4-Mengungsi

1615 Words
Awan mendung yang tadi siang muncul ternyata tidak memberikan efek apapun. Sepanjang hari cuaca begitu terik. Membuat Noel yang gampang berkeringat sampai harus ganti kemeja dua kali. Bahkan sampai sekarang tepatnya malam hari, udaranya masih saja terasa panas. Noel menghentikan mobil di halaman. Pintu garasi rumahnya dibuka dan terlihat mobil merah di dalam. Noel membuang napas panjang, mamanya sepertinya datang. “Semoga nggak ada permintaan aneh-aneh,” gumamnya. Lelaki itu turun dari mobil lalu berjalan pelan masuk lewat pintu samping. Samar-samar dia mendengar suara dari televisi. Noel lalu menuju ruang tengah dan melihat mamanya sedang duduk dengan beberapa kertas di tangan. “Mama udah lama?” Mama Noel seketika mengangkat wajah. Dia menepuk sisi sofa, meminta anaknya itu mendekat. Noel menurut duduk di samping Mamanya. “Mama tanya, kamu apain Emia?” Noel mengalihkan pandang. Sepertinya Emia atau mama gadis itu baru mengadu. “Nggak diapa-apain kok.” “Tapi ngomong aneh-aneh kan ke Emia? Sampai dia takut ketemu kamu.” Satu alis Noel terangkat. Benarkah seperti itu? Itu artinya bagus, Noel tak jadi dijodohkan dengan gadis itu. “Jawab, El. Jangan diam aja,” kata Mama Noel tak sabaran. “Cuma ngetes. Ternyata dia nggak bisa terima Noel apa adanya.” “Keterlaluan. Kamu bilang ke dia kalau kamu suka sesama jenis, kan?” Bibir Noel berkedut menahan tawa. Wajah ketakutan dan larian terbirit-b***t itu mau tak mau hinggap di pikiran Noel. “Habis digoda gitu aja langsung takut. Payah.” Mama Noel geleng-geleng. Dia lalu menyodorkan sepuluh foto ke anaknya. “Ini gadis yang mau Mama jodohkan ke kamu. Kamu pilih. Tiga bulan lagi nikah.” “NIKAH?” Noel berteriak kaget. Mama Noel mengangguk tegas. “Pilih satu diantara sepuluh. Kalau masih nggak cocok, Mama punya satu lagi dijamin kamu nggak bisa nolak,” jelasnya. “Atau kamu langsung ketemu gadis pilihan mama itu? Calon istri kamu.” Noel menatap foto itu dengan enggan. Dia mendorong tangan mamanya lalu menggeleng pelan. “Kan, Noel pernah bilang kalau bisa cari jodoh sendiri.” “Ya tapi kapan?” “Kapan-kapan, Ma.” Ucapan anaknya membuat Mama Noel menghela napas. Dia tidak sekhawatir ini jika anaknya memiliki gebetan atau sering jalan dengan beberapa gadis. Namun, Noel lebih sering jalan dengan Remy, Moren, Dean, Kelvin. Bagaimana Mama Noel tidak kepikiran? Dia takut saja anaknya itu tak mau berurusan dengan asmara. “El! Pokok Mama nggak mau tahu. Kamu harus pilih satu. Kalau enggak kamu kencani satu-satu terus tentukan pilihan.” Kalimat itu membuat Noel kaget. Mengencani satu-satu? Gila! Noel geleng-geleng masih tak percaya dengan saran mamanya. “Kalau akhirnya Noel playboy gimana? Mama mah aneh-aneh.” “Nggak aneh. Ini demi kebaikanmu.” Sepertinya perbincangan ini harus dihentikan. Noel segera berdiri, tapi ucapan mamanya membuat lelaki itu berdiri mematung. “Mama bakal ngintilin kamu sampai kamu setuju sama rencana mama.” Ini horor. Noel menoleh dan menatap mamanya tak percaya. “Bercanda kan ini?” Mama Noel duduk sambil melipat kedua tangan di depan d**a. “Apa wajah mama keliatan bercanda?” Noel menggeleng pelan. Dia lalu berjalan cepat menuju kamarnya. Tak lupa dia mengunci pintu daripada mamanya masuk dan kembali menyodorkan foto-foto tadi. Demi apapun, Noel bisa mencari pendamping sendiri. Tak perlu dengan cara seperti itu. “Nggak mungkin kan mama ngintilin gue?” gumamnya ingat dengan ucapan mamanya barusan Kedua tangan Noel mengusap wajah dengan tangannya. Dia tidak mau lagi diikuti mamanya, membuat beberapa orang yang melihat mengira jika dia anak mama. Ah, Noel tidak mau lagi dicap anak mama. Cukup masa SD sampai SMP dia dicap seperti itu karena sang mama selalu mengantar jemput, ikut hadir di acara pensi terlebih mamanya itu selalu heboh. “Horor!” Noel bergidik pelan. Dia juga yakin kalau mamanya telah bertindak maka kedua kakaknya juga akan bertindak. Noel tidak ingin seperti itu. Dia ingin hidup mandiri dan mencari jodoh sendiri. Bukan lewat perjodohan paksa lengkap dengan alarm “nyari jodoh” yang diucapkan mamanya. “Gue harus menghindar!” Cara itu mungkin ampuh, karena bagaimanapun mama dan kedua kakaknya pasti akan mencarinya dan rela mengalah asal dia kembali ke rumah. Noel tersenyum miring. Rencana kekanak-kanakan memang, tapi bolehlah dilakukan oleh lelaki dewasa seperti Noel.   ***   Trettt.... Waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari, tapi Noel sama sekali tidak peduli. Dia sekali lagi memencet bel, sambil mencengkeram tarikan koper di tangan kiri. Sedangkan tangan satunya kembali memencet bel agar pintu di depannya segera dibuka. Treett!! Trettt!! Ceklek! Pintu kokoh itu akhirnya dibuka. Lelaki dengan kaus tipis berdiri dengan mata ngantuknya. Noel menatap lelaki itu dengan senyuman lebar, seolah tidak merasa bersalah. “Gue nginep di tempat lo ya.” Mata Dean seketika terbuka. Dia menatap Noel dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapan Dean lalu tertuju ke mata Noel. “Bawa koper pakaian kacau, mau ke mana? Minggat?” “Minggat ke rumah lo.” Noel menepuk lengan Dean yang bertengger di kusen pintu. Tanpa dipersilahkan, Noel masuk rumah lalu menghempaskan tubuhnya di sofa panjang. “Gue nginep sini untuk beberapa waktu yang nggak bisa ditentukan.” “Kok lo kayak bos, sih?” tanya Dean heran. Dean menutup pintu, lalu berjalan mendekat. Satu alisnya terangkat menunggu respons dari lelaki di depannya itu. “Gue jadi buronan orangtua gue.” “Emang lo habis nyolong duit emak lo makanya jadi buronan?” “Nggak ada alasan yang lebih berkelas?” balas Noel heran. Dia membaringkan tubuh di sofa panjang lalu memijit kepalanya yang terasa berat. “Lo nggak lupa kan kalau gue mau dijodohin tapi gue nggak mau?” tanya Noel sambil menatap Dean. “Sekarang nyokap ngintilin gue. Biar gue nerima perjodohan ini.” “Terus lo kabur ke sini?” “Temen gue emang pinter.” “Malam ini lo tidur sini aja,” ucap Dean setelah itu meninggalkan Noel. Noel mendongak menatap kepergian Dean. Dia lalu mencari posisi nyaman. Dia terima saja tidur di sofa. Asalkan dia bebas dari desakan orangtuanya. Lengannya lalu menutup mata, menghalau sinar yang memantul dari lampu depan. Noel hendak memejamkan mata, tapi rasa kantuk itu hilang ke mana. Akhirnya dia memilih duduk sambil menyelonjorkan kaki di atas meja. Noel terdiam, ingat dengan percakapan mamanya tadi. Dia menggeleng tegas, sampai kapanpun dia tidak mau dijodohkan. Noel lalu bertopang dagu, ingat saat tadi mengendap-endap keluar. Malam hari memang waktu yang pas untuk kabur karena sang mama tak akan terbangun di tengah malam begini. Kruk! Suara perut itu berbunyi nyaring. Noel ingat jika belum makan malam. Akhirnya dia memilih menuju dapur. Tanpa meminta izin dia menguras saja isi kulkas Dean. Yah, ini namanya tamu tak tahu diuntung.   ***   Aksi kabur ini berjalan lancar karena sang mama belum juga menemukan Noel. Tadi pagi telepon dari sang mama memang tak berhenti. Satu kali Noel mengangkat panggilan itu, dia menjawab sedang di kantor. Untungnya sang mama tak bertanya macam-macam. Seperti biasa, Noel menyempatkan diri ke kafe. Dia ingin membawa beberapa makanan untuk dibawa pulang ke rumah Dean. Sial rumah sahabatnya itu sepertinya tidak menyediakan banyak makanan, padahal lelaki itu sudah memiliki istri. “Bawain nasi goreng jumbo sama cemilan-cemilan, ya. Gue butuh banyak,” perintah Noel ke Bento. Setelah mengucapkan itu Noel duduk di dekat meja kasir. Dia mengedarkan pandangan, mencari gadis yang dua kali ke kafenya. Sejauh mata memandang gadis berambut pendek itu tidak terlihat. “Belum ke sini kali ya.” “Siapa, Mas?” Noel menoleh dan menemukan karyawan barunya yang duduk di balik meja kasir. “Pengunjung baru. Cewek rambut pendek.” “Cewek rambut pendek banyak, Mas. Pacar Mas atau gimana?” “Nggak usah kepo, deh.” Daripada dikepoi, Noel memilih berkeliling. Yah itung-itung melihat setiap sudut kafe. Dia berjalan ke depan dan melihat halaman yang cukup luas. Halaman itu sepertinya masih bisa dijadikan tempat duduk. Noel tersenyum, jika mendapat untung dia akan menambahkan spot di depan. Lelaki itu lalu balik badan, tidak sengaja seorang gadis lewat membuat lengan mereka bersenggolan. Noel langsung menyentuh pundak gadis itu saat gadis itu terhuyung. “Reff. Ree..,” Noel mencoba mengingat gadis berambut pendek di depannya itu. “Revila.” Revila menggerakkan pundaknya hingga tangan Noel menjauh. Gadis itu lalu berjalan menuju meja yang tersisa. Heran, mengapa setiap ke sini Revila selalu bertemu dengan Noel. Kalau hanya berpapasan tidak masalah, tapi ini selalu berinteraksi. Melihat Revila yang duduk sambil bertopang dagu, Noel memilih mendekat. “Lo mau pesen apa?” “Gue udah pesen.” Noel manggut-manggut. Dia memperhatikan rambut depan Revila yang berantakan. Beberapa anak rambut menutupi kening. Noel mengulurkan tangan, tapi langsung menarik tangannya kembali. “Rambut lo berantakan.” Refleks Revila menyentuh kening lalu menarik rambut itu ke belakang. “Makasih.” “Lo barusan senyum?” tanya Noel saat melihat bibir Revila sedikit tertarik ke atas. Revila menggeleng pelan. Dia memang tersenyum singkat, tapi tidak mau mengakui. “Iya lo tadi senyum,” kata Noel yakin. “Terus urusannya sama lo apa?” Sekarang Noel terdiam. Benar, urusan senyum dengan dirinya apa? Noel menggaruk tengkuknya lalu menggeleng. “Ya nggak ada sih.” “Ya sudah kenapa harus diperdebat?” Setelah mengucapkan itu Revila membuka buku. Dia mulai membaca buku desain interior. Melihat itu Noel tampak tertarik. Gadis ini semester berapa? Kuliah di mana? Jurusan apa? Tapi pertanyaan itu hanya berputar di benaknya. “Silahkan, Kak.” Pelayan datang membawakan kentang goreng dan jeruk hangat. Revila mengalihkan pandang lalu mengambil jeruk hangat itu. “Lo nggak pesen air putih? Ada gratis buat pengujung,” kata Noel melihat Revila meniup jeruk hangatnya. “Terakhir gue minta lo ngasih gue kopi,” jawab Revila ingat kejadian dua hari yang lalu. “Kali ini enggak deh. Lo mau air putih? Bentar gue ambilin.” Revila mengernyit, bahkan dia tidak mengiakan. Dasar lelaki sok kenal. “Nih air mineral buat lo.” Noel kembali dengan air mineral dingin. Dia menyodorkan ke Revila tapi gadis itu tidak kunjung menerima. Noel menggerakkan botol itu agar diambil oleh Revila. “Lo nggak mau?” Kini arah pandang Revila tertuju ke lelaki di depannya. “Kan gue nggak pesen.” “Iya ya!” Menyerah, Noel meletakkan air mineral itu di atas meja. Dia kembali memperhatikan Revila yang menunduk sibuk membaca buku. “Tapi nggak apa-apa kok. Buat lo. Lo bawa pulang aja.” “....” Revila sibuk dengan buku di depannya. Sedangkan Noel menunggu gadis itu menjawab. Sepuluh detik berlalu dan tidak ada tanggapan apapun. Noel mulai tidak sabaran. Ingin rasanya dia terlibat obrolan dengan gadis itu. “Lo masih kuliah? Jurusan apa?” Tangan Revila terangkat menunjukkan buku desain interior yang sedang dia baca. Seolah itu sebagai jawaban dari pertanyaan Noel. “Oh desain interior. Semester berapa?” tanya Noel lagi. “Dua.” Revila menjawab singkat. Dia tidak bisa berkonsentrasi karena lelaki itu masih di depannya. Bahkan selalu mengajak ngobrol. “Gue ganggu, ya?” tanya Noel melihat tampang tak bersahabat Revila. “Menurut lo?” “Ganggu.” Noel lalu berdiri. Karena dia fokus menatap Revila, kakinya tidak sengaja menabrak kaki meja. Hingga meja itu bergeser dan isi gelas di atas meja itu tumpah. Noel seketika menatap Revila tak enak. Pasalnya bagian ujung buku itu  basah. “Lo ya!” kata Revila marah. Noel pasrah, mengaku salah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD