Tasya’s POV
“Aku tak akan mengulangi nya lagi” ucap mas Niko dengan menatap lekat mataku .
Aku tak bisa berkata kata. Aku hanya diam sambil menundukkan kepala ku.
“Lihat mas” ucap mas Niko lembut
Aku mengangkat kepala ku pelan dan melihat nya
“Percayalah, mas akan meminta persetujuan mu. Kali ini mas berjanji”
Tatapan mas Niko menyiratkan jika ia benar tak berbohong. Kali ini aku akan mempercayai nya.
“Sekarang kita keluar ya”
“Mau apa?”
“Periksa kandungan kamu, hari ini jadwal periksa kandungan kan?”
‘Dam kapan mas Niko tau soal itu, perasaan aku tak pernah memberitahu siapapun kecuali Rega’
“Ayok” kali ini mas Niko sudah berada di depan pintu mobil sebelah ku, ia menunggu ku untuk keluar.
“Mau aku gendong?” Tanya nya lagi
“Tidak, aku bisa jalan sendiri” ucap ku lalu segera turun
“Kamu masih marah?”
“Nggak kok mas” ucap ku lalu berjalan melewati nya. Dan aku dengar derap kaki mas Niko kalau ia mengikuti ku dari belakang.
Kami berdua berjalan menuju tempat biasa aku memeriksa kandungan, dan karna akubtau kalau terlambat aku menunggu di kursi tunggu dan sebelumny mengambil nomor urut terlebih dahulu.
“Nona maaf panggilan nona sudah terlewat beberapa saat yang lalu jadi nona harus menunggu” ujar perawat yang ada di depan pintu.
“Iya nggak pap- belum selesai aku bicara mas Niko sudah menyela begitu saja,
“Suruh dokter Riska meriksa nya terlebih dahulu” perintah Niko yang sontak menarik perhatian di sekitar nya.
“Ehhh.. nggak sus nggak jangan di pikirkan saya akan tunggu disini” karena tak enak aku menarik mas Niko menjauh.
“Mas kamu apa apaan si” kesal aku
“Emang kenapa? Kan kamu ..
“Aku apa? Aku nggak ada apa apa lagi mas, dan walaupun ada aku tak suka menggunai cara seperti itu kasihan dengan orang yang menunggu itu”
“Aku tak peduli, dan jangan halau aku untuk membuat mu nyaman”
“Dengan mas melakukan itu , sama saja mas membuatku tak nyaman” sentak ku
“Baiklah baiklah mas minta maaf, kita kembali dan menunggu” mas Niko membujuk ku lalu membawa ku kembali ke tempat dokter Riska.
Kami berdua menunggu di depan ruangan dokter Riska.
Tak lama kemudian datang banyak dokter dokter berpakaian jas putih dokter lengkap mengarahkan kepada ku dan mas Niko.
“Mas..” aku panggil mas Niko saat para dokter itu sujud hormat menunjukkan respeknmereka pada mas Niko yang sedang duduk anteng dengan handphone di tangan nya.
Mas Niko menatap ku balik, aku memberi perunjuk padanya dengan lirikan mata dan untungnya ia mengerti.
Mas Niko menatap para dokter itu dengan bingung.
“Mau apa rame rame begini!” Ucap mas Niko
“Maaf tuan Niko saya dan beberapa dokter telat menjeng-
Mas Niko menarik para dokter itu menjauh dan aku sama sekali tak tau apa yang mereka bicarakan tau tau mas Niko kembali hanyaseorang diri.
“Ada apa mas?”
“Ha? Nggak nggak ada”
“Mas aku serius”
“Iya aku serius”
Nama ki di panggil oleh perawat yang tadi mencatat nama ku.
Aku langsung berdiri lalu di ikuti oleh mas Niko di belakang.
Dokter Riska yang notabene masih baru sepertinya ia tak kenal dengan mas Niko.
“Selamat datang Nona Tasya” ucap Dokter Riska
“Iya dok”
“Eh.. pasangan nya beda ni hari ni”
Akibat ucapan dari dokter Riska sontak saja membuat mas Niko menatap balik ke arah ku.
Ia menatap ku seolah bertanya ‘siapa?’ Aku enggan menjawab nya lalu kembali menatap dokter Riska.
“Iya dok”
“Dokter Rega kemana? Aku pikir tadi kamu sama dia soalnya ia bolak balik nanyain kamu”
Wajah mas Niko berubah jadi kusut dan aku sangat tau itu.
“Iya ya dok” ucap ku sedikit nggak enak dan memberi tanda agar dokter Riska berhenti bertanya tentang Rega.
Dokter Riska untungnya mengerti ia langsung mengajak ku langsung naik ke ranjang tempat biasa aku di periksa.
Mas Niko yang masih mengikuti dan sekarang ia berdiri tak jauh dari ranjang ku.
Dokter Riska mengolesi gel di atas perut ku kemudian mengatahkan alat nya perlahan.
Aku menoleh ke arah monitor yang ada di sampingku sama dengan mas Niko ia begitu semangat menatap ke arah monitor.
“Wah bayi nya aktif ya buk, ia sepertinya semangat dilihat oleh ayah nya” ucap buk Riska tak kalah semangat
Tasya pun mengangguk ia sepemikiran dengan dokter Riska sebab tiap kali bertemu mas Niko bayinya bergerak tak wajar, apakah itu tanda ikatan batin sesungguhnya.
“Bayinya sehat kan dok?” Mas Niko membuka suara
“Dari perkembangan nya yang saya pantau anak anak nya sehat”
“Syukurlah” mas Niko menghela napas pajang
“Jenis kelamin kapan bisa ketahuan dok?”
“Sebenarny pada bulan ini sudah bisa terlihat, namun spertinya anak anak bapak ibuk cukup malu untuk memperlihatkan nya pada kita” ujar dokter Riska
“Oh benarkah?”
“Iya, kemungkinan pada pertemuan berikutnya kita bisa lihat jika anak bapak ibuk tak bergelut lagi ya”
“Iya dok” jawab mas Niko tak kalah semangat
“Baiklah ibuk bisa turun” ucap dokter Riska sembari menutup kembali perut ku dan Mas Niko membantu ku turun dari ranjang.
Kami berdua mengikuti buk Riska sampai ke tempat dudukny lalu duduk di depan dokter Riska.
“Sepertinya yang di ketahui anak bapak ibuk kembar, namun dalah tahap ini belum bisa diketahui karena mereka terlalu dekat dan saya sangat sulit melihat nya”
“Apa ada kemungkinan cewek cowok dok?” Tanya ku
“Bisa dong buk”
“Wah.. lucu dong langsung dapat sepasang” ucap ku semangat
Niko’s POV
Aku meihat Tasya yang begitu bahagia membuat hati ku bergetir, beribu maaf ingin aku sampaikan padanya tapi apa ia mau memaafkan aku yang penuh dosa ini.
Dan apa dia akan menerima ku kembali setelah apa yang aku lakukan padanya, mungkin masih terbekas sampai sekarang luka itu.
Untuk memiliki anak dalam kandungan Tasya pun aku masih sangat ragu, apa aku pantas.
Setelah Dokter Riska menjelaskan pada kami aku dan Tasya di perbolehkan untuk keluar.
“Boleh aku memegang mu?” Tanya ku l, karena sesuai janji tadi aku harus bertanya dulu pendapatnya.
Tasya mengangguk setuju.
Aku pun menuntun Tasya di samping nya sampai ke dalam mobil.