Tiga tahun kemudian
Mentari pagi menyingsing, menerobos masuk ke dalam kamar seorang lelaki yang tengah terlelap melalui celah jendela kamarnya yang terbuka lebar.
Dahi laki-laki itu berkerut kala sinar mentari pagi tepat mengenai wajahnya. Matanya bergerak liar, namun tetap dalam keadaan terpejam. Bukannya bangun, lelaki itu malah menarik selimut hello Kitty nya untuk menutupi area wajahnya.
Saat akan memasuki alam mimpi kembali, lelaki itu di bangunkan kembali oleh suara dering hp nya yang terus-terusan berbunyi. Mau tak mau, tangannya harus terulur meraih benda pipih yang terletak di bawah bantalnya.
"Halo!" suara serak nan basah terdengar begitu sexy bagi siapa saja yang mendengarnya, mungkin tidak untuk seseorang yang berada di seberang sana.
"Apakah benar ini dengan Edward Eguardo?"
Kedua alisnya bertaut, terpaksa ia membuka mata untuk bisa melihat siapa yang sedang menelponnya. Namun, dilayar tak tertera nama siapa-siapa, hanya deretan angka saja yang tertera di sana.
"Ekhm...." Edo berdehem pelan, agar suaranya yang serak-serak basah kembali normal.
"Benar, dengan saya sendiri."
"Hahaha." Suara tawa nyaring terdengar di telinga Edo. Suara tawa yang terdengar familiar, namun juga asing baginya.
"Siapa ya?"
"Kamu beneran gak inget sama saya?" suara di seberang sana malah balik bertanya.
"Saya beneran gak inget. Dan mungkin... Bapak salah sambung."
"Saya gak mungkin salah sambung. Rumor kamu kehilangan separuh ingatan ternyata bener ya?"
Edo terdiam sebentar, dirinya memang kehilangan separuh ingatannya semasa SMA. Tapi, kenapa orang yang sedang menelponnya ini bisa tahu.
"Saya tanya sekali lagi, kalo gak di jawab, teleponnya bakalan saya tutup. Bapak siapa? Kenapa bisa tahu nama saya? Tahu tentang masa lalu saya?" cecar Edo dengan nada suara yang lugas.
"Perkenalkan, nama saya Bambang Susilo Hartono. Saya kepala sekolah SMAN Eurora, tempat kamu menimba ilmu dulu."
Lagi-lagi dahi Edo berkerut. Untuk apa seorang kepala sekolah menelpon seorang murid yang bahkan sudah lulus tiga tahun lamanya.
"Bapak mau minta tanda tangan saya?" tanya Edo bimbang. Siapa tahu karena kepintarannya dulu baru di akui oleh kepala sekolah itu. Pikir Edo.
"Hahaha." lagi-lagi suara tawa yang terdengar. Edo mendengus kesal." Saya bukan pelawak ya, pak!"
"Hh, saya masih tahu kalau kamu adalah seorang anak yang berbakat. Maksud bapak menelpon sepagi ini, hanya untuk memastikan sesuatu--."
"Apa? Kewarasan saya kah? Inget ya pak, walaupun beasiswa saya dulu di cabut sama pihak sekolah, saya gak mungkin depresi, saya gak mungkin gila. Jadi, bapak gak usah khawatir sama mental saya, urusin aja sekolahan yang lagi bapak kelola." Edo memotong cepat perkataan mantan kepala sekolahnya itu, tanpa tahu apa yang sebenarnya akan orang itu pastikan.
"Em... sepertinya kamu salah paham. Bukan itu yang mau saya pastikan."
"Gausah bertele-tele ya pak! Orang sibuk kayak saya tuh, gak bisa buang-buang waktu." Edo berbicara dengan nada yang sedikit angkuh.
"Oh, saya pikir kamu pengangguran. Makanya saya nelpon karena mau ngasih pekerjaan."
"Pe-pekerjaan?" gugup Edo. Jika waktu bisa kembali di putar, ia ingin sekali meralat ucapan angkuhnya barusan.
"Iya, Guru paket C. Saya sudah siapin ruangan di SMAN Eurora buat kamu mengajar. Ruangan yang udah lama tak terpakai, namun sudah selesai direnovasi. Jika kamu sudah mendapatkan pekerjaan, maka saya mau tak mau harus mencari calon guru baru."
Edo semakin gusar, seharusnya tadi ia berkata jujur saja bahwa dirinya baru mengundurkan diri sehari yang lalu dari pekerjaan serambutannya itu.
"Eh... Buat saya aja pak, saya bisa kok."
"Lah, tadi katanya lagi sibuk."
"Ma-maksud saya, hari ini saya lagi sibuk nganggur pak. Baru aja saya dapet chat dari atasan, kalo saya dipecat dengan alasan kelebihan pegawai." Edo menjelaskan kebohongannya sehalus mungkin, agar kesempatan dirinya untuk mengajar tak terlewatkan.
"Benarkah? Kalau begitu bagus! Saya senang."
"Saya apalagi." Edo tersenyum kikuk. Malu karena sudah tak tahu diri dengan berbohong pada mantan kepala sekolahnya itu.
"Malam ini sudah bisa mengajar?"
Edo membelalakkan matanya, sudah lama dirinya tak belajar. Jika harus mengajar dadakan, apakah pelajaran yang akan dia bawakan tak akan acak-acakan?
"Bisa kok Pak, bisa." jawab Edo yakin. Mungkin, seharian ini dirinya harus menghabiskan waktu dengan membaca beberapa buku.
"Alhamdulillah jika kamu bersedia. Memang tak salah jika saya menunjuk kamu buat mengajar mereka." helaan nafas lega terdengar dari seberang sana, diiringi untaian kata yang selama ini belum pernah Edo dengarkan dari siapapun.
"Jadi mulai dari jam berapa? Sampai jam berapa? Gajinya berapa? Anak murid saya ada berapa? Pelajaran yang harus saya bawakan?" Edo mengutarakan pertanyaan yang sedari tadi mengusik benaknya.
"Jadi begini, kamu akan mulai mengajar untuk paket C hanya tiga kali dalam seminggu, terserah mau hari apa saja. Untuk jam belajarnya, dari jam 7 malam sampai jam sembilan.
"Namun, kamu juga harus mengajar kelas bimbingan di hari biasa. Artinya, sehabis mengajar anak murid yang mengejar paket C, kamu juga harus mengajar anak-anak yang sedang membutuhkan ilmu tambahan. Singkatnya, kamu harus masuk 6 kali dalam seminggu, dari jam 7 sampai jam 11 malam.
"Total murid paket C, mungkin hanya sekitar dua puluhan. Sedangkan untuk kelas bimbingan, kamu hanya akan mengajar beberapa belas murid saja. Sistim pengajarannya sama seperti saat kamu berada di kelas 3 SMA dulu. Untuk uang muka, akan saya transfer sehabis telepon ini di matikan."
————
Edo menggulingkan badannya di atas kasur lantai berwarna maroon. Setelah teleponnya dengan pak Susilo dimatikan, langsung masuk sebuah notif bahwa sejumlah uang dengan nominal yang lumayan besar sudah masuk kedalam rekeningnya yang sudah lama kelaparan.
Edo berguling-guling bak orang yang sedang kesetanan, sesekali dirinya berteriak kegirangan.
Tok tok
Suara ketukan di pintu kayu kamarnya sukses menghentikan Edo dari aksi guling-guling nya. Ia membuka pengait kunci yang menggembok kamarnya.
"Kamu kenapa teriak-teriak kayak orang gila?" tanya seorang perempuan paruh baya yang berdiri di ambang pintu kamarnya.
Edo menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu tersenyum kikuk. Ia menunjukkan layar ponselnya yang masih menunjukkan nominal angka pada Ratna, ibundanya.
"Ini apa?" tanya Ratna, matanya yang rabun sudah tak lagi dapat melihat angka sekecil itu tanpa bantuan sebuah kacamata.
"Ini loh Bun, bunda inget sama pak Susilo?"
Ratna menggeleng. Umurnya yang memang sudah tua, tak lagi dapat mengingat nama yang sangat jarang didengarnya.
Edo terlahir di saat dirinya sudah memasuki usia 47 tahun, usia yang cukup tua bukan? Namun, perjuangan Ratna dengan suaminya ternyata tak sia-sia, Edo terlahir dengan sangat-sangat sempurna. Baik dalam penampilan maupun dalam nilai akademik, Edo selalu yang pertama. Namun, sebuah kejadian naas harus menimpa Edo yang baru akan lulus dari SMA, sehingga menghapus sebagian memori tentang kawan-kawannya.
"Bunda tidak tahu." jujur Ratna.
"Biar Edo jelasin ya, bun." tawar Edo antusias." Jadi, tadi ada pak Susilo nawarin Edo buat jadi guru bimbingan. Nah, uang mukanya udah pak Susilo transfer duluan. Dua juta Bun, dua juta!" Edo berteriak antusias sambil mengacungkan dua jari tangannya.
Bukannya senang melihat ekspresi Edo, Ratna malah terlihat kebingungan.
"Susilo itu... Siapa?"
Edo mendengus, ia menepuk pelan bagian kasur di sebelahnya. Meminta sang bunda agar duduk di sisinya.
"Pak Susilo orang yang cabut beasiswa Edo dulu, pas masih SMA. Tadi nelpon, dia minta Edo buat jadi guru pembimbing, katanya buat nebus kesalahan dia tiga tahun yang lalu." Edo menjelaskan dengan intonasi yang pelan.
Cowok itu mengecup pelan tangan surganya." Edo sekarang punya pekerjaan yang lumayan, Bun. Bunda gak usah kerja lagi, biar Edo aja."
Tes
Satu cairan bening lolos begitu saja pada pipi ratna, Edo dengan sigap mengusapnya pelan.
"Cup, bunda gak usah nangis. Sekarang, bunda tanggung jawabnya Edo." kata Edo. Matanya ikut berkaca-kaca melihat sang bunda yang sudah meneteskan air mata.
"B-bunda bangga punya anak kayak kamu. Yang mau bersyukur meskipun lahir dari rahim orang tua yang tak punya apa-apa." lagi, air bening itu membasahi pipinya. Ratna terisak kecil saking terharunya.
"No! Edo yang seharusnya bangga punya bunda sama ayah yang sayang sama Edo. Maafin Edo, yang belum bisa bahagiain bunda sama ayah." Edo ikut terisak. Ia mencium beberapa kali tangan bundanya dengan perasaan haru. Diusianya yang menginjak 20 tahun, belum pernah sekalipun dirinya membelikan baju untuk sang bunda. Karena gajinya yang hanya satu juta, hanya cukup untuk makan seadanya saja.
"Bunda sayang banget sama Edo. Kerja yang giat yah, nak. Biar kamu tidak sengsara terus selama hidup bersama bunda. Bunda bisa pergi dengan tenang, jika hidup kamu di dunia yang kejam ini sudah senang."
Nyutt
Entah Edo yang terlalu lebay, atau memang perkataan bundanya yang terdengar memilukan. Edo malah menangis keras, ia memeluk bundanya erat. Bukan lagi terisak, Edo meraung keras, hatinya terasa begitu sakit mendengar kata-kata itu, kata-kata yang selama ini tak pernah mau ia dengarkan.
Setelah kepergian ayahnya dua tahun lalu, yang Edo punya hanyalah bundanya. Tak ada sanak saudara karena mereka terlahir dari keluarga yang miskin harta. Edo tak mau kehilangan lagi untuk yang ke sekian kalinya.
Tak ada lagi percakapan, Ratna hanya bergeming diam sambil memeluk Edo yang masih sesegukan. Seharusnya, kata yang semenyakitkan itu tak pernah ia katakan pada Edo, putranya yang ceria namun lemah jika menyangkut soal kepergian dirinya.
—————
Lelaki bermata sembab itu mengucek matanya berkali-kali. Setelah puas menangis selama satu jam, Edo baru tersadar jika kedua matanya sudah bengkak membesar, kepalanya juga terasa sangat sakit. Seharusnya ia tidur saja untuk menenangkan rasa nyeri di kepalanya. Namun, dirinya tak punya waktu, ia harus ngebut membaca buku pelajaran yang akan ia terangkan nanti malam.
Dengan mata yang berat juga nyeri, Edo terus membaca setiap rumus-rumus matematika yang sempat terlupakan oleh-nya. Untung masih ada sebagian rumus yang masih hinggap di otaknya, jadi ia tak perlu mempelajari semua rumus yang tertera di buku besar yang sedang dibacanya.
Ratna menghampiri putra satu-satunya yang sedang tekun belajar, sebuah nampan berisikan susu juga sepotong roti, Ratna hidangkan, untuk anaknya tersayang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, Edo sudah belajar kurang lebih 2 jam. Sedari pagi Edo belum sarapan, karena sibuk belajar. Ratna tahu betul bagaimana sikap anaknya itu, Edo takkan ingat makanan apapun disaat sedang asyik belajar. Nah, disinilah perannya sebagai orangtua dibutuhkan.
"Aaaa... dulu!" titah Ratna.
"Entar aja, Bun. Edo belum laper." tolak Edo tanpa mengalihkan pandangannya dari buku Matematika yang sedang dipegangnya.
"Bunda suapin! Kalo kamu gak mau makan, bunda gak bakalan izinin kamu buat ngajar!" ancam Ratna. Edo mendengus, ia menatap bundanya sekilas lalu mulai membuka mulutnya.
"Nah! Gitu dong... Enak gak?"
"Enak."
"Tebak! Rasa apa coba?" tanya Ratna. Ratna melemparkan lelucon yang mungkin tak terdengar lucu bagi Edo.
Dahi Edo berkerut, namun masih tetap pokus menatap buku." Rasa... Roti, kan?"
Ratna bertepuk antusias." Betul! Karena jawabannya benar. Bunda kasih bonus buat kamu,"
Edo akhirnya mengalihkan pandangannya pada sang bunda," bonus apa? Bunda mau masak nasi goreng sosis buat Edo?"
Ratna menggeleng." Tidak! Nih, bonusnya, habiskan ya?!" Ratna memberikan gelas susu yang masih terisi penuh pada Edo.
"Bundaaa...." rengek Edo."Edo bukan anak kecil lagi, gak usah minum susu SGM kayak gini!"
Edo sudah bukan lagi anak balita, namun kebiasaan Ratna dari dulu tetaplah sama. Satu gelas susu SGM untuk anak umur 3 tahun pasti akan Ratna berikan pada Edo yang sedang belajar. Biar otaknya jadi lebih encer, katanya.
"Di mata bunda, kamu masih anak kecil Edo. Ini susu bisa bikin otak kamu jadi lebih fresh." Ratna tetap kekeh pada pendiriannya. Dengan terpaksa, Edo harus mengalah dengan meminum susu buatan bundanya. Untuk soal rasa, susu SGM vanila itu memang selalu sama, enak rasanya.
"Edo mau pokus belajar dulu ya, Bun. Jangan biarin siapapun masuk ke kamar ini selain bunda." pinta Edo. Ratna mengangguk, ia meninggalkan Edo yang masih anteng terduduk di hadapan meja belajarnya.
Lelaki itu sudah kembali lagi pada pokusnya yang tadi sempat buyar karena ulah bundanya. Jika sudah dalam posisi yang seperti itu, Edo bisa tahan berjam-jam lamanya hanya untuk membaca beberapa buku saja.