Entah setan mana yang sedang merasuki Safira, dia menerima tawaran lelaki asing yang baru saja ia temui beberapa jam yang lalu. Hanya karena dia juga berasal dari Indonesia atau karena perihal lain gadis itu mau satu ruangan dengannya. Ini seperti memberikan kesempatan untuk lelaki itu berbuat hal buruk padanya, namun pikiran itu tidak terbesit sama sekali dalam otak Safira.
Masalah yang menimpanya benar-benar mempengaruhi jalan pikirnya, padahal jika mau pasti ada penginapan lain di Sapporo yang masih kosong. Mereka tidak tersesat di kota terpencil, melainkan kota terbesar di Jepang yang banyak turis asing yang berlibur juga seperti mereka.
Sudah beberapa jam yang lalu Safira berbaring diatas sofa, tidak mungkin dia akan berbagi tempat tidur juga dengan lelaki asing. Dia masih cukup waras dalam hal ini, rasa kantuk tidak kunjung datang, gadis itu hanya menatap langit-langit tidak ada obrolan diantara keduanya.
“Siapa namamu?” Tanya lelaki itu membuka percakapan.
“Fira, Safira.” Jawab Safira tanpa mengalihkan pandangannya, matanya terlalu asik dalam pandangan kosong bahkan tidak bertenaga untuk sekadar menatap lelaki yang mengajaknya bicara.
“Bagaimana kamu tahu aku juga berasal dari Indonesia?” Tanya lelaki itu lagi, sepertinya lelaki itu memang berniat memecah keheningan di antara mereka, setidaknya dia harus tahu identitas gadis yang menarik simpatinya sedikit hingga muncul ide konyol dalam otaknya.
“Aku tidak sengaja melihat paspormu.” Jawab Safira kini menatap lelaki yang rupanya sejak tadi duduk bersandar dan memperhatikannya.
“Kamu berlibur sendiri?” Tanya lelaki itu lagi dan lagi.
Safira pikir lelaki itu adalah salah satu mahkluk dingin yang tak pandai berbicara, namun kini sosoknya berubah menjadi sedikit hangat dan ramah baginya. Entah hanya pikiran Safira atau memang lelaki itu ingin mengenal lebih jauh dirinya.
“Aku tidak sengaja pergi kesini. Kamu sendiri? berlibur sendiri?” Tanya Safira kini mulai melempar pertanyaan, berusaha memanjangkan obrolan. Tak enak rasanya dia sudah ditolong namun jawabannya seakan mematikan obrolan.
“Iya aku sendiri, hanya beberapa hari saja.” Jawab lelaki itu melirik ponselnya yang menyala, bahkan ada panggilan masuk namun dia tidak berniat untuk menjawabnya justru memilih mengubah posisi ponselnya menjadi terbalik.
“Namamu?” Tanya Safira lagi, dia memang membaca sebuah nama di paspor namun dia tetap harus berbasa-basi sebagai perkenalan awal.
“Arizal, kamu bisa panggil aku Rizal!” Jawab lelaki bernama lengkap Arizal Mahendra.
“Aku akan membayar harga setengahnya untuk kamar ini. bagaimana pun terimakasih sudah memberikan tumpangan, aku akan balik ke Indonesia besok!” Seru Fira, entah mengapa dia harus memberitahu Rizal tentang agendanya besok, padahal mereka memang hanya manusia asing yang berkenalan tanpa sengaja.
“Besok? Bukannya kamu baru tiba di Jepang dan kamu akan kembali lagi? Sebenarnya apa yang kamu pikirkan?” Tanya Rizal sedikit penasaran, jujur saja penampilan Fira memang cukup menarik perhatiannya, gadis itu pergi ke luar negeri dengan berbekal mantel musim dingin dan tas ransel yang biasa digunakan mahasiswanya untuk pergi ke kampus.
Gadis itu tak memberikan jawaban memilih melepaskan syal yang sejak tadi melilit lehernya dan melipatnya kembali menjadikannya sebagai bantal, sedangkan Rizal mulai terganggu dengan getaran di nakas yang disebabkan oleh ponselnya. Entah mengapa hari ini banyak sekali yang menghubunginya.
Mamah : Mas kamu ke Jepang nggak ngajak Yulia?
Dek Raline : Mas Rizal, angkat dong telepon Mbak Yulia. Aku capek banget dia telepon aku terus!
Yulia : Kamu serius ke Jepang, Sayang? Kok nggak ngajak aku sih? Kamu juga nggak ngabarin aku sama sekali. Apa karena pertengkaran kita semalam kamu pergi gitu aja. Oh ya udah terserah! Aku tunggu kamu pulang!
Rizal membacanya melalui notifikasi, para wanita di hidupnya sedang berusaha keras menghubunginya. Terlebih tunangannya, Rizal tahu persis jika dia membaca pesan itu dan memberikan kalimat penenang justru akan membuat gadis itu kian menjadi. Dengan berbagai kata dan sumpah serapah, kadang juga keras kepala. Lagi dan lagi Rizal harus membujuknya agar keadaan mereka membaik lagi.
Rizal melirik Safira yang sudah memejamkan mata, lelaki itu juga bingung mengapa ia peduli pada Safira yang bahkan tidak ia kenal. Bisa saja gadis itu menipunya, namun dia tetap membantunya.
Rizal menatap wallpaper ponselnya, terpampang jelas fotonya dan Yulia yang sedang berlibur di Bali beberapa bulan yang lalu. Gadis yang dulu adalah teman kuliahnya kini menjelma menjadi tunangannya, ah tidak tunangan lebih tepatnya kekasih hati karena sudah lima tahun menjalin hubungan Rizal tak kunjung melamarnya.
Dek Raline Is Calling…
Rizal hampir saja melempar ponselnya begitu nada dering terdengar, ia terlihat kelabakan karena melihat Safira yang sedikit terusik. Rizal menghela napas, akhirnya mengangkat panggilan itu tidak tega rasanya membiarkan adiknya terganggu karena ulahnya.
Halo, Mas Rizal! Kamu kemana aja sih! Kemana baru angkat telepon! Kenapa kamu mau angkat telepon dari Raline. Padahal daritadi aku juga telepon kamu loh!
Suara seorang gadis di Seberang telepon meracau tanpa henti membuat Rizal spontan menjauhkan ponselnya dari daun telinganya. Bukan Raline yang dia dengar melainkan suara Yulia, Rizal menghela napas memijat keningnya. Sepertinya rasa iba kepada adiknya berujung menjalar menjadi masalah rumit karena nanti pasti kekasihnya itu akan menuntut penjelasan, penjelasan yang tidak sesuai fakta namun sesuai keinginan hatinya.
“Kamu masih di rumahku? Ini sudah malam, Yulia! Sebaiknya kamu pulang!” Ucap Rizal melirik jam dinding hotel, sudah larut malam dan kekasihnya masih betah menunggu kabarnya di rumahnya.
Kamu ke Jepang nggak bilang sama aku? kamu tuh sayang nggak sih Mas sama aku! aku tuh khawatir karena kamu nggak bisa dihubungi dari pagi tadi. Malah asik-asikkan liburan, jangan bilang kamu sama cewek ya disana?
“Jangan ngaco kamu! Aku sudah pernah bilang sama kamu kalau aku mau liburan ke Jepang tapi kamu nggak mau karena kamu mau ke Paris karena ada tas keluaran terbaru.” Jelas Rizal mengingat dengan jelas, ajakannya telah ditolak oleh sang kekasih.
Ih aku nggak mau tahu, pokoknya aku mau kamu pulang sekarang!
Panggilan berakhir, Rizal menarik napasnya panjang menatap layar yang perlahan redup dan mati. Bahkan raganya yang sudah jauh dari Yulia masih terpengaruh dengan rengekan tidak masuk akal kekasihnya. Mungkin dia memang salah karena tidak memberitahu keberangkatannya, lagipula memberitahu Yulia atau tidak hasilnya akan sama. Gadis itu akan melarangnya pergi sendirian, tapi dia pun bersikeras enggan berlibur ke Jepang. Memilih ke Paris untuk berburu tas branded sebagai hobinya.
“Apa aku mengganggu tidurmu?” Tanya Rizal menyadari Safira yang kini menatapnya datar, seperti sedang mengumpulkan separuh nyawanya. Wajah bantalnya begitu terlihat, padahal dia baru beberapa menit yang lalu terlelap.
“Apa kamu sedang bertengkar dengan istrimu?” Tanya Safira tanpa sungkan, dia mengusap matanya yang terasa lengket.
“Kamu dengar?” Tanya Rizal terbelalak kaget, bisa jadi Safira mendengar semua obrolan mereka.
“Suaranya begitu keras, aku nggak ada maksud dengerin sih.” Ucap Safira membela diri, bukan salahnya jika dia sampai mendengar obrolan yang tidak seharusnya dia dengar. Rizal terdiam, padahal dia sudah hati-hati namun tetap saja gadis itu bisa mendengarnya. Tidak salah keduanya, bukankah mereka satu kamar jadi hal itu wajar, terlebih jarak antara sofa dan tempat tidur hanya dua mete saja.
“Dia bukan istriku!” Celetuk Rizal, membenarkan suatu hal sebelum salah paham.
“Tunanganmu?” Tanya Safira menyadari cincin yang melingkar di jari manis lelaki itu.
“Bukan juga, dia hanya pacarku saja! Tapi sudah lima tahun apakah bisa kusebut tunangan?” Tanya Rizal sambil tertawa, dia sendiri juga bingung status mereka itu apa. Terlalu lama jika disebut pacar mereka berkencan, namun sampai detik ini Rizal belum juga meminang Yulia.
“Sama saja.” Batin Safira menatap wajah Rizal yang justru terlihat murung setelah menerima telepon dari sang kekasih, gadis itu tidak ingin menyimpulkannya sendiri lebih memilih diam dan pura-pura tidak mengetahuinya.
“Apa sekarang kita sedang berselingkuh?” Tanya Safira membuat Rizal menoleh, alih-alih marah justru lelaki itu tertawa renyah sedangkan Safira justru menatapnya aneh.
“Bisa dibilang begitu, bisa dibilang tidak! karena kita baru mengenal beberapa jam yang lalu dan sekarang kita tidur di ruangan yang sama.” Jelas Rizal, Safira terdiam yang diucapkan Rizal ada benarnya juga, mereka tidak selingkuh karena tidak memiliki perasaan apapun namun bisa juga disebut sedang main belakang karena status Rizal sudah tidak lagi lajang.
***