EPILOG

1258 Words

Syahid berjalan lesu dengan tatapan sendunya. Pemuda jangkung itu sama sekali tidak punya tenaga lagi. Rasanya ingin tidur lama sampai tidak bangun-bangun biar tidak banyak pikiran seperti sekarang ini. Bibirnya menghela pelan sembari tangannya mengusap rambutnya ke belakang. Matanya terpejam erat dengan berusaha melepaskan emosinya.. Syahid beranjak duduk hendak berbelok ke kamarnya. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar Omanya mengobrol dengan seseorang di telepon. "Mau bagimana lagi. Semua sudah terjadi, mungkin memang takdirnya dia begitu." Kata Omanya dengan menyenderkan bahunya pada kursi kebesarannya tanpa mengetahui kalau Syahid sedang mengupingnya. "Ya mungkin lebih baik begitu. Dengan dia buta begitu, Syahid semakin gak punya pilihan untuk kembali kan? Dia akan langsung men

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD