Part 1.c: Scars of Past

1227 Words
Sebelum aku berada di gua mistis di pegunungan Hulao, sepuluh tahun silam cahaya putih itu mencabik-cabik keangkuhanku. Begitu terang hingga membutakan keberanian, sangat dingin hingga membekukan keyakinan, amat mengerikan daripada seluruh kegelapan yang selalu ku lawan dengan gampangnya.   Cahaya senja menyoroti lapangan latihan pribadi Ryou. Peralatan tempur berceceran di sana, mulai dari belati, pedang, senapan otomatis hingga pistol berpeluru bahan kimia beracun. Ayahnya berjalan pelan ke sana membawa sebuah kotak yang ditutupi kain. Instruktur Ryou dengan segera merunduk kemudian pergi ketika melihat ayah Ryou. Masih ada beberapa orang lagi yang harus Ryou bunuh, latihannya belum selesai. Dengan cepat dia lemparkan dua pisau beracun di sisi kiri dan kanannya. Keduanya menancap kuat di dua kepala targetnya, membunuh kedua orang tersebut dalam hitungan detik. “Kau kehabisan waktu.” Ayahnya mengomentari. “Maaf Tuan, Aku akan berusaha lebih keras lagi,” jawab Ryou yakin. Ayahnya menepuk pundak Ryou, ia berbisik “Tidak..., tidak ada lagi latihan setelah ini....” Pupil Ryou mengecil, nafasnya berhenti sesaat. “... Aku akan berikan perintah terakhir.” Ayahnya menarik tangannya dari pundak Ryou. Ryou membatu begitu keras, dia belum siap. “Gou Kazama, Aku ingin kau membawa kotak ini dan bersembunyilah di bawah perapian sebelum matahari terbenam.” “... ... ...” sekuat tenaga Ryou mempertahankan postur siapnya.   Hari itu hari adalah pertama dan terakhir di mana ingatanku mengingat dirinya memanggilku dengan nama itu. Memori ini adalah awal dari mulanya mimpi buruk. Tak pernah berhenti. Aku tak yakin apakah ini juga mimpi, atau semua yang ku sangka mimpi adalah kenyataan.   Ryou bersama ayahnya dengan segera pergi dari persembunyian rahasia di mana Ryou dilatih menjadi pembunuh berdarah dingin sejak lahir. Kala itu usianya sebelas tahun. Tangan kecil kasarnya sudah menciptakan banyak teror. Bermandikan darah di pagi dan sore hari sudah biasa, mengoyak isi tubuh manusia bukanlah hal sulit untuk Ryou kecil. Kini dia dihadapkan pada pertarungan sebenarnya. Namun hingga saat ini dirinya belum siap, mungkin tak kan pernah siap seumur hidupnya. Persembunyian itu disergap oleh ratusan agen rahasia ibukota. Mereka adalah pasukan pemberontak presiden. Astaman Rouza adalah presiden saat itu, dia adalah ayah Ryou. Teror dan ancaman pembantaian sudah berada di ujung jurang, Astaman harus bertindak dan dia membawa Ryou keluar dari persembunyian sebelum para agen menyerbu tempat itu. Ryou adalah anak rahasianya, dan kini keduanya sedang menuju istana pemerintahan di kota Batul untuk berkumpul dan bersembunyi bersama adik perempuan dan ibu Ryou. Ryou ingin sekali bertemu dengan ibu dan adiknya. Dia sudah begitu lama tidak melihat ibunya, bahkan ia tak ingat seperti apa wajah ibunya. Ryou juga ingin sekali melihat wajah adiknya untuk pertama kali. Tetapi perintah dari ayahnya menjadi prioritas utama dan harus ia patuhi sebagai agen rahasia. Ryou tidak boleh terekspos oleh siapa pun. Setelah Ryou sampai di depan rumahnya, ia menunggu di balik kaca mobil hitam. Ryou melihat seorang wanita menunggu di depan pintu sambil menggenggam tangan seorang gadis kecil. “Apakah itu ibu dan adikku?” Setelah ayahnya masuk ke dalam rumah, Ryou keluar dari mobil lalu mengendap-endap masuk ke dalam untuk langsung bersembunyi di bawah perapian sesuai dengan apa yang ayahnya katakan. Puluhan penjaga berpatroli dengan peralatan lengkap mengamankan keluarga presiden dan Ryou berhasil masuk tanpa kesulitan. Ryou berhasil sampai di aula besar megah nan hampa tanpa ada seorang pun di sana. Matahari hampir tenggelam dan Ryou sudah bersembunyi di dalam perapian. Dirinya membawa kotak dari ayahnya. Ryou sangat ingin tahu apa isi dari kotak itu namun ayahnya memerintahkan untuk tidak melihat apa pun sampai semua benar-benar selesai. Ryou bertanya, apa yang akan terjadi, kenapa dia menunggu, dan kenapa dia ditugaskan untuk bersembunyi. “Apakah aku benar belum siap?” keluhnya merasa tak cukup kuat untuk bisa membantu ayahnya. Suara bel di jam dinding bergema begitu keras, Ryou bisa merasakan kehampaan aula di mana ia bersembunyi. Cahaya mulai hilang satu persatu dari tiap kaca rumah. Senja sebentar lagi usai, dan apa yang dikhawatirkan Ryou sebentar lagi datang. Ryou berusaha mengumpulkan konsentrasinya untuk dapat mendengar dari balik perapian. Terdengar suara perempuan berkata tidak, lalu ketukan sepatu cepat. Tak lama kemudian terdengar entakkan seperti sesuatu atau seseorang terjatuh. “Oh tidak...” Ryou mulai berkeringat. Sesuatu di dalam kotak Ryou mulai bergetar, kotak itu tiba-tiba menjadi sangat panas. “Apa yang terjadi?” Ryou semakin penasaran, denyut nadinya berdesir semakin kencang. Ryou kembali berkonsentrasi, debu dan serpihan abu menghujani Ryou, Rumahnya bergetar keras. “Assassin, kemungkinan besar!” Ruang aula kini sudah gelap seutuhnya, semua lampu mati. Cahaya matahari sudah tak berada di sana. Kemudian muncul dengan sekejap cahaya putih menyilaukan, begitu terang menusuk kelopak mata. Ryou menutup matanya dengan tangannya namun cahaya itu masih membutakan Ryou. Hanya putih, bersih, hampa dan dingin yang dirasakan Ryou. Jam di dinding tak terdengar ketukan detiknya. Sunyi senyap hanyut dalam cahaya putih menuju sesuatu begitu hampa. Begitu kosong seakan seluruh semesta alam menghilang dan hanya ada Ryou dan kotaknya yang tersisa di dunia. Perlahan cahaya itu meredup, Ryou membuka matanya kembali. “... Apakah sudah berakhir?” Ryou tahu menelusuri kejadian itu adalah kesalahan besar, hanya ada satu pilihan baginya yaitu kabur diam-diam dari sana dan menghilang untuk selamanya. Tangannya bergetar tak henti mulai detik itu. Ketika Ryou keluar dari perapian, ia melihat aula masih rapi seperti tidak terjadi apa-apa. Keingintahuannya berkata ia harus menyelidiki kejadian itu, namun dirinya tak ingin mati konyol. Ryou perlahan mengendap-endap keluar dari sana. Tak lama, Ryou menyadari semua orang sudah tiada, semua penjaga hilang. Namun anehnya tak ada pertumpahan darah apa pun bahkan tak ada satu dentuman dari senapan mereka. Jejaknya tak berbekas seperti semuanya lenyap tanpa alasan. “Apa ini?” Ryou sebisa mungkin tidak gentar dengan menelan ludah tiap kali dirinya ragu dan khawatir. Ryou mengintip ke luar dari jendela, udara tak terasa seperti waktu sedang berhenti. Ranting pohon diam tak melandai, dan daunnya tak jatuh ditarik daratan. Ryou mulai hilang pikiran, dirinya hanyut ke dalam ketakutan tiada tara. Dia memutuskan untuk kembali mencari jawaban. Dia sampai di depan kamar di mana ia mengira suara jeritan perempuan yang pertama ia dengar di bawah perapian. Pintu kamar itu tertutup rapat, Ryou membukanya pelan-pelan. Serpihan keramik guci berserakan di lantai. Barang-barang berhamburan seperti ada sebuah pertarungan. Kakinya melangkah, mata Ryou jelalatan, tangannya mulai basah. Seorang perempuan terkujur kaku berlumuran darah. “... ... Aku sudah terbiasa melihat hal seperti ini,” ungkap Ryou mencoba tegar. Ryou selidiki tubuh dingin itu, wanita itu adalah orang yang tadi menyambut ayahnya di depan pintu. “... ... Dia...” Dibalik wanita itu ada gadis kecil yang juga menyambut di depan pintu. Gadis itu juga sudah kaku. Suara sirene polisi memecah keheningan, Ryou harus segera pergi sebelum dia ditemukan di sana. Dari atas pohon seorang anak laki-laki sebaya dengannya melambaikan tangannya, ia mengisyaratkan Ryou untuk segera pergi. Ryou mengenalnya, dia adalah anak salah satu pelayannya ketika berada di persembunyian. Tak cukup waktu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Ryou keluar dari sana melalui jendela dan melompat ke arah batang pohon untuk segera pergi sebelum dirinya dapat masalah. Lompatannya tidak jauh, pijakan kakinya di atas kusen jendela tidak mantap, Ryou terjatuh dari lantai dua. Beruntung keterampilannya menyelamatkan dirinya dari kematian konyol.   Aku selalu berkata pada diriku sendiri, mereka bukan keluargaku, ayah masih hidup, dan dugaan tentang assassin hanyalah rasa takut di benakku. Hingga suatu saat, semua memori itu pudar. Menjadi mimpi yang selalu terbawa dikala mata terpejam, namun hilang dalam cahaya ketika mataku kembali terbuka. Takut, aku yakin ini rasa takut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD