Waktu merangkak membawa raga yang semakin layu. Dengan kebingungan yang seakan berlari tunggang langgang berusaha menemukan jalan. Terbelenggu pada dua pilihan yang sejatinya sama saja hasil akhirnya. Kematian. Hiro mengamati sekeliling bilik itu. Tempat dimana dia biasa melampiaskan segalanya. Meluapkan kemarahannya dengan cara yang terampil dia lakukan. Batin Hiro menghitung. Sudah berapa hari dia tidak melihat Yuki? Batinnya merutuk kelemahan dirinya. Kelemahan yang mengatakan sebuah pengharapan bahwa wanita itu baik-baik saja, dimanapun dia berada. Selama ini, Hiro selalu menekan perasaan itu. Menggantinya dengan tindakan yang bisa membuatnya melupa walau sejenak. Sejenak saja. Sejenak yang menyakiti wanita itu hingga pada tingkatan sakit yang tidak terperi. Tubuh Hiro sedikit memb

