“Mas Rizal!” “Mas Rizal!” Lelaki itu mendengar namanya dipanggil namun dia tidak peduli, lebih memilih berjalan terus tanpa menoleh ke belakang dimana Yulia tampak tertatih untuk mengejarnya. Rizal masih marah perihal Yulia yang mengambil Keputusan sendiri sampai makan malam kedua keluarga itu diadakan. Dia memang bersabar, namun bukankah kesabaran seseorang ada batasnya? “Ih Mas Rizal! Budek ya?” Hardik Yulia dengan kemarahan sudah dipuncak ubun-ubun, masuk ke dalam mobil tanpa dipersilahkan oleh Rizal. “Bisa nggak Yul? Kita nggak bertemu dulu? Aku pengen sendiri dulu.” Ucap Rizal dengan tenang, namun perkataannya justru membuat Yulia merasakan atsmosfer di antara mereka tak sehangat dulu, dingin dan dibatasi oleh dinding kaca yang tinggi. Dia bisa melihat Rizal disampingnya namun

