*** "Saya tutup teleponnya ya, Valeria. Maaf kalau mengganggu waktu kamu malam-malam." "Enggak mengganggu kok, Om. Kebetulan saya juga lagi luang. Enggak apa-apa." "Oke, kalau begitu. Saya matiin teleponnya." Tanpa menimpali, Valeria hanya tersenyum tipis sebagai respon, sementara dari sebrang sana Tegar—orang yang menghubungi nomornya beberapa waktu lalu, menyudahi panggilan. Selesai urusan dengan Asta, Valeria memang dihubungi sang calon mertua. Bukan untuk sekadar berbasa-basi, ataupun mengobrol santai, Tegar memiliki tujuan meneleponnya yaitu; meminta tolong agar Valeria tak mendesak Sastra untuk segera menikahinya. Tak berbeda dari sebelumnya, alasan Sastra tidak boleh dituntut untuk segera menikahi Valeria masih karena Mirea. Mengungkit informasi yang sebelumnya pernah disampai

