Selepas mengikuti kelas Nanta segera berhambur keluar tatkala matanya menangkap sosok kepala gadisnya yang menyembul dari balik jendela bening dengan tinggi hampir menyamai seukuran tubuhnya. Ia lekas berpamitan pada ketiga temannya.
"Yuk, pulang." Nanta bersuara setelah tubuhnya berdiri tepat di samping Laisa.
Gadisnya menoleh dan tanpa berbicara apa-apa ia hanya mengangguk. Tangan Nanta terulur meraih tangan Laisa. Menggenggamnya dengan erat. Ia tahu, Laisa sedang tidak ingin berbicara padanya. Tak apa, tidak ada yang perlu ia khawatirkan dari sikapnya yang seperti ini. Selama Laisa masih mau peduli padanya, tak berbicara sampai seharian pun tak apa.
"Mau makan kerangnya Mang Ali?" Nanta bertanya saat langkahnya sampai dekat gerbang fakultas.
Ia mengangkat tangan Laisa, menatap arloji yang melingkar di pergelangannya dengan jarum jam menunjuk ke angka lima. Ah, pantas saja di barat sana senja sedang terang-terangnya bersinar dengan cahaya kemuning jingganya.
"Kayaknya sama nasi hangat enak," lanjutnya tanpa sahutan sedikit pun dari Laisa.
"Mau?" Dan gadisnya tetap diam.
Tanpa bertanya lebih lanjut Nanta menggandeng Laisa menghampiri Mang Ali. "Mang, kerang dara satu porsi, pakai sambel pedas asam manis, dibungkus, ya," ucap Nanta.
"Siap, Mas." Mang Ali mengangkat ibu jarinya. Lantas bertanya, "Kok Mang Ali baru ngeliat kamu lagi, ya? Biasanya kan Mang Ali suka liat kamu lewat depan sini."
"Iya, Mang. Kemarin-kemarin kan Mang Ali nggak jualan," jawab Nanta santai.
Mang Ali terkekeh. "Ya udah, duduk aja dulu, Mas."
Nanta mengangguk.
"Permisi, Kak," sapa seorang gadis dengan sopan.
Kepala Nanta tertoleh ke arah gadis itu.
"Saya Briya. Yang dua hari lalu ngasih undangan seminar ke Kakak," jelas Briya seakan mengerti dengan kerutan di dahi Nanta.
"Oh iya. Ada apa, Bri?" tanya Nanta ramah.
"Saya selaku panitia acara mau minta nomor Kakak untuk memberi kabar seputar seminar kami," jawab Briya. "Apakah boleh, Kak?" imbuhnya.
"Iya, boleh." Nanta merogoh saku celananya. "Sebentar, ya. Saya lupa nomor saya berapa." Ia terkekeh kecil.
"Maklum, Neng. Jarang beli pulsa dia, mah." Mang Ali menyelatuk kemudian tertawa.
"Iya. Biasanya dibeliin sama mbak-mbak konter," balas Nanta ikut tertawa.
Tangan Nanta terulur menunjukkan nomor ponselnya pada Briya.
"Makasih, Kak," ucap Briya ketika selesai. Ia pun segera pamit.
Disusul Mang Ali yang lima menit kemudian selesai melayani. Dan Laisa masih dalam konsistensinya untuk membungkam kedua bibirnya.
Sesampainya di rumah kos Nanta menyiapkan kebutuhan makan malam seorang diri dengan memilih membiarkan Laisa seperti patung manekin yang ia bawa dari toko baju.
"Nan. Aku bingung deh sama kamu."
Suara yang terdengar mengudara itu membuat Nanta tanpa sadar mengucapkan syukurnya. "Alhamdulillah." Ia menoleh pada gadisnya. "Bingung kenapa?" tanyanya seraya mengangkat kedua alis.
"Kemarin kamu bilang mau jual HP. Kok masih ada?" tanya Laisa seolah menginterogasi seorang pencuri.
"Oh. Ngeliat HP-ku retak-retak gini orangnya jadi nggak minat. Sampe dikira HP yang punya banyak kasus." Nanta menggeleng-gelengkan kepala lantas terkekeh kecil. "Padahal, kalo dipikir-pikir. HP yang banyak kasusnya itu biasanya lebih bagus dan selalu pakai tipe yang terbaru. Iya, gak sih?" lanjutnya.
Nanta kembali menatap makanannya. Sementara Laisa kembali terdiam dengan sorot mata masih tertuju pada Nanta. Kembali hening. Nanta memilih menyibukkan diri dengan mengupas kulit kerang lalu mengumpulkan dagingnya.
"Makan, yuk. Mumpung nasinya masih hangat. Abis makan kita ngobrol di atap. Atau mau sekalian makan di atap?" tutur Nanta tangannya bergerak memberikan sesuap pada Laisa.
Laisa menggoyangkan kepala ke kiri kanan. "Di sini aja," jawabnya lantas membuka mulut untuk menerima suapan yang Nanta berikan. Isi dadanya berdebar lebih damai dari sebelumnya. Bunga-bunga dan tumbuhan lain yang mengisi relungnya seakan terbasahi oleh percikan sejuk air di lembah.
Netranya masih senantiasa menatap Nanta, menatapnya penuh rasa bangga hanya karena Nanta selalu berhasil menghidupkan afeksi yang nyaris mati di hatinya.
"Mata kamu kayak panda gitu, semalaman nggak tidur?" tanya Nanta yang lantas diangguki oleh Laisa.
"Revisi paper," jelas Laisa.
"Jangan terlalu diburu gitu, La. Saya tau lanjut studi ke luar negeri itu mimpi kamu. Tapi jangan diporsir gitu dong. Kasian kamunya juga."
Laisa mengangguk. "Sekali waktu aku ngerasa kamu kayak pacar aku. Sekali waktu yang lain aku ngerasa kamu justru jadi seorang kakak buat aku. Dan di lain waktu lagi, kamu bisa jadi orang paling nyebelin. Kamu tuh multifungsi." Ia terkekeh.
"Ya, bagus dong. Artinya saya bisa bermanfaat buat kamu." Nanta mendukung.
"Tau gak, Nan?"
"Apa?" Nanta menangkap binar yang setara indahnya dengan senja di luar sana. Seakan kabut yang menyelimuti kedua iris Laisa seharian ini memudar oleh pendar cahayanya.
"Hal sesederhana ini yang nggak akan pernah bisa aku temuin di diri orang selain kamu," jujur Laisa.
Nanta tertawa kecil menahan rasa sanjung yang akan timbul di kedua pipinya. "Dan saya cuma bisa ngelakuin hal ini sama kamu. Nggak tau kalo sama orang lain," akunya sepenuhnya.
Kedua sudut bibir Laisa mengembang sempurna. Tangannya bergerak menumpu pada bahu kokoh Nanta yang selalu tersembunyi oleh pakaian oversize kesayangannya. Dan tangannya yang lain melingkar pada perut.
Suasana perlahan senyap. Tanpa pembicaraan apapun lagi selain deru napas masing-masing. Sementara Nanta masih memilih untuk mengisi amunisi dalam tubuhnya, tanpa merasa terganggu oleh pelukan Laisa.
Laisa beringsut. Mengecup pipi Nanta dengan lembut.
Dalam senyap Nanta terjaga. Kepalanya bergerak menatap Laisa. "Makan dulu." Ia menyodorkan sesuap nasi.
Laksa tidak langsung menerimanya. Ia menatap Nanta dengan sorot matanya dengan lekat. "Kamu jangan ke mana-mana, ya," ucapnya seraya menahan perasaan yang berdebur selayaknya ombak di pertengahan malam.
Nanta mengangguk.
"Janji?" Laisa menjulurkan jari kelingkingnya.
"Jujur, saya nggak bisa berjanji apa-apa lagi, La. Selain menjaga kamu sampai tugas saya selesai."
Raut Laisa meredup. "Oke," putusnya lalu mengambil alih sesuap makanan yang berada di tangan Nanta.
"By the way, sebenernya aku laper banget," ucapnya mengalihkan pembicaraan yang lantas menyantap makanan dengan begitu lahap.
"Nanti kamu beli sendiri lagi aja, ya. Aku males," tambah Laisa.
"Iya." Tangan Nanta terulur. Mengusap puncak kepala Laisa dengan penuh rasa sayang.
***
"Masuk." Laisa menatap Nanta yang hanya berdiri sambil menyandarkan punggungnya di tepi pintu.
Nanta hanya tersenyum sambil terus menatap wajah gadisnya. Lantas melirik ke arah Eliana yang melintas tepat di belakang tubuh Laisa sambil membawa nampan berisi penuh camilan menuju balkon.
Tanpa membuka bibirnya lagi untuk bersuara Laisa menggenggam pergelangan tangan Nanta lantas menariknya.
"Hai, Li," siapanya pada Eliana dan tetap melenggang menuju sofa di depan televisi.
"Hai," balas Eliana melempar senyum dan kembali berbalas senyuman dari bibir Laisa.
Laisa melepas blazer kasual yang dipakainya lalu menggantungnya pada stand hanger di dekat pintu. Ia berjalan menuju kamar dan kembali dengan tangan membawa sehelai handuk.
"Kamu mandi dulu, ya. Kebetulan ada baju kamu di lemari aku. Aku selalu lupa buat ngembaliin," ujarnya seraya memberikan handuk pada Nanta.
"Sengaja atau lupa?" goda Eliana dari arah pintu balkon.
"Beda tipis, sih," balas Laisa hanya terdengar oleh telinganya sendiri sembari mengedipkan sebelah matanya pada Eliana.
Kedua bola mata Eliana melebar lalu kesepuluh jarinya tertaut bersamaan dengan ekspresi kejutnya. Dengan bahasa isyaratnya Laisa meminta Eliana untuk diam.
Nanta bangkit dari duduknya. Dengan handuk melingkar di lehernya ia melangkahkan kaki menghampiri Rezky yang tampak santai duduk di bangku panjang. Ia berdiri di samping Rezky yang pandangannya tertuju pada buku di tangan.
"Sayang, menurut aku undang-undang yang tepat untuk—." Rezky tidak melanjutkan kata-katanya. Perlahan kepalanya memutar ke arah sosok Nanta.
"Menurut saya seharusnya pemerintah nggak semudah itu memberi dispensasinya. Sebab, sekalipun sang anak yatim-piatu dan memiliki seorang pacar, bukankah itu menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menanggung hidupnya?" Teringat dengan pembahasan mata kuliah siang tadi tanpa diminta Nanta menyahut.
"Iya, iya. Lo bener." Rezky mengangkat kedua ibu jarinya ke arah Nanta.
Nanta mencondongkan tubuhnya. "Terus? Kapan mau nikahin Eliana?" bisiknya.
Rezky berdecak.
"Udah dapet restu?" lanjut Nanta dibalas dengan senyuman lebar dari bibir Rezky.
Nanta menggeleng-gelengkan kepala.
"Eh, umur gue udah masuk kepala dua lebih tiga, loh. Udah bukan lagi pernikahan dini."
"Siapa yang bilang?" Nanta melenggang masuk menuju kamar mandi.
"Emang nggak ada sopan-sopannya tuh anak sama orang tua." Rezky mendesis.
Eliana tersenyum sambil berjalan mendekat. "Kok bete gitu?" tegurnya.
"Tuh bocah satu ngeselin." Dengan tatapannya Rezky menunjuk Nanta yang sudah berlalu menghilang di balik pintu kamar mandi.
Cermin besar di hadapannya kini seolah mempertontonkan lekuk tubuhnya. Kedua tangan Nanta memegang tepi wastafel dengan sorot netra tertuju lurus ke depan. Menatap garis bekas luka yang melintang di sepanjang dadanya. Ia menghela pelan. Benaknya masih bertahan dengan satu pertanyaan tentang Agam yang kerap muncul tatkala ia menatap bekas luka itu.
Belasan menit berlalu, Nanta mengentaskan tubuhnya dari guyuran air dingin. Ia gegas menuju kamar kosong —yang memang disediakan oleh kedua gadis itu untuknya dan Rezky ketika menginap— dengan hanya mengenakan celana dan sehelai handuk yang menggantung di bahunya.
Tampak Laisa tengah berdiri menghadap ke luar jendela, memandangi gulita yang menyelimuti malam tanpa ditemani satu bintang pun.
"Langitnya gelap banget, Nan. Nggak ada bintang satu pun." Wajah cemas terpatri jelas. Satu tangannya menjulur memberikan sehelai kaos kasual milik Nanta.
"Mau hujan mungkin," sahut Nanta menerima kaos itu dan segera mengenakannya.
Jemari Laisa bergerak menyentuh d**a Nanta, membuat laki-laki itu menghentikan pergerakannya. Ia diam menatap bekas jahitan yang terpampang jelas di matanya.
"Kalo dipikir-pikir kita sama, ya, Nan?" Lantas tatapannya jatuh pada sepasang iris Nanta.
Nanta hanya mampu mengangkat kedua sudut bibirnya dengan tipis.
"Kita punya bekas luka di tempat yang sama, meskipun penyebabnya berbeda." Laisa melanjutkan. Perlahan ia mendekat, memangkas jarak yang hanya tersisa sedikit dan netranya masih melekat di sepasang iris yang juga menatapnya dengan tulus.
Laisa merunduk lalu memberikan kecupan hangat tepat di bekas luka itu. Seolah mengecup detak dari jantung lelakinya. Dan Nanta membalas kecupan itu dengan mencium puncak kepala Laisa cukup lama.
Gadisnya terkekeh. "Aku mau pesan makan malam dulu, ya. Tadi kan makanan kamu, aku abisin," ucapnya hendak beranjak. Namun dengan lekas Nanta meraih kedua bahu Laisa dan menahannya untuk tetap berada di hadapannya.
"Nggak usah."
Tangannya bergerak turun merangkul pinggang Laisa. Lantas kembali menyapukan bibirnya pada kening Laisa dengan lembut dan perlahan bergerak turun mengecup kelopak mata gadisnya yang terpejam.
Laisa merasakan napas hangat berembus menerpa wajahnya.
"You are my form of happiness. As well as a form of my fear."
"Kenapa harus takut?" Laisa menunduk tanpa berani membalas tatapan Nanta.
"Karena cepat atau lambat pasti kita akan menemukan jalan kita masing-masing." Tawa hampa mengudara meski tanpa diminta. Bahkan tanpa tahu peduli bahwa pemiliknya tengah menahan perih.
Seakan ikut berbela sungkawa atas duka cita yang tengah merengkuh Nanta, semesta menurunkan titik-titik airnya pada bumi.
"May I kiss you ...." Nanta memberi jeda. "Again?" lanjutnya.
Laisa mengangguk. Membuat kecupan itu mendarat dengan mulus di bibirnya. Menari di atasnya dengan alunan nada cecap dan sesap yang damai.
Untuk kedua kalinya dalam seumur hidupnya, Nanta kembali menciptakan dosa yang sama. Menggali lubang di tempat yang sama, membuatnya semakin dalam. Untuk terpuruk suatu saat nanti.
Tangannya kian erat merengkuh tubuh Laisa dan membawanya pada tempat tidur. Ada rasa yang berdebur dan lantas lebur oleh kecupan lembut Laisa yang tetap menari di atas bibirnya. Menjelajahinya tanpa perlu peta dan kembali tersesat bersama tanpa membutuhkan tempat untuk berpulang.
Nanta kian tenggelam pada palung terdalam yang ia ciptakan sendiri. Bahkan ia tak lagi mampu mendengar suara erangan kecil yang lolos dari bibir gadisnya. Sampai pada suatu titik terdalam pada palungnya, Nanta terdiam seraya menenggelamkan wajahnya di pelukan gadisnya. Ia merasakan jemari Laisa mengurai rambutnya.
"Apa yang paling oma suka?" tanya Nanta.
Tatapan Laisa menurun, menatap wajah Nanta yang bersandar di dadanya.
"Saya belum siapin kado buat Oma," jelas Nanta. "Masih bingung juga mau ngasih kado apa," lanjutnya terkekeh lantas bangkit dan menyandarkan punggungnya pada dipan. Ia mendesah pelan.
Laisa menyerongkan tubuhnya dan memangku kepala dengan kedua tangannya. Sepasang netranya kembali menerawang jauh ke dalam pikir lelakinya, menerobosnya melalui celah bola mata yang tampak menatap kosong ke depan.
"Tadi pagi aku telepon oma. Dan bilang kalo Oma mau bunga anyelir," tuturnya.
Nanta kembali mengawang bersama isi kepalanya. "Saya nggak yakin kalo bunganya bisa tumbuh dengan baik. Oma kamu kan sensitif banget sama saya, La."
"Kok kamu ngomong gitu, sih?" Laisa memajukan bibirnya.
"Ya, saya cuma berusaha jujur aja, La."
"Kamu nggak ada niat gitu buat luluhin hati oma sama mama pakai cara kamu sendiri?"
"La, hati manusia itu lebih keras dari batu. Kalau terlalu cepat meluluhkan yang ada justru jadi lebur."
Laisa menghela lalu meluruskan pandangannya pada langit-langit kamar. "Terus rencana kamu apa?"
Nanta menghadapkan tubuhnya pada Laisa dan satu tangannya bertumpu di kepala. "Nggak tau, La. Saya cuma mau mengikuti alur waktu."
Laisa mengambil jeda. Tatapannya masih tertuju pada langit-langit kamar. "Gimana kalo hubungan kita harus berakhir?"
"Asal bukan kita yang harus mengakhiri."
"Maksud kamu? Aku nggak ngerti, deh."
"Saya pernah bilang, kan? Asal kamu sudah bertemu dengan orang yang tepat untukmu, saya akan tenang, La."
"Tenang ninggalin aku?"
Nanta menatap sepasang netra indah yang tampak dari samping. "Tenang mengikhlaskan kamu, La."
Gadisnya memilih bungkam.
"Seenggaknya kamu bahagia biarpun nggak sama saya," bubuh Nanta. Tampak semakin jelas di netranya sebuah tikungan jalan yang lambat laun pasti akan ia temui.