Awal Pertemanan

1121 Words
    Gelak tawa memenuhi seisi dapur, ketiga wanita yang sedang bersenda gurau melupakan waktu kerjanya sekejap, memukul-mukul meja karena mereka tidak bisa menghentikan tawanya, sedangkan satu wanita lainnya hanya memajukan mulutnya dengan kesal, walaupun sesekali menertawakan dirinya sendiri. "Udah dong Bu! Na! Kalian mah jahat sama aku." kata Keke dengan cemberut. "Hahaha ya lagi kamu kenapa nggak beruntung mulu sih Ke." ujar Diana dengan tertawa.     Mereka sedang menertawakan kelakuan Keke kemarin, seharusnya kemarin itu Diana yang mengantarkan kue ke gedung tinggi namun karena Keke mendengarnya, dia dengan semangat empat lima meminta kepada Bu Kikan untuk dia-lah yang mengantarkan kue itu, dia berpikir akan seperti Diana mendapatkan pelanggan yang tampan, namun naas yang membeli kue itu adalah bapak-bapak berkepala plontos, perut buncit dan berkumis tebal. Tak lupa dia juga menggoda Keke di saat Keke sudah sampai di gedung tinggi itu.     Diana sangat bersyukur bukan dia yang mengantarkan kue itu, kalau sampai dia yang mengantarnya, bisa-bisa kumis tebal si bapak-bapak itu hilang karena di cukur Diana. "Udah udah, Na kamu gantiin Doni gih di depan, dia suruh anter kue." kata Bu Kikan.     Diana mengangguk dan keluar dari dapur, dia menyuruh Doni untuk ke dapur, sekarang dia-lah yang berdiri di belakang mesin uang ini, Diana masih terkekeh sendiri membayangkan si Bapak berkepala plontos itu. Bagaimana bentukannya ya? "Hai." Diana tersentak dan langsung mengerjapkan matanya melihat siapa yang menyapanya. Si penghilang blacky. "Hai juga." balas Diana. "Mau pesan apa?" tanya Diana. Keyro menggeleng dan menunjuk meja yang sudah berisikan roti dan kopi. "Saya sudah pesan. Kamu sibuk?" Diana mengangguk. "Sibuk nunggu orang beli dan bayar." Keyro terkekeh. "Saya mau ngobrol sama kamu, tapi kamu lagi sibuk. Yaudah gapapa saya tunggu." ujar Keyro dengan tersenyum lalu duduk kembali ke tempatnya.     Diana terdiam. Apa-apaan dia? Tersenyum di depanku seperti itu? Dia pikir aku akan meleleh melihat senyumnya? Diana menggelengkan kepalanya dan melirik ke pria itu. Keyro sedang melihatnya dengan terkekeh. Sialan. -- -●-●- "Aku nggak ngerti kenapa Ibu baik banget izinin aku buat temenin kamu ngobrol." Sama Gaga aja nggak boleh. Lanjutnya di dalam hati. Keyro menghendikan bahunya. "Mungkin Ibu kamu seneng sama saya maka dari itu dia izinin kamu." jawab Keyro dengan tertawa kecil. Diana memutar bola matanya. "Pede." "Umur berapa?" Diana menaikkan alisnya. "Nanya umur aku berapa?" tanyanya dan Keyro mengangguk. "Masih empat belas tahun." jawabnya santai dan percaya diri. Keyro terkekeh. "Ada ya umur empat belas tahun tapi mukanya udah keriput gitu." Mata Diana terbelalak dan menegakkan tubuhnya. "Enak aja kamu! Aku tampol nih!" Keyro tertawa kecil dan menaikkan alisnya kaget karena melihat wanita di depannya sudah mengepalkan tangannya seperti ingin meninju. "Dua puluh." Keyro mengangguk. "Saya dua puluh tiga." "Aku nggak nanya." jawab Diana. "Gimana, blacky nggak ketemu ya?" lanjutnya. Keyro terdiam. Sialan dah baru pertama kali gue di permalukan seperti ini. "Belum saya temukan. Maaf ya, gimana sama vespanya? Nggak ada masalahkan?" Diana mengangguk dan menunduk memainkan jari-jarinya. "Aku lebih cepat sampai ke toko karena bluerby, tapi aku kangen sama blacky." "Bluerby?" beo Keyro. "Vespa biru cantik pemberianmu itu." "Saya minta maaf karena belum bisa nemuin blacky kamu. Gimana kalau hari ini kita cari dia bareng-bareng?" Diana melihat ke wajah Keyro dengan tatapan yang Keyro tidak mengerti. "Beneran? Tapi aku masih kerja Om, mana boleh sama Ibu."     Keyro mengangguk dan tersenyum, dia berjalan ke arah dapur dan masuk, Diana hanya melihat tingkah pria itu, Diana sudah tahu kalau pria itu akan meminta izin ke Ibu Kikan. Dan Diana juga sudah yakin pasti Ibu Kikan mengizinkannya. "Yuk." Diana menoleh ke asal suara, Keyro dengan tersenyum dan membenarkan jasnya kembali. "Tapi naik bluerby kamu ya." lanjutnya. Diana mengangguk. Dia berjalan ke arah dapur, melepas apron dan mengambil tasnya lalu mencium tangan tantenya. Keyro sudah menunggunya di luar dan di samping vespa biru. "Nih." ujar Diana dengan memberikan kunci motor ke Keyro. "Kok saya? Kamu-lah kan ini punya kamu." "Ih aku kan cewek, masa aku boncengin cowok yang badannya segede gaban gini sih!" Keyro hanya terkekeh lalu duduk di kursi penumpang. "Udah cepet! panas nih." Diana berdecak dan memakai helmnya dan memberikan helm milik Keke ke Keyro. "Pacarnya Rossi mau ngebut nih." ujarnya.     Di dalam perjalanan mereka berdua hanya menertawakan orang-orang yang mereka lewati, dari wanita bonceng tiga, tidak memakai helm, pacaran di pinggir jalan dan sebagainya. "Gila ya kamu! Diem-diem ih aku jadi kegok tahu!" kata Diana dengan tertawa.         "Ya abis kami! Kalo punya mulut nggak di saring dulu." jawab Keyro dengan tertawa kecil. "Siapa suruh kamu nyuruh aku liat mereka semua, ya pasti aku komenin lah." "Ih kan tujuan kita mau cari blacky! Kenapa jadi ketawain orang." lanjut Diana. Tangan Diana membawa motornya ke jalan Mangga yang kemarin dia tinggal sepedanya di sana, dengan laju pelan dia melihat sekeliling, berharap ada sepeda hitam miliknya di sana. "Sepeda butut kamu ciri-cirinya selain hitam dan butut apa lagi sih?" tanya Keyro tanpa dosa. Diana terbelalak dan mengerem mendadak, membuat tubuh Keyro ke depan. "Songong banget kamu! Sepeda aku itu nggak butut!" "Nggak usah ngerem mendadak juga kali." gumam Keyro dengan membenarkan posisi duduknya. "Yaudah ciri-cirinya apa lagi?" tanya Keyro tanpa menghiraukan ucapan Diana. "Ada tulisan Tigernya di besi depan, ada tempat untuk naro hape, terus ada tempat untuk botol minum juga." jelas Diana. "Warnanya hit--" "Saya juga tahu kali sepeda kamu warna hitam!" "--Hitam ada putihnya juga. Dengerin dulu kalau orang ngomong!" Keyro hanya memutar bola matanya malas, dia melihat sekeliling sedangkan Diana melajukan motornya kembali dengan pelan. "Udah di jual kali ya?" gumam Diana. "Sepeda butut gitu mana ada yang mau beli sih? Terakhir juga kan banya bocor. Paling di buang." Diana menghela napasnya. "Astaghfirullah untung aku sabar ya sama kamu, kalau engga aku udah tendang kamu dari bluerby! Jangan sombong sih! Awas kamu kualat." Keyro terkekeh. "Dasar tua banget sih omongannya." Diana tidak menanggapi ucapan Keyro, dia sedang sibuk melihat sekelilingnya mencari blacky. "Eh iya, kita kan belum kenalan." ujar Keyro tiba-tiba. "Aku udah tahu, nama kamu Om Keyro." jawab Diana. "Keyro aja, nggak usah pake Om." "Bodo amat. Suka-suka aku." "Yaudah kalau gitu saya panggil kamu Nek Ana." "Gila! Aku ngga setua itu!" pekik Diana tertahan dengan fokus jalanan di depannya. Keyro terbahak. "Kamu berhenti panggil saya Om, saya berhenti panggil kamu Nek. Deal?" Diana mengangguk malas, tanpa berbicara lagi.  Ponsel Keyro berbunyi, dia melihat siapa yang menganggunya. Keyza. "Apa?" "Bapak ada di mana ya? Bapak tidak tahu waktu? Apa jam tangan yang super mahal itu tidak berfungsi? Cepat ke kantor! Ada meeting bodoh!" Keyro menjauhkan ponsel dari kupingnya. "Baik saya segara kembali." jawabnya dan memutuskan sambungannya. "Na kayanya saya harus balik ke kantor. Saya lupa kalo ada meeting jam satu." kata Keyro merasa tidak enak. Diana mengangguk. "Oke kita balik ke toko."     Setidaknya ini awal yang baik dalam sebuah pertemananku dengannya. Batin Keyro dalam hati. ____________________________________________________________________ Selamat Membaca!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD