Ia memijat pelipis yang terasa berat dan seolah ada banyak beban berat yang menumpu di atasnya. Lantas mengangguk menyetujui derai kalimat yang runtut menyambangi telinganya. Panas. Ia rasa ingin segera menghabisi pria yang tengah berdiri di hadapannya ini dengan kedua tangan berkacak pinggang, sementara ia hanya mampu tertunduk patuh. “Baik, akan saya sanggupi,” ucap Andi berusaha untuk tidak menampakkan raut lelahnya. Pria di hadapannya berlalu dengan sepsang langkah lebar. Meninggalkannya sendiri si antara senyap koridor. Malam kian larut, Andi menengadah menatap sang dewi malam yang menyembul di balik genting. Tangannya terayun meraup wajahnya yang letih. Sementara jemarinya sudah ingin mengepal erat yang lantas ia layangkan pada semua orang di hadapanya. Namun dengan sekuat tenaga

