Part 6 - Dare: I Love You

1548 Words
Entah kesialan apa lagi yang kini sedang menimpa gadis bermata cokelat gelap itu.  Sivia menghela nafas panjang sekali lagi. Dia menatap pasrah semua teman-temannya yang kini sedang tersenyum licik padanya. Bahkan ada yang terkekeh ringan melihat ekspresi Sivia yang terlihat sangat pasrah itu. Kapan lagi mereka akan mendapatkan tontonan LIVE yang menarik  dan bisa menjadi hot issue di kampus saat ini juga? "Ku pikir itu sedikit ...," Sivia menjeda ucapannya, tangannya bergerak gelisah di atas meja. Apa yang baru saja ia dengar seperti sebuah hukuman mati baginya. "Come on, Eve. Kau harus melakukannya!" ucap George sambil tersenyum miring. Pria berambut blonde itu adalah mahasiswa baru di kampus ini. Baru beberapa hari masuk dan setiap istirahat akan bergabung dengan Sivia, Jeni dan juga Nathan. Yah, meskipun alasan utamanya adalah karena Alice yang juga selalu bersama Sivia setiap jam makan siang di cafetaria, tetapi George bisa membaur dengan sangat mudah. Sesekali Peter juga akan bergabung bersama mereka, tetapi akhir-akhir ini Sivia benar-benar jarang melihat sahabat baiknya itu. Kabar terakhir yang ia dengar, Peter sedang mendekati salah satu anggota cheerleaders yang Sivia bahkan tidak mengenal mereka. Apapun itu, Sivia berharap akhirnya Peter menemukan cintanya. Sebab dari jaman mereka SMA, tidak ada satu orang perempuan pun yang mau berteman dengannya, Mereka selalu membully penampilan Peter tanpa mau mengenalnya lebih jauh. Padahal Sivia yakin, para gadis akan dengan mudah jatuh cinta pada Peter, sosok pria paling baik dan penuh perhatian yang ia kenal. "Dengar, aku ... apakah tidak keterlaluan bermain-main dengan perasaan? Ayolah guys, ini tidak lucu sama sekali." Sivia mencoba mengelak dan mencari-cari alasan yang masuk akal. "No no no! Kami hanya menyuruhmu untuk mengatakan kalimat I Love You saja padanya, bukan menjalani sebuah hubungan nyata maupun pura-pura dengannya. Jadi kami rasa itu tidak ada sangkut pautnya dengan perasaan," ucap salah seorang gadis berambut merah di sebelahnya, siapa lagi kalau bukan Alice. "Tapi ...," "Tidak ada tapi-tapian, Sivia sayang. Atau ... kau lebih memilih untuk menjalani hukuman?" Kini seorang pria berambut pirang ikut menimpali dengan seringaian liciknya yang membuat Sivia semakin jengah. Nathan sialan! 'Hukuman? Ayolah, bahkan itu lebih buruk dari pada ini. Mereka semua gila! Seharusnya aku tidak terjebak dalam permainan ini!' batin Sivia. "Jika aku menjadi kau, aku akan melakukannya dari pada menjalani hukuman menjijikkan itu!" tambah Jeni kemudian. Ia tersenyum geli ke arah Sivia. Gadis itu jelas mampu membaca situasi. Dan seperti yang lain, ia juga berharap bisa melihat sebuah drama percintaan ala kampus yang diperankan oleh Sivia dan Alex. Sepertinya akan jauh lebih menarik jika nanti ia bisa merekam diam-diam momen tersebut dan menyebarkannya ke media sosial. Sivia menghela napas. Matanya menatap lurus ke meja yang penuh dengan makanan dan sebuah botol kosong yang ujung moncongnya tertuju padanya. Benda terkutuk itulah yang membuatnya terjebak dalam situasi penuh kesialan ini. Dare sialan! Lagi-lagi Sivia mengumpat dalam hati. Tanpa sadar, dahinya sudah berkerut dalam karena memelototi sebuah botol berwarna bening yang ingin sekali ia lempar jauh dari muka bumi. Biar kapok dan tidak macam-macam padanya lagi! "Omong-omong, kau tidak perlu memikirkannya terlalu dalam. Lagipula aku yakin jika Alex si pangeran tampan kebanggaan kampus itu, akan langsung menolak pernyataan cintamu. Kau tau, dia itu ..." Eve mendelik kesal pada Jeni, membuat Jeni tidak jadi menyelesaikan kata-katanya. Gadis yang sebenarnya berambut hitam namun sudah di cat pirang itu meringis pada Sivia. “Kau tau, ini bukan tentang aku yang akan di tolak. Demi Tuhan aku bahkan tidak peduli tentang Alex. Tapi ini semua tentang harga diriku!” George, Nathan, Jeni dan Alice langsung tertawa mendengar gerutuan Sivia tanpa merasa kasihan. “Itu resikomu, Sivia,” sahut Nathan. “Dan akan menjadi pengalaman luar biasa,” tambah George. “Maksudku, pengalaman pertama kali menembak seorang laki-laki dan ditolak. Hahaha!” Sivia mendelik. Jika saja ia punya kekuatan untuk memindahkan sesuatu tanpa menyentuhnya, hal yang lebih dulu akan ia lakukan adalah menerbangkan George dan Nathan ke planet Mars saat ini juga. Dua pria itu memang memiliki keisengan yang sama terhadapnya. “Kau bisa melakukannya, Eve.” Alice menepuk lembut punggung Sivia. Ia memutar bola mata saat menangkap kerlingan jahil dari George padanya. “Abaikan ejekan mereka berdua. Dari pada kau mengambil resiko yang lain, maksudku menjalani sebuah hukuman karena kau menolak melakukan dare dari kami, lebih baik kau melakukannya dengan Alex. Coba pikirkan baik-baik.” Sivia cemberut, meraih sedotan dan meminum jus jeruknya hingga habis. Ia jelas tau siapakah Alexandro McKenzie dan bagaimana sikapnya terhadap para wanita di kampus. Meskipun ia terkenal pernah dekat dengan banyak wanita cantik, seksi dan populer, tetapi nyatanya tidak ada satupun yang ia anggap serius. Alex lebih cenderung dingin dan bersikap acuh. Barangkali saat ini ia baik padamu, tapi satu jam kemudian ia bisa berubah menjadi sosok yang sama sekali tidak kamu kenal. Separah itu. Bahkan banyak sekali desas-desus jika Alex mematahkan banyak hati para wanita. Pewaris tunggal McKenzie Group selalu menolak mentah-mentah setiap perempuan yang mencoba untuk mendekatinya lebih jauh, apalagi menyatakan perasaan. Entah dengan cara rahasia maupun terang-terangan. "Bagaimana? Menjalankan dare mu atau kau mau hukuman?" tanya Nathan penasaran dengan keputusan apa yang akan diambil oleh Sivia. Diam-diam, ia dan George sudah mengadakan taruhan sendiri. Jika Sivia mengambil dare itu, maka ia akan menang dan mendapatkan satu tiket president suit hotel room berikut dengan fasilitas-fasilitasnya dan seorang wanita cantik dan seksi yang sudah harus disediakan oleh George selama satu minggu untuk bersenag-senang dengannya. Sebaliknya, jika Sivia memilih hukuman, George lah yang akan menang. Dan ia harus merelakan sebuah yatch yang baru saja kemarin ia beli dan pamerkan pada George pada George. Sungguh, sepupu Alex benar-benar licik! Sivia menghela napas, menatap satu persatu pada keempat temannya. "Oke, aku akan mengambil dare." Serempak, mereka berempat langsung ber woah ria. Nathan langsung berdiri, lalu menari dengan menggoyangkan pinggul seperti pemain sepak bola penuh kemenangan. Sementara George mengumpat dan melemparkan sebuah sendok ke kepala Nathan, tetapi Nathan dengan gesit dapat menghindar. Sivia mengambil napas panjang. 'Oke, lakukan dengan cepat dan akhiri dengan cepat' batinnya mengangguk. *** Alex baru saja duduk setelah membeli sebuah cheese burger dan es kopi dari salah satu stand cafetaria dan hendak memakannya saat merasa seseorang berjalan mendekat ke arahnya. Alex menoleh dan dalam seperkian detik jantungnya bergelayar. Dengan sedikit ragu, Sivia terus mendekat. Sesekali ia menoleh ke belakang hanya untuk mendapati keempat temannya sedang mengawasi dengan ekspresi geli yang sama. Sivia menggigit bibir. Setelah beberapa hari yang lalu ia mencoba berdamai dengan Alex, ia sungguh tidak ingin melakukan hal ini dan membuat pria itu salah paham. ‘Oke, lakukan dengan cepat! Masalah yang akan terjadi setelahnya, pikirkan saja nanti!’ yakinnya dalam hati. "Ehm, ha-hai," sapa Sivia setelah berdiri tepat di samping kursi Alex. Gadis itu mencoba berbasa-basi ringan. Alex diam. Mengamati wajah tegang Sivia lalu ke balik punggung gadis itu. Sepupunya ada di sana bersama teman-temannya. Itu berarti ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. "Ada apa?" Alex memicingkan mata curiga. Membuat Sivia gugup dan salah tingkah. Memejamkan mata erat, Sivia mengumpat pelan. Sial! Ingatkan dia untuk memukul teman-temannya yang sengaja memberinya dare sialan ini! Jika saja hukumannya bukan untuk berkencan dengan seorang dosen tua berperut buncit m***m dan mata keranjang, tentulah Sivia akan lebih memilih menjalani hukuman daripada melakukan dare ini! "Ehm ... A-aku ... aku ...," Sivia tampak ragu mengatakannya. Gadis itu melihat ke sekeliling cafetaria dan sungguh ia ingin lenyap saja di telan lantai karena mendapati puluhan pasang mata entah sejak kapan diam-diam melirik ke arahnya. Tampaknya mereka terkejut dan saling bertanya-tanya, kenapa Sivia dan Alex saling berbicara. Karena setau mereka, Alex dan Sivia adalah dua pasang manusia yang paling mustahil bisa menjadi teman. Di mana ada Sivia dan Alex, di situ akan ada keributan yang terjadi. Suasana cafetaria semakin hening. Seolah-olah mereka memang di suruh untuk melihat drama memalukan apa yang akan dilakukan oleh gadis berambut hitam itu. "I love you," ucap Sivia akhirnya dengan cepat dan sedikit lirih, berharap Alex tidak mendengarkan perkataannya. "What? Kau bilang apa?" Sivia menggeleng cepat. "Ah, aku tidak mengatakan apa-apa. Maaf mengganggu makan siangmu Alex," ucap Sivia berusaha tenang. Ia tersenyum miring, lega luar biasa karena pria itu benar-benar tidak mendengar apa yang barusan ia katakan. Sivia berbalik, lalu mendapati ekspresi kecewa dari keempat temannya. “Apa-apaan itu?” Nathan berkata tidak terima. “Itu ... strategi yang sangat cerdik,” timpal George setengah geli. Siapa sangka jika Sivia mengatakannya dengan nada lemah? Sehingga tak ada satupun mahasiswa di sini yang tau apa yang diucapkan oleh gadis itu. Mereka benar-benar salah prediksi. “Hei... Ayolah! Itu sama sekali tidak adil!” Nathan masih bersikeras. Sungguh, ia ingin melihat drama menyenangkan di sini, tapi lihat sekarang? Membosankan! Baru saja Sivia hendak meninggalkan tempat Alex dan kembali ke mejanya membawa kemenangan, tapi salah satu tangannya langsung dicekal oleh seseorang. Sivia menoleh. Alex! "Mau ke mana kau?" ucapnya sembari mengangkat sebelah alis. "Bukan urusanmu," jawab Sivia sekenanya. "Well, akan segera menjadi urusanku, Nona Russel." Ucapan Alex membuat Sivia mengerjabkan mata tak paham. "Apa maumu?" tanyanya pada Alex. Alex tersenyum miring, menatap lekat-lekat mata coklat gelap gadis di depannya. Lagi-lagi, jantungnya berdetak dengan irama yang menyenangkan. "Mauku?" Alex menarik lengan Sivia hingga tubuh Sivia menabrak tubuh Alex, membuat kepalanya membentur d**a bidang Alex. "Sekarang kau adalah kekasihku, Sivia. Aku ... baru saja menerima pernyataan cintamu." Belum sempat Sivia mencerna apa ucapan Alex, ia sudah merasakan sebuah benda kenyal jatuh tepat di bibirnya. Kedua bola mata Sivia membulat penuh. Terdengar pekikan para wanita dari segala penjuru cafetaria yang menyaksikan kejadian tidak terduga tersebut. "Ingat, kau sekarang adalah milikku, kekasihku, dan calon ibu dari anak-anakku ...," bisik Alex di telinga Sivia setelah melepas ciumannya. Tubuh Sivia seakan kehilangan tenaga saat itu juga. Dia merasakan tubuhnya melemas seketika. Ia bahkan merasa kekurangan pasokan oksigen dan membutuhkan perawatan segera di rumah sakit. Selain itu, kakinya terasa seperti jelly, alias ingin ambruk! Damn it! Demi Tuhan, itu ciuman pertama yang telah dijaga Sivia bertahun-tahun. Dan pria itu, Alex, dengan kurang ajarnya, telah mengambilnya darinya! Sial, sial, sial! Apakah boleh ia membunuh Alex?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD