joe membiarkan Ferdinand mendekati Sana. "Jangankan lu, Fer. Gue aja disuruh jauh-jauh dari ceweknya," komentar Sean. "Padahal gue yang kenal duluan." "Iya, lu yang kenal duluan tapi yang tahu namanya duluan gue!" sahut Joe ketus. Bukannya marah, Sean malah kembali tertawa. Tampang Joe imut-imut, jadi mau melotot bagaimanapun tidak akan membuatnya takut. Yang ada pemuda itu tampak menggemaskan. "Dedek Joe nggak boleh marah ya, ntar nggak dikasih permen lho," goda Romi. Pemuda itu kemudian tertawa lagi. Begitu juga Sean dan Ferdinand. Joe memutar bola mata bosan. Tidak akan ada habisnya kalau ia terus meladeni mereka. Ketiga temannya tidak akan diam kecuali mendapatkan kenang-kenangan sebuah bogem mentah di rahang mereka. Sayangnya ia tidak bisa memberikan kenang-kenangan itu sekarang. Mereka sedang berada di toko buku yang ramai pengunjung, seanfainya pengunjung tidak seramai ini mungkin ia akan melakukannya. Lagipula ada gadis yang dicintainya di sana, ia tidak ingin menakuti Sana dengan menunjukkan sisi liarnya. Gadis itu akan semakin mencoba menjauhinya kalau ia berkelahi di depannya. Joe mengalihkan pandangan, kembali menatap Sana yang masih saja melayani pembeli yang ingin membayar. Namun para pembeli sudah tidak sebanyak tadi hanya tinggal beberapa. Joe mengembuskan napas lega, ia kasihan pada Sana kalau gadis. Sana harus bekerja full time diusianya yang seharusnya masih belajar di bangku kuliah. Joe sudah menyelidiki latar belakang Sana. Gadis itu berasal dari keluarga tidak mampu. Sana bahkan tidak menamatkan pendidikan menengah atasnya, gadis itu berhenti di tengah jalan karena kekurangan biaya. Setahu Joe, sana dikeliarkan dari sekolah karena menunggak iuran sekolah selama lima bulan. Joe sangat menyesali itu. Seandainya ia mengenal Sana lebih awal, gadis itu tidak akan putus sekolah. Ia akan membantunya dengan senang hati. Joe menaikkan sudut bibirnya saat mata mereka bertemu. Namun cepat-cepat Sana membuang muka, mengalihkan tatapan kepada seorang pembeli yang masih tersisa satu di depannya. Joe menggeleng pelan kemudian berbalik. Ia tidak akan mengganggu Sana hari ini. Gadis itu pasti lelah. Tadi saja Sana terlihat sedikit kewalahan. Sana memang bukan satu-satunya penjaga kasir di toko buku ini. Ada tiga sebenarnya, dan penuh ketiganya. Joe tidak mengerti kenapa hari ini toko buku penuh, padahal bukan hari libur atau akhir pekan. Sama halnya ia tidak mengerti tentang hatinya yang tertambat pada Sana. Sejak pertemuan mereka beberapa Minggu yang lalu, Joe selalu berusaha mendekati Sana. Ia tidak tahu apa yang membuatnya tertarik pada Sana selain fakta kalau Sana cantik. Seolah ada magnet yang menguat dari gadis itu. "Mau ke mana lu?" tanya Sean melihat Joe membenarkan letak ranselnya. "Nggak jadi beli buku?" Joe tak menjawab, pemuda itu hanya mengangkat bahu sebagai respon. Tanpa menghiraukan teman-temannya lagi, Joe melangkah menuju pintu keluar. Ia akan pulang saja hari ini. Meskipun resiko bertemu Abangnya semakin besar, Joe tidak peduli. Toh ia bisa meminta asisten rumah tangga mereka untuk mengantarkan makanan ke kamarnya. Seperti biasa. "Joe, woy! Tunggu gue!" seru Sean mengejar Joe. Diikuti oleh Romi dan Ferdinand yang sudah lupa dengan barang yang akan mereka beli. Seruan yang cukup keras sehingga memancing perhatian beberapa pengunjung toko buku yang masih padat. Termasuk Sana. Tidak ada lagi pembeli yang akan membayar membuat gadis itu bisa sedikit lega. Sana melayangkan tatapan pada suara seruan Sean. Alisnya berkerut melihat punggung Joe yang berada di ambang pintu. Tumben pemuda itu pulang cepat, tidak biasanya Joe keluar toko tanpa mengganggunya. Sekali lagi Sana mengembuskan napas lega. Akhirnya ia bisa melanjutkan pekerjaannya dengan tenang hari ini. Itu sebelum ponselnya berbunyi sekali, menandakan ada pesan dari salah satu aplikasi berkirim pesan yang masuk. Sana mengambil ponselnya yang terletak di salah satu rak meja kasir, membuka kunci ponsel dan menyentuh pesan yang masuk. Membaca isi pesan, mata Sana melotot kesal. Dugaannya salah, Joe memang tidak mengganggunya secara langsung hari ini, tetapi melalui pesan. Sana menggeram kesal. Maaf ya, Mbak Sana. Hari ini gue nggak bisa nemenin lu kerja. Gue lagi nggak mood gara-gara temen-temen gue nih pada gila. Gue pulang dulu ya, Mbak. Hati-hati ya jangan terlalu capek kerjanya, ntar kalo lu kecapekan lu bisa sakit. Kalo lu sakit gue yang repot. Gue bakalan nggak bisa liat lu karena gue nggak tau rumah lu. Bye *** Joe tersenyum. Sana pasti sedang kesal sekarang karena pesan-pesan yang dikirimnya. Joe yakin sekarang Sana pasti sedang membaca pesan-pesannya itu. Rasanya Joe dapat membayangkan bagaimana wajah Sana saat ini. Wajah berpipi bulat itu menekuk dan cemberut, sangat menggemaskan. Joe baru sadar kalau tingkah menggemaskan Sana juga menjadi salah satu hal yang membuatnya tertarik pada gadis itu. Joe segera memasukkan ponsel ke dalam ransel setelah yakin pesannya terkirim. Pemuda itu menaiki motornya, memakai helm dan bersiap menghidupkan kendaraannya itu sebelum seseorang mengetuk helm-nya. Joe menoleh tanpa melepas helm. Sean dan kedua temannya yang lain sudah berada di sampingnya "Mau pulang sekarang?" tanya Sean dengan napas memburu. Ia harus menggunakan elevator untuk turun, lift selalu penuh. Joe mengerang tertahan. Tentu saja ia akan pulang sekarang. Apakah Sean tidak melihat kalau ia sudah mengenakan helm dan menunggangi motor kesayangannya? Ia sudah siap dan pasti sekarang sudah berada di jalanan kalau saja Sean, Romi dan Ferdinand tidak menghentikannya. Joe menggeleng. "Nggak! Tahun depan!" jawabnya ketus. Sean mengernyit. "Kalo nggak pulang sekarang, terus ngapain lu pake helm segala?" tanyanya bingung. Joe menyumpah dalam hati. Sean itu tampan tampan, kaya, hanya saja sedikit lemot padahal otaknya pintar. "Ya gue mau pulang sekarang lah!" sahut Joe kesal. "Bukannya lu tadi bilang mau pulang tahun depan?" Astagaaaaaa! Bolehkah ia melempar Sean ke samudera Atlantik sekarang? Joe menghela napas kuat, matanya melirik Romi dan Ferdinand yang menepuk dahi mereka. Pasti kedua temannya itu juga pusing dengan pertanyaan Sean yang tidak terkesan polos. Atau bodoh? "Eh, denger ya lu, Sean Samuel!" Joe meletakkan tangan di bahu Sean. Sean mengangguk. Matanya melirik sekilas tangan Joe yang berada di bahunya. "Gue sekarang duduk di mana?" tanya Joe. "Di atas motor lu," jawab Sean polos. "Gue udah pake helm apa belum?" "Udah." Sean mengangguk. "Pinter." Joe menepuk bahu Sean. "Kalo orang duduk di atas motor terus pake helm itu tandanya mau pergi atau nggak?" "Mau pergi..." "Nah, itu lu tau!" potong Joe cepat. "Masih aja nanya gue mau pulang sekarang atau tahun depan." Joe menatap Romi dan Ferdinand yang terkikik. Joe mendengus kesal. Kedua temannya itu pasti sedang menertawakannya yang terlihat seperti sedang mengajari Sean. "Tapi kan tadi lu bilang..." "Bodo! Gue cabut sekarang. Bye!" Joe menghidupkan mesin motornya dan segera berlalu dari kawasan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di ibu kota itu. Kepalanya sedikit pusing karena ulah Sean tadi. Ia tidak habis pikir, bagaimana mungkin Sean bisa berpikir kalau ia serius baru akan pulang ke rumah tahun depan. Sean itu pintar atau apa? Joe curiga, jangan-jangan otak Sean geser karena keseringan bermain solo menggunakan sabun. Joe tertawa sendiri dengan pikirannya. Pemuda itu menggeleng pelan. Ia akan berhenti memikirkan Sean dan segala tingkah absurd sahabatnya itu, tidak ada gunanya menurutnya. Lebih baik memikirkan Sana, lebih bermanfaat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD