14

742 Words
Kecanggungan adalah hal pertama kali yang kurasakan ketika mataku membuka di pagi hari itu. Belum terlalu pagi karena sempat kulihat jam yang bahkan belum menunjukkan pukul enam pagi. Tapi bukan karena jam semua kecanggungan itu dimulai, melainkan bagaimana keadaan bangunku yang membuat semua terasa tak benar. Entah apa warna wajahku ketika hal yang pertama kali kulihat adalah wajah lelap Kiandra di pelukanku. Bagaimana bisa aku melupakan fakta bahwa malam tadi kutarik tubuh mungilnya untuk merekat erat di rengkuhanku? Atau bagaimana bisa aku mengabaikan kenyataan bahwa kutuntun kepalanya agar berbantal lenganku? Dan sekarang aku terkejut dengan semua tindakanku malam itu? Harusnya aku bisa menebak semua ini ketika aku melakukan semua itu padanya malam tadi. Kini aku tak mungkin bisa bertindak seolah tak ada apa-apa yang terjadi di antara aku dan dia. “Kau sudah bangun?” Aku hampir saja melonjak kaget ketika tiba-tiba suara Kiandra terdengar di telingaku. Kupalingkan wajahku ke sisi lain dan aku mengangguk. Detik selanjutnya, kurasakan beban yang menghilang dari lenganku seiring dengan tubuhnya yang bangkit bangun. “Malam tadi...,” lirih Kiandra pelan. Dan walaupun pelan tetap saja mampu menarik perhatianku seketika. Ia terlihat merona di bawah tatapanku. “...itu sama indahnya dengan mimpiku.” “Mimpi?” Aku malah bertanya seolah orang bodoh. Tak mungkin ia sedang membicarakan ciumanku malam itu, bukan? “Malam itu..., aku bermimpi kau menciumku dengan lembut. Selembut malam tadi.” Aku melongo mendengar perkataannya. Dan ia terlihat jengah dengan malu. Matanya terlihat begitu membulat sekarang. Maka aku tak mengatakan apa-apa ketika ia beranjak ke kamar mandi. Seketika telapak tanganku menepuk dahiku. Astaga! Bagaimana bisa aku melakukan ini semua? & “Kapan saya bisa pulang, Dok?” tanyaku siang itu ketika Dokter datang memeriksa keadaanku. Tentu saja itu pertanyaan pertama yang terlontar dari mulutku ketika ia tiba di kamarku. Aku sudah tak betah berlama-lama tinggal di rumah sakit. Sepanjang hari aku menghabiskan waktu hanya dengan menonton, membaca majalah, atau berbicara hal yang tak penting dengan Kiandra. Dan itu semua membuatku bosan. Dokter itu tersenyum sembari memberikan lembar pemeriksaannya pada perawat di sampingnya. “Sekitar dua hari lagi, Pak. Dan Bapak bisa pulang.” Aku mengangguk muram mendengar perkataannya. Dua hari lagi mungkin akan terasa bagai dua tahun bagiku di sini. “Kalau kau sudah pulang, kurasa kau harus memperhatikan kebiasaanmu itu, Rick.” Kiandra berkata tepat ketika Dokter dan perawat meninggalkan kamarku. Ia terdengar menghela napas panjang. “Kau harus memikirkan kesehatanmu.” “Kau tak perlu mempedulikan soal kesehatanku.” Lagi-lagi kudengar Kiandra menghela napas. Mungkin saat ia ia sedang bingung dengan tingkahku. Bagaimana tidak bingung bila ia mendapat ciuman selembut kapas malam harinya dan ia kembali diperlakukan dengan dingin di siang harinya? Ya, wanita mana pun pasti akan bingung, termasuk juga Kiandra tentunya. Aku tak menghiraukan Kiandra dan lebih memilih sibuk mencari acara menarik di televisi, hingga kemudian perkataan Kiandra membuat perhatianku teralih seketika. “Kau tak mungkin bisa menjaga Papamu kalau keadaanmu sendiri seperti ini.” “Apa maksudmu?” tanyaku dengan nada yang jelas-jelas tak suka dengan perkataannya. “Kau jangan sok tahu. Jangan mengatakan hal yang tak kau ketahui. Kau tak tahu apa-apa tentangnya.” Kiandra menatapku. “Maaf, Rick. Aku memang tak tahu apa-apa. Yang kutahu hanyalah kabar bahwa Papamu sedang sakit dan Kakek yang merawatnya.” “Ia memisahkan aku dan Papa,” ralatku. Mendadak aku merasakan luapan emosi yang ingin meledak di dalam dadaku. “Ia tak bermaksud untuk merawatnya.” “Bukan memisahkan. Ia tak percaya kau bisa menjaga Papamu kalau keadaanmu sendiri saja seperti ini,” tukas Kiandra. “Dan siapa pun orangnya pasti akan berpikir hal yang sama.” Dan aku terkesiap mendengar tukasannya itu. Bagaimana bisa ia berkata seperti itu? “K-k-kau...” “Setiap hari kau pergi keluar. Terkadang kau tak pulang berhari-hari. Kau habiskan waktumu entah di mana. Dan bagaimana kau bisa menjaga Papamu? Bagaimana, Rick?” Aku terdiam. Kurasa karena aku sekarang terbaring di rumah sakit karena alkohol maka Kiandra pasti sudah bisa menerka bahwa tak pulangnya diriku beberapa hari bukan lantaran karena pekerjaan. Tapi, mengapa mendadak aku merasa tak enak? “Percuma,” desisku. “Kalau pun aku di rumah, Papa juga tak akan dikembalikan padaku. Itu hanyalah dalih Kakek untuk memisahkan kami. Toh, kalau pun aku sehat aku tetap tak bisa bersama dengannya.” Kiandra menghampiriku. Satu tangannya tampak mengusap pelan punggung tanganku. Ia tersenyum dengan lembut. “Apa kau ingin merawat Papamu? Apa kau ingin melihat Papamu tinggal di rumah kita? Jadi, setiap saat kau bisa bersamanya. Dan tentu saja, kau bisa merawatnya.” Aku menatapnya. Jantungku mendadak berdegup lebih kencang dari biasanya. Dan untuk itu, Kiandra mengangguk pelan, seolah sedang berusaha untuk meyakinkanku. Apa mungkin bisa? Lalu, mendadak ada sesuatu yang asing muncul di hatiku. Ya. Aku berharap. & bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD