Pulang Dalam Keadaan Mabuk

1282 Words
Pagi itu Axa merasa terusik dengan suara berisik dari luar kamar. Yang tentu saja mengganggu tidur nyenyaknya. Dengan perasaan jengkel, dia bangun dan mencari asal suara. Seketika ia terkejut, mendapati Lyra sedang sibuk di dapur. “Hei! Apa yang kau lakukan di dapur saya?!” Suara sarkas itu mengejutkan Lyra. Dia berbalik dan mendapati Axa menatapnya dengan tajam. Tapi dalam beberapa detik, dia mengagumi ketampanan pria itu. “Selamat pagi Om! Aku sedang menyiapkan sarapan!” ucap gadis itu dengan antusias. Tapi tidak dengan Axa yang terlihat kesal. Ini adalah akhir pekan, yang mana ia akan menghabiskan waktu untuk tidur. Kalau tidak, Hazel pasti akan mengomel padanya. “Siapa yang mengizinkanmu?” Seketika Lyra terdiam dan merasa bersalah. Dia meletakkan spatula di atas meja lalu berbalik dan menunduk. “Maaf Om, tapi saya hanya ingin berterima kasih. Karena Om sudah menolong saya.” Mendengar alasan itu, hati Axa lagi-lagi berubah. Walau kesal, pada akhirnya pandangan pria itu tertuju ke arah makanan yang sudah disiapkan di atas meja. “Lagi pula, dapur Om sangat berantakan!” ucap gadis itu dan kali ini dia melirik Axa dengan jengkel. “Hei, kenapa melirik saya seperti itu?” “Om jorok!” kata Lyra dan benar-benar mengejutkan Axa. “Hei—” Protesnya terhenti, ketika dia menyadari area dapur memang sedikit berantakan. Tapi hanya sedikit, karena ia terlalu sibuk di kantor terkadang lupa membersihkan apartemennya sendiri. “Saya sibuk! Jadi tidak ada waktu untuk beres-beres!” jawab pria itu dan berlalu untuk kembali ke kamarnya. “Alasan!” sungut Lyra, dan dia kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Axa memang memilih untuk tinggal di apartemen sendirian. Meski orang tua dan adiknya selalu meminta dia untuk pulang, tapi dia benar-benar mengabaikan mereka. Semua itu karena dia memang sangat sibuk dengan pekerjaan. Bahkan terkadang, ia tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. “Ayo sarapan Om!” Axa terkejut, saat Lyra tiba-tiba muncul di depan pintu kamarnya. Gadis itu tersenyum, menunjukkan kesan manis pada Axa. “Hei, apa yang kau lakukan di sini!” “Mau ajak Om sarapan!” jawab Lyra dengan cepat. Niat baik gadis itu membuat Axa sulit menolaknya. Dan sekarang mereka berdua berada di meja makan. “Ayo sarapan Om!” ajak gadis itu entah sudah keberapa kali. Axa terlihat canggung, tapi dia juga tidak enak hati untuk menolak. Menerima ucapan terima kasih gadis itu adalah pilihan terbaik. “Nasi goreng?” “Iya Om! Soalnya tidak ada bahan lain di dapur!” ucap Lyra, “Om jarang masak ya?” Axa tidak menjawab. Dia memilih untuk menyuapkan ke dalam mulut. Padahal biasanya dia hanya sarapan roti dan selai. ‘Ini?’ gumam Axa di dalam hati, saat dia mencicipi nasi goreng buatan Lyra. Rasanya sedikit familiar, dan dia teringat akan seseorang. “O iya Om, saya boleh minta tolong?” “Hm? Apa?” tanya pria itu, dan terlihat menikmati sarapan pagi ini. “Saya boleh numpang di sini untuk sementara waktu? Sampai saya bisa mendapatkan pekerjaan.” Seketika Axa menghentikan gerakan sendoknya. Dia menatap gadis itu dengan lekat, tapi hal yang ia sadari kalau Lyra tidak seperti orang susah. Kulitnya bersih, rambutnya hitam berkilau. Lalu kenapa dia bisa berakhir di kota ini tanpa tujuan? “Sampai kapan?” Lyra menunduk diam. Dia sendiri bahkan bingung harus mengatakan sampai kapan, karena semua identitasnya sudah hilang dirampok. “Kalau begitu, kau bisa bekerja sebagai ART di sini. Saya akan beri upah, sampai uangmu terkumpul. Setelah itu, silahkan pergi.” Senyum mengembang terlihat jelas di wajah Lyra. Dia benar-benar bersemangat, meski ekspresi Axa terlihat biasa saja dan terkesan dingin. “Serius Om?” “Hm.” “Terima kasih ya Om!” ucap gadis itu dengan penuh semangat. Axa tidka menjawab, dia memilih untuk menikmati sarapannya. Ia teringat akan masakan salah satu sahabatnya, rasa nasi goreng ini sedikit mirip. “Omong-omong, nama Om siapa?” tanya