Bab 2. Kepergok?

1155 Words
“P-pak, to-tolong saya …,” lirih Aurora bersujud di kaki Darka, ia tau Darka tak akan menjebaknya seperti tiga pria tadi. “Jadi benar kamu sering ke tepat seperti ini?” tanya Darka, tak habis pikir gosip yang ia dengar tentang Aurora benar adanya. Darka cukup kesal saat mengingat apa yang telah wanita itu lakukan padanya siang tadi. Ia udah menunggu lama untuk kedatangan Aurora, namun gadis kecil di depanya itu tak menampakkan batang hidung sampai hari menjelang sore. “Pa-pak, bawa sa-saya pergi dari sini,” ujar Aurora dengan isak tangis sembari memegangi kaki Darka dengan sangat kuat. Darka bingung dengan situasi yang ia hadapi, di satu sisi ia tak tega melihat keadaan Aurora yang acak-acakan. Di lain sisi ia tak ingin menjadi kambing hitam dari masalah Aurora dan ketiga pria itu. Ia tak mau bertanggung jawab untuk satu hal yang tak ia lakukan. “Baiklah ….” Darka menghela napas, memilih membantu Aurora setidaknya mengantar Aurora pulang dengan selamat. “Kamu minum?” tanya Darka menutup hidup saat mencium bau minuman keras yang sangat tajam dari tubuh Aurora. Tak hanya itu saja Darka melihat pipi Aurora yang merah padam, keringat dingin bercucuran di pelipis wanita itu. “Jangan-jangan ….” Darka bukanlah pria yang polos yang tak tau apa yang dirasakan Aurora sekarang, ia tentu tau dari hembusan napas Aurora dari bagaimana Aurora menatpnya. Ia tentu saja tau Aurora dalam pengaruh sesuatu yang membuat perempuan itu kehilang kendali, pantas saja ketiga preman itu menatap Aurora dengan tatapan tak biasa. Darka mengelengkan kepala melihat keadaan Aurora yang sangat mengenaskan. “Anak ini!” batin Darka kesal, mengendong Aurora menuju mobilnya. “Pak …,” lirih Aurora sekali lagi mencoba meruntuhkan pertahanan Darka, ia leluasa melakukan hal itu karena tau kedua tangan Darka sedang mengendongnya. “Hentikan Aurora!” kesal Darka dengan tindakan semena-mena dari Aurora. Darka tak suka ada orang yang menyentuh ranah terlarang dalam dirinya. Walaupun bagi sebagian pria itu hal biasa, tidak untuk Darka. Karena kesal, Darka dengan kasar mendudukkan Aurora di kursi penumpang tepat di sampingnya. Ia juga ikut masuk ke dalam mobil, untuk segera pergi dari tempat itu. Tak ingin hal buruk terjadi padanya dan Aurora. “Pak tolong saya …,” lirih Aurora menahan tangan Darka agar tak pergi. Darka menatap Aurora dengan tatapan dalam, dengan pikiran yang berkenala jauh. Aurora juga melakukan hal yang sama. Mereka saling bertatapan, memberi kode lewat mata. “Pak ….” Aurora menarik tengkuk Darka dan mencium bibir Darka dengan lembut. Gadis itu kehilangan arah, pertahanan terakhirnya pun goyah ia membiarkan dirinya hanyut dalam keindahan duniawi yang bisa membuatnya menyesal ketika bangun nanti. Walaupun telah menyerahkan segalanya, tetap saja ia tak menerima balasan dari sang pujaan hati. Namun, ia tak akan goyah selagi tak ada penolakan ia tak akan berhenti. “Aurora sialan!” batin Darka berusaha menahan diri agar tak membalas perlakuan Aurora. Jujur saja ia sempat tergoda dan memakan sedikit umpan yang diberikan Aurora. Ia juga manusia biasa yang jika disuguhkan sesuatu yang indah akan tetap menikmati walaupun sedikit. Karena tak mendapat penolakan dari Darka, Aurora dengan lihai menghilangkan pembatas diantara mereka. Sampai detik ini Darka tak protes, ia sama halnya dengan Aurora hanyut dalam keindahan duniawi yang diluar kendali. Mereka berdua tampak seperti dua orang yang saling menginginkan. “Stop Aurora!” Darka tersadar bahwa yang mereka lakukan sekarang adalah sesuatu yang salah. Ia langsung saja mendorong kepala Aurora untuk duduk dengan benar di kursi kemudi. “Oh Tuhan! Hampir saja,” batin Darka, keringat dingin tak berhenti mengalir dari pelipisnya. Hampir saja, semua akan hancur jika mereka melanjutkan kegiatan mereka. Sedangkan Aurora, wanita itu masih mencoba menghilangkan pembatas diatara mereka sepenuhnya. Dengan satu tarikan, ia berhasil menjatuhkan pembatas itu. Ia tak malu melainkan senang karena tak ada penolakan dari orang yang ada di depannya. Hal itu tak luput dari perhatian Darka, entah kenapa matanya menatap lekat di setiap pergerakan Aurora. “Aurora …,” lirih Darka pertahanannya pun runtuh, ia ikut tengelam dalam lautan peluh yang diciptakan Aurora. Hal itu terus berlanjut sampai salah satu dari mereka menyadari bahaya yang akan menimpa mereka jika terus melanjutkan. “Tunggu ….” Darka berhenti sebentar, ia menarik napas dalam untuk menormalkan detak jantungnya yang mengila. Pandangannya tertuju ke arah Aurora, ia baru menyadari mereka sudah terlalu jauh. “Lanjutkan Pak.” Mulut Darka mengangga saat mendengar penuturan itu. Apa Aurora sudah tak waras membiarkan orang asing bersamanya. “Tidak!” Darka dengan cepat mundur dari hadapan Aurora dan duduk dengan benar di kursi kemudi. Ini adalah sebuah kesalahan, ia tau Aurora tak benar-benar menginginkannya. Tak menunggu lama Darka menghidupkan mesin mobil untuk segera mengantar Aurora ke rumahnya, bisa bahaya kalau Aurora masih berada di dalam mobil. Ia takut kejadian beberapa detik yang lalu terulang kembali. *** Darka cukup bersyukur Aurora tidur saat perjalanan mereka, dan kini satu lagi permasalahannya. Darka tak tau di mana Aurora tinggal. “Pergaulan anak sekarang memang seram, ya,” Darka mengelengkan kepala melihat Aurora dengan santainya tidur di dalam mobil tanpa takut ia juga bisa berbuat hal yang sama seperti ketiga preman itu lakukan. “Aurora bangun … di mana rumahmu?” tanya Darka mencoba membangunkan Aurora. Terlihat mereka berhenti di pinggir jalan yang lumayan sepi, apalagi jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Hanya ada beberapa warga yang sedang ronda malam. Aurora masih tertidur lelap di samping Raka, tak ada tanda-tanda wanita itu akan bangun. “Ck!” menyusahkan saja. “Aurora bangun!” Darka mengoyangkan tubuh Aurora agar perempuan itu segera bangun. Sedari tadi Darka mencoba untuk menanyakan alamat perempuan itu, namun tak mendapatkan jawaban. “Aurora!” Darka mengoyangkan bahu Aurora dengan sangat kuat. Mereka harus pulang, dan tak mungkin Darka membawa Aurora ke hotel. Bisa-bisa orang-orang akan salah faham terhadap mereka. “Auro—“ Perkataan Darka terpotong dengan ketukan di kaca jendela mobilnya. “Siapa lagi sih!” kesal Darka, lalu membuka kaca jendelanya. “Apa yang kalian berdua lakukan di sini?” tanya salah satu bapak-bapak yang bisa Darka tebak bapak-bapak yang sedang ronda malam. Bapak-bapak itu melihat ke dalam. Darka melupakan satu hal, ada manusia lain di mobilnya selain dirinya. “Kalian muda-mudi tak tau adat!” “Pak, ini bukan seperti yang Bapak pikirkan. Saya hanya mengantarkan perempuan ini pulang, dan kami tak melakukan apa-apa. Anda salah faham,” ujar Darka walaupun dengan sedikit kebohongan. “Salah faham kamu bilang, dengan melihat kondisi kekasih kamu seperti itu dan kamu ….” Bapak itu melihat keadaan Darka yang hanya memakai singlet saja, tentu saja mereka curiga dengan Darka. “Tidak, Pak!” Panik Darka, ia tak mau citranya tercoreng dengan kejadian malam ini. “Cepat bawa orangtua kamu ke sini! Kami tak mau tempat kami menjadi kotor gara-gara ulah kalian. Setidaknya kamu harus menikahi perempuan itu!” kata salah satu dari Bapak itu. Lalu diikuti yang lainnya ikut menyoraki Darka agar menikah untuk bertangung jawab. “Aurora! Kamu menjerat saya dalam masalah besar!” batin Darka mengepalkan tangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD