Ucapan Dilara terhenti, bahwa lokasi yang ia datangi adalah tempat hiburan malam. Bibir Dilara terkatup rapat, ia terus meneliti layar ponselnya takutnya salah tempat.
Namun nihil, lokasinya benar berada di sana. Masih belum percaya, Dilara mencoba menghubungi Tessa supaya dia menjelaskan.
Tak lama kemudian, Tessa keluar dari club dengan make up juga pakaian yang begitu terbuka. Menampilkan lekuk tubuhnya seperti bukan anak kuliah pada umumnya.
"Kenapa nggak langsung masuk aja?" tanya Tessa menyapa Dilara yang masih kebingungan di tempatnya.
Bagaimana tidak bingung, Dilara bukanlah anak kecil lagi, dia sudah dewasa tentunya paham apa maksud pekerjaan yang dijelaskan oleh Tessa.
"Ke-kenapa kamu menawarkan pekerjaan seperti ini, Sa?" tanya Dilara berbata, enggan untuk mencoba karena itu memang tempat berbahaya bagi anak remaja sepertinya.
Namun tidak berlaku bagi Tessa. Dia berbeda dengan anak remaja pada usianya. Tessa memang sering datang untuk bersenang-senang, lantaran di sinilah sumber penghasilannya supaya dia bisa bertahan hidup.
Pekerjaan malam yang menghasilkan jumlah besar, bisa diandalkan jika sedang dibutuhkan. Makanya Tessa berpikir, jika Dilara tertarik untuk bergabung dengannya di sini.
"Aku 'kan nggak maksa kamu, La. Kamu setuju pas aku tawarin itu. Semua tergantung kamu, kalau misalkan kamu butuh buat pengobatan ibumu ya terpaksa harus ikut aku," ujar Tessa. Bukan bermaksud jahat, hanya saja Tessa hanya bisa membantu lewat cara ini. Salah memang, tapi mau bagaimana lagi jika sedang gamang.
Dilara diam, menimbang-nimbang tawaran. Masih tidak mengerti soal dunia malam.
"Di sana kerja sebagai apa, Sa? Apa aku bisa mendapatkan uang buat pengobatan Ibu dalam waktu semalam?" tanya Dilara, harus menekan egonya agar dia segera mendapat uang.
"Bisa sih, memangnya kamu butuh buat kapan? Sebaiknya kamu bicarakan dengan Madam, siapa tahu dia ada solusi, tapi kamu siap gak nerima konsekuensinya?" Tessa bertanya, ingin memastikan kesiapan Dilara sebelum bergabung. Tentunya agar Dilara tidak menyesal nantinya.
"Aku siap, asalkan uang itu harus terkumpul besok."
Setelah berpikir panjang, akhirnya Dilara menyetujui ajakan Tessa. Ia terpaksa, melakukan pekerjaan ini demi kesembuhan ibunya. Bilamana uangnya sudah ada, Dilara tidak akan datang lagi ke tempat, hanya malam ini.
Ketika masuk ke club, Dilara menutup hidungnya karena tidak kuat mencium bau alkohol yang begitu menusuk ke indra penciumannya. Kepala Dilara terasa pening, berada di tempat bising dan ramainya orang tengah berjoget ria di podium sana.
Ia meneguk ludah susah payah, bola matanya hampir membeliak memperhatikan penampilan wanita di sini tampil dengan baju kurang bahan semua.
Tessa yang memang sudah paham hanya tertawa kecil menanggapi. "Jangan kaget kalau lihat perempuan di sini seksi dan bin*l, namanya juga pekerjaan malam. Kamu juga pasti paham."
"Iya, Sa."
Kedua wanita muda itu mendatangi seseorang, Dilara kurang nyaman, sepanjang masuk terus diperhatikan.
"Ini teman kamu yang lagi butuh uang?" tanya Madam Lauren, menelisik Dilara dari atas sampai bawah. Lalu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dilara tidak tahu dia siapa, tetapi sepertinya bukanlah orang biasa. Wanita ini seperti orang yang punya kuasa.
"Iya, Madam. Kenalin namanya Dilara, dia butuh uang banyak untuk pengobatan Ibunya," papar Tessa begitu sopan. Dilara tersenyum paksa, saat Madam Lauren terus menatapnya.
"Sa-saya Dilara, Tante."
"Panggil Madam aja, La," bisik Tessa.
"Cantik juga," kata Madam Lauren, memuji kecantikan gadis di depannya. "Sayangnya gak menarik, coba kamu bantu pilihkan baju yang cocok untuk dia, sekalian dandani supaya laku," titahnya dan diangguki Tessa.
Alis Dilara saling tertaut bingung. Apa maksudnya laku? Mendadak ia jadi tidak enak, degup jantungnya bertalu lebih cepat.
"Hei!" Suara Madam Lauren menghentikan langkah mereka. "Kamu harus ingat satu hal, patuhi perjanjian jika ingin kerja di sini." Ia mengarahkan telunjuk pada Dilara, gadis itu pun hanya bisa mengangguk paham.
***
Sementara di lain tempat. Mahendra tengah menunggu di ruang tamu karena Adelia --- istrinya belum kunjung pulang, entah ke mana perginya wanita itu sampai malam kian larut tidak ada di rumah.
Mahendra Arghatama, pria berusia tiga puluh delapan tahun tersebut menatap jam dinding. Pulang bekerja bukannya disambut, malah seperti ini yang ia dapati setiap hari.
"Regina, ke mana lagi Mama kamu pergi?" Mahendra bertanya pada putri sulungnya.
Regina mengedikkan bahunya, pertanda tidak tahu ibunya pergi ke mana. "Nggak tahu, Pa. Karin aja sampai nangis ditinggal Mama," balas Regina, sambil menggendong adik bungsunya ke kamar.
Mahendra sudah kesal, Adelia memang sering sekali keluyuran dan menghambur-hamburkan uang.
"Kamu tidurin aja adikmu dulu, Papa lagi nunggu mamamu," kata Mahendra, menyempatkan diri untuk mengecupi dua putrinya.
Selama berumah tangga dengan Adelia, keduanya dikaruniai dua putri. Yang pertama Regina Faramitha, yang kedua Karina Filanditha.
"Papa ... temenin Nana bobo," pinta Karina pada ayahnya, dengan wajah menahan kantuk.
"Nana sama Kak Gina dulu ya tidurnya, Papa harus nungguin Mama."
"Gina ke kamar dulu, Pa. Semoga aja Mama cepat pulang," pamit Regina meninggalkan Mahendra seorang diri.
Deru mesin kendaraan terdengar, menyadarkan lamunan Mahendra yang masih duduk. Itu pasti Adelia, Mahendra bisa menebak.
Benar saja, sosok Adelia memasuki kediaman dengan begitu santai.
"Bagus, tengah malam baru pulang. Ke mana saja kamu, Adelia?" tanya Mahendra, wajahnya begitu dingin dan datar.
Dia bangkit berdiri, menghampiri sang istri. Adelia tergagap, dia pikir suaminya masih di luar kota.
"Mas? Loh kamu udah pulang? Kok nggak ngasih tahu aku?" tanya Adelia, berusaha menghalau rasa gugupnya.
"Jangan memutaralihkan pembicaraan! Cepat katakan padaku, dari mana saja kau?" Adelia berjingkat, ketika suaminya bicara dengan nada tinggi.
"Ak-aku ... habis arisan Mas sama temen-temenku," balas Adelia beralibi. Selama ini Mahendra tidak tahu kalau Adelia bermain api dengan supirnya sendiri.
Mahendra menatap tak percaya. "Arisan? Apa gak berlebihan pulang Arisan sampai larut malam?"
Adelia sadar, bahwa suaminya tidak percaya. Namun, bukan Adelia namanya jika menyerah begitu saja.
"Apa-apaan sih, Mas? Jadi kamu nuduh aku yang nggak-nggak gitu? Kalau kamu gak percaya tanya aja si Aji, cape aku kamu tuduh terus, Mas," cerocos Adelia.
"Aku tidak menuduhmu, aku hanya bertanya. Kamu merasa?" Mahendra menaikkan sebelah alisnya.
"Mas! Kamu keterlaluan kalau nuduh aku yang nggak-nggak!" Adelia terus menyangkal.
"Lain kali tepat waktu jika pulang. Kamu harus ingat, punya suami dan anak yang harus kamu urus. Jangan egois, hanya mementingkan diri sendiri."
"Kenapa sih kamu tuh selalu aja nyari-nyari kesalahan aku! Aku gini karena kamu sibuk kerja terus. Mana pernah kamu nyempetin waktu buat aku. Kamu harus tahu itu!" Dengan lancang, Adelia melawan.
Setiap hari tidak jauh terlibat pertengkaran, yang membuat Adelia nekat berselingkuh dan Mahendra semakin malas berada di rumah.
"Mau ke mana kamu?" tanya Adelia sambil menahan lengan suaminya.
"Keluar, pusing aku ngadepin kamu, Adelia. Semakin lama kamu menyebalkan!"