Nindya pov Langkahku semakin cepat ketika melewati lorong di lantai empat, dimana ruang rawat anak berada. Sedari tadi jantungku berdegup cepat seiring perasaanku yang semakin khawatir. Setelah mendengar kabar dari Kalila tadi aku langsung ke lantai empat di gedung yang sama. Ruang rawat anak dan persalinan memang menjadi satu gedung. Perasaan bersalah semakin menghantuiku ketika berhenti di pintu nomor 407 dan membaca nama Ayya di identitas pasien. Sayup kudengar suara tangis Ayya dari dalam. Ruang rawat berukuran lima kali empat meter itu di d******i warna putih. Sontak suara tangis Ayya semakin terdengar keras saat aku membuka pintu. Mendapati Ayya menangis dalam gendongan Abra membuat jantungku berhenti berdetak beberapa saat. Rasa sesak di dadaku tumbuh dengan cepat. Air mata meme

