“Bagaimana mungkin seseorang akan mempersiapkan lebih matang ketika menggelar perayaan menempuh hidup baru dari pada perayaan kematian? Padahal, bukankah kehidupan setelah kematian yang akan benar-benar menjadi hidup baru yang harus ditempuh?” Teddy terkekeh. “Nan, mau nggak mau lo kudu ngerti. Anak bokap lo cowok semua. Dan lo harus pergi menempuh pendidikan, Mas Andi harus kerja sampai ke luar kota, dan Mas Handara harus terapi demi bisa melanjutkan hidupnya sama orang yang dia sayang sekaligus dia percaya. Bokap lo akan kesepian, Nan. Nggak selamanya lo dan dua abang lo bisa nemenin bokap lo. Karena pasti lo semua punya kesibukan masing-masing.” Nanta mengangguk. “Oke. Alasan yang bisa diterima.” “Jadi lo harus ngerti.” Nanta mengangguk lagi. Sementara sepasang netranya belum juga b

