Teddy menujukan mata lensa di telepon genggamnya ke arah ribuan manusia yang berarak di tepat di bawah hangat terik matahari yang kian menyengat. Padahal di lehernya tergantung jelas sebuah kamera digital milik Fatsun yang Adi amanatkan padanya untuk memotret. Namun ia memotret arakan manusia itu bukan untuk menunaikan tugas sebagaimana mestinya, ia hanya ingin berkabar pada Nanta yang hanya membalas pesannya dengan satu kata yang amat singkat. Sementara teriakan ‘Revolusi’ tetap menggema di bawah sengat siang yang kian ganas membakar semangatnya. Dan gulungan kawat berduri menyambut arak-arakan manusia itu yang membanjiri jalan utama gedung putih --yang senantiasa menjelma sarang pesugihan bagi tikus-tikus pengecut yang hanya mampu melintasi gorong-gorong gelap dan menjijikan. Tapi dari s