gadis itu. Sekarang ekspresi wajahnya terlihat lebih ceria dan bersemangat. “Axa.” Seketika Lyra terdiam seolah mengingat jika nama itu tidak asing baginya. Tapi itu hanya sesaat, karena ia tidak ingin terlalu memikirkannya. “Nanti malam saya ada acara diluar. Tidak perlu menunggu, kau tidur saja.” “Iya Om!” jawabnya dengan cepat. Lyra merasa senang. Setidaknya, ditengah masalah dan kemalangan yang ia hadapi, dia bertemu dengan orang baik seperti Om Axa. Pukul 10 malam Axa keluar dari kamar dengan memakai kemeja putih. Tampaknya Lyra sudah tidur, dan pria itu memilih untuk pergi begitu saja. Hingga akhirnya, dia tiba di sebuah klub. Malam ini adalah acara Bachelor Party untuk sepupunya, karena akan menikah beberapa hari lagi. “Kau masih tidak berniat untuk segera menikah?” tanya sepupu Axa, Gallen. Sambil menuangkan minuman ke dalam gelas pria itu. “Belum!” jawab Axa lalu meneguk minuman hingga habis, dan terus dituang oleh sepupunya. “Mau sampai kapan Xa! Sudahlah, ini sudah waktunya kau menikah! Lihat, teman-temanmu sudah menikah semua!” ucap pria itu yang langsung diangguki oleh Haz. “Benar! Aku rasa sekarang putri Jaden sudah dewasa!” celetuk Haz yang menyela obrolan mereka. “O iya benar! Jaden menikah muda ya! Dia sangat tergila-gila pada istrinya waktu itu!” Tampaknya Axa tidak peduli dengan obrolan kedua pria itu. Dia terus meneguk minumannya, hingga kesadaran pria itu nyaris hilang. “Ah—jangan bilang, kau masih menunggu Gracia, Xa?” tanya Gallen, sepupu Axa. Yang ternyata ucapannya itu dijawab oleh Haz. “Ya, memang itu jawabannya! Dia masih menunggu Gracia pulang!” Kedua pria itu menghela napas panjang secara bersamaan. Dan tentu saja, Axa merasa tidak senang akan hal itu. Dia memberikan lirikan sinis pada mereka. “Dia berjanji akan pulang! Dan itu alasannya aku menunggu!” jawab pria itu yang membuat Gallen terdiam. Sedangkan Haz tampak menghela napas panjang. Dia benar-benar tidak mengerti seberapa besar cinta Axa pada Gracia. Sampai mau menunggu selama ini. “Sudah 3 tahun Xa. Kau yakin masih mau menunggunya?” Axa tidak menjawab, dia berusaha untuk berdiri meski sudah sempoyongan. Karena entah sudah berapa sloki minuman yang ia habiskan. “Acaranya sudah selesai! Aku pulang!” ucap pria itu tanpa basa-basi, tidak peduli akan respon Gallen maupun Haz. “Loh Xa! Tunggu dulu! Kau sudah mabuk! Biar aku antar!” Axa mengibaskan tangannya, menolak niat baik Haz yang ingin mengantarnya pulang. “Aku bisa pulang sendiri!” kata pria itu mengandalkan gengsi dan keras kepalanya. Dan dia lupa jika di apartemennya ada seorang gadis. “Dasar keras kepala!” ucap Haz lalu dia pergi menyusul pria itu, “aku akan mengantarnya Gall!” “Oh—oke! Hati-hati! Bahaya juga dia pulang sendiri!” kata Gallen, yang tidak akan menahan Haz maupun Axa. Setibanya di apartemen, Haz menemani Axa menunggu lift. Pria itu benar-benar mabuk, dan terkadang terdengar suaranya yang menyebut ‘Gracia’ “Sudah kubilang, tahan diri saat minum! Lihat, kau benar-benar mabuk!” ucap Haz yang masih memapah pria itu. Axa mencebikkan bibir lalu menjauhkan diri dari Haz. Sampai akhirnya lift tiba dan terbuka di depan mereka. “Kau cerewet Haz!” ucap pria itu dengan kesal, “pulanglah! Aku bisa sendiri!” “Tapi—” Belum sempat Haz melanjutkan ucapannya, pintu lift sudah lebih dulu tertutup. Dan pria itu tampak menghela napas panjang. “Ya, dia memang keras kepala!” ucapnya kemudian pergi untuk pulang. Sementara itu Lyra yang terbangun karena haus, terkejut saat mendengar seseorang membuka pintu. “Siapa? Om Axa baru pulang?” gumamnya lalu menatap ke arah yang menunjukkan pukul 2 dini hari. Lyra bergegas menuju pintu masuk, untuk memeriksa siapa yang datang. Dan benar saja, Axa terlihat berdiri sempoyongan dengan wajah memerah dan tatapan sudah berbeda. “Om Axa?” Mendengar seseorang memanggilnya, Axa menatap ke depan. Dan detik kemudian pria itu tampak terkejut. “Gracia?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD