Kesalahan?

1117 Words
"Yaallah Na! Astaghfirullah! Ini motor siapa bagus banget?" Diana menghela napasnya. "Ini motor Nana Ma." "Kamu curi dari mana? Uang dari mana kamu sampe bisa beli ini?" tanya Mamanya masih memperhatikan motor vespa yang terparkir rapih di halaman rumahnya. "Udah Nana capek mau mandi." ujar Diana lalu masuk ke dalam rumahnya tak menghiraukan ucapan Mamanya itu.     Di dalam hati Diana senang dan sedih bercampur menjadi satu, sepedanya hilang namun dia mendapatkan yang lebih. Tapi jika diingat lagi sepeda itu sudah menemani Diana bekerja, bahkan saat bekerja di supermarket Diana selalu membawa sepedanya jika mobil lamanya tidak bisa menyala. "Blacky, kamu di mana." gumam Diana lalu merebahkan tubuhnya di sofa. "Katanya mau mandi anak bandel!" ujar Mamanya menepuk kaki Diana saat melihat anaknya berbaring di sofa. Diana terkekeh. "Sebentar Ma, istirahat dulu." "Mama mau tanya sekali lagi. Dari mana motor cantik itu? Terus mana si blacky?" Diana melihat kucingnya berjalan di dapur. "Danu! Sini!" Kucing itu melihat majikannya dan menghampirinya dan menaikki tubuh Diana. "Heh orang tua tanya jawab!" "Di kasih sama orang yang ilangin blacky." jawab Diana malas. "Blacky ilang?!" pekik Mama Santi.     Diana mengangguk lemah dengan mengelus kucing tampannya ini dengan sayang, ya mau di apakan lagi kalau sudah hilang? Diana harus meraung-raung kepada pria itu agar blacky di temukan? Bukan Keyro yang salah. "Aku nyesel ngomongin si ganteng tadi pagi di depan blacky, terus dia baper bannya tiba-tiba bocor, padahal aku yakin banget aku tuh nggak lindas apapun itu yang tajem Ma." jelas Diana "Dari kapan sepeda benda mati bisa baper?" tanya Mama Sinta. Diana menghela napasnya. "Ya kasarnya begitu Ma maksud aku." "Hilang di toko?" tanya Mama Sinta. "Di pinggir jalan waktu aku mau ke toko." jawabnya. "Loh kok bisa hilang? Emangnya kamu tinggal? Terus kamu ke tokonya gimana? Naik apa?" tanya Mama Sinta berturut. Diana hanya menghela napas mendengar pertanyaan Mamanya itu. "Yang penting udah di gantiin sama bluerby." ucap Diana tanpa menjawab pertanyaan Mamanya. "Bluerby? Siapa bluerby?" tanya Mama Sinta. "Itu vespa biru cantik. Nana mau mandi dulu yaa." ujarnya lalu berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil handuk.     Ponsel Diana berdering diatas nakas, Ia sedang mengeringkan rambutnya seraya melihat siapa yang menelponnya, alisnya berkerut saat melihat siapa yang menghubunginya. Diana menghela napasnya dan mengangkat telpon itu. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam, Na lagi apa?" "Baru mau makan malem nih, kenapa Ga" tanya Diana langsung. "Hmm.. Kamu boleh keluar nggak malem ini?" Diana mengerutkan alisnya dan melihat ke jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam. "Udah malem Ga, nggak akan boleh sama Mama." "Yaudah mungkin lain kali, sebenarnya malem ini aku mau ajak makan malem sekaligus kenalin kamu ke temen-temen aku." Mata Diana melebar saat mendengar ucapan dari Erlangga, dan menggeleng dan terkekeh. "Kapan-kapan aja Ga." "Yaudah kalau gitu, maaf ya aku ganggu Na, Assalamualaikum." ucap Erlangga yang dijawab Diana dengan salam lalu mematikan sambungannya. Diana meletakkan kembali ponselnya di nakas dan melanjutkan mengeringkan rambutnya kembali. "Siapa dia asal kenalin aku ke teman-temannya, waktu dulu aja aku minta dikenalin ke teman-temannya tapi dia mulu. Cih." gumamnya sendiri.     Di lain sisi, hotel berbintang milik pria itu sendiri sedang ramai dengan keluarga dan saudaranya, merayakan pernikahan orangtua yang Ia sayangi. Keyro merapikan jasnya dan berjalan ke dalam ballroom yang sudah sangat ramai orang-orang sedang bersenang-senang.     Setelah Keyro datang, tak lama acara di mulai. pesta pernikahan orang tuanya banyak sekali dihadiri oleh kolega-kolega bisnisnya. Bahkan semua teman Keyro diundang untuk hadir ke acara ini. siapa lagi jika bukan keinginan Papa Matthew. Ia ingin acara ini berkesan dan ramai dengan orang-orang yang Ia sayang. "Ero!" pekik wanita yang berlari lalu memeluknya. "Kak Charlie! Malu tahu." gumamnya namun tetap membalas pelukannya. Wanita yang di panggil Charlie itu adalah sepupunya sendiri yang tinggal di luar negri dengan keluarga kecilnya. "Gue kangen banget sama lo gila! Kok makin ganteng sih?" Keyro terkekeh. "Iyalah udah dari lahir juga Ero ganteng. Mana Bang Rano sama Kak Ani?" Charlie memutar bola matanya. "Ada, lagi sama Mommy, gue ke sana dulu ya." Keyro mengangguk dan tersenyum, membiarkan sepupunya itu menghampiri anak-anaknya. Pundak Keyro di tepuk dari belakang, dia menoleh dan ternyata adiknya sendiri. "Apa?" "Di panggil Papa." ujarnya lalu berjalan kembali, Keyro terkekeh karena adiknya itu masih marah kepadanya karena kejadian tadi pagi. Padahal kakaknya itu sudah meminta maaf padanya.     Keyro berjalan ke arah kamar di mana Papa dan Mamanya berada di dalam, dia melihat ada tantenya juga di dalam yang sedang merapikan baju mereka masing-masing atau hiasan wajah mereka. "Papa manggil aku?" ucap Keyro. Semua orang yang berada di dalam kamar menoleh ke asal suara. "Aunty apa kabar?" ujar Keyro lagi lalu mencium tangan tantenya. "Baik sayang, udah ketemu Abang sama Kakak kamu belum di bawah?" Keyro mengangguk. "Udah sama Kak Charlie, Kak Ani sama Bang Rano belum." jawabnya. "Kamu ke sini sama siapa Kak?" tanya Papa Matthew. "Sendiri Pa." "Pacar kamu mana?" Keyro menghela napasnya lalu menggeleng. "Nggak nemu, udah ah Papa kalo cuma nanyain aku tentang itu doang mending aku ke bawah lagi." "Kak. Nggak sopan ah." ujar Mama Keyla yang adalah Ibu dari Keyro dan Keyza. "Papa mau ngomong apa lagi?" tanya Keyro. Papa Matt menggeleng. "Udah itu aja nanya yang tadi." Keyro meninju-ninju angin yang tidak terlihat. "Tinju nih lama-lama." ucapnya lalu berjalan keluar. Papa Matt terbahak melihat tingkah laku anaknya itu.     Keyro adalah pria yang tidak perduli dengan orang-orang yang dia tidak kenal, dia adalah pria yang ditakuti para bawahannya jika sedang dalam mood yang tidak baik, namun Keyro bisa berubah menjadi pria termanis jika sudah berhubungan dengan keluarganya dan orang-orang yang dia cintai.     Di samping itu Keyro adalah pria yang bertanggung jawab, dia akan melakukan hal apapun jika dia merasa itulah tanggung jawabnya, dari sifat dingin dan acuh itu terselip hati yang hangat di dirinya.     Kisah percintaan Keyro tidak semanis yang kalian pikir, bukan wanita yang meninggalkannya tak lain dialah yang meninggalkan wanita itu, Keyro juga pria yang cepat bosan, tapi jangan salah paham dulu Keyro sangat mengerti dan menghormati wanita, dia nakal hanya sebatas minum minuman beralkohol tidak selebihnya.     Dan sampai saat ini belum ada wanita yang membuat Keyro mengerti akan kesetiaan. Hingga Ia merasa nyaman sendiri, dan karena nyaman itu Ia sering diledek teman dan keluarganya yang sampai saat ini belum memiliki pasangan. "Bung Ero! Dari mana aja bung!" ujar lelaki yang sedang merangkul tubuh Keyro. "Lo yang ke mana aja, nggak usah pake nanya gue segala." Lelaki itu terkekeh. "Gue kerja coy bantuin bokap, ya beda sama lo yang udah punya perusahaan sendiri." Keyro terkekeh. "Bisa aja lo ah, gimana cewe lo Ga?" Lelaki itu menghela napasnya. "Belum ada lampu hijau, semangatin gue dong!" Keyro tertawa dan memukul pelan bahu lelaki itu. "Semangat Erlangga! Lo pasti bisa!"  ujarnya dengan mengangkat satu tangannya dan tertawa.  "Thank you bro!" ___________________________________________________________________________________________ Happy Reading! Jangan lupa likes dan komen yaaa :)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD