Bab 2 — Dia

1016 Words
Febby terbangun dari tidurnya. Agak berat, tapi terngiang masih sakit di bagian tengkuk kepalanya. Mula-mula dia membuka matanya perlahan. Awalnya agak buram, apa yang dia lihat nampak blur seperti tangkapan lensa kamera. Makin membuka matanya, maka makin jelas pula penglihatannya. Febby menelisik sekeliling ruangan, dia sadar kalau di tertidur bukan di kamar rumahnya atau di kontrakan yang pernah ia tumpangi. Tapi di tempat berbeda, tidak tahu di mana ini. Tapi dia kaget ketika seseorang pria menggunakan kemeja putih polos duduk tepat di sebelah ranjang tidurnya. "Siapa kamu?" seketika Febby bertanya keheranan. "Dan- apa yang kamu lakukan di kamar seorang perempuan?" Pria itu melipat tangannya di dada, menyandarkan punggungnya di sofa, menyilangkan kaki angkuhnya. "Jangan banyak tanya. Kamu pasti tahu siapa aku?" katanya, tanpa menjawab pertanyaan Febby, dia berkata sedikit sombong. "Aku tidak kenal siapa kamu?" dengan santainya Febby menjawab pria ini. Mendengar jawaban Febby, apalagi wanita itu tidak mengenalinya, pria ini mendengus. Karena Febby harus di sadarkan, maka pria ini tanpa banyak bicara langsung melemparkan sebuah kertas ke atas kasur Febby. "Apa maksudnya ini?" tanya Febby bingung. "Baca saja. Aku benci menjawab." Pria ini memalingkan wajahnya, dia tidak menatap wajah Febby sama sekali. Febby membuka berkas itu, perintah pria ini mau tak mau membuatnya penasaran. Saat Febby membaca seluruh isi keseluruhan dalam tulisan kertas itu, mulutnya mendadak ternganga. "Seluruh hutang Pak Suryo totalnya seratus empat puluh sembilan milyar. Dan baru terbayar lima puluh tiga milyar," pria ini berkata. "Itu artinya tersisa sembilan puluh enam milyar lagi yang harus di lunasi." Febby paham, dialah pria yang di maksud kejam itu. Pria dingin, tanpa nurani ini, akhirnya Febby bisa melihat wajahnya. Rasa penasaran seperti apa rupa pria itu, kini sudah membuatnya lega. "Pak Daniel,-" "Tuan," katanya memberitahu. "Ah, iya. Tuan," perintahnya sudah membuat Febby takut. Apalagi menatap wajahnya. "Bisakah hal ini di bicarakan secara kekeluargaan?" "Kekeluargaan?" Pria bernama Daniel ini tiba-tiba merasa tertarik saat mendengar penawaran ini. Dia yang semula duduk santai di sofa, kini wajahnya amat dekat di wajah Febby. "Kamu pikir kita sedang dalam negosiasi mencari jalan tengah kasus kecelakaan-kah?" Katanya ketus. "Aku tidak bermaksud begitu Tuan," "Tiga bulan," Daniel menyambar dengan cepat perkataan Febby yang belum tuntas. "Tiga bulan ini kalian bersembunyi menghindar dari kejaran anak buah ku." "Itu karena," Febby menggigit bibirnya, dia agak takut saat pria itu menunjukan gaya bicara yang kasar. "Aku..." "Tidak ingin membayar hutang?" Daniel menebak. Dia mendongak wajah Febby, menatap wajah wanita itu yang terlihat gugup. "Begitu-kah yang ingin kamu katakan?" "Aku tidak bilang ingin tidak bayar hutang," jawab Febby. "Tapi..." "Aku CEO perusahaan waralaba yang bergerak dalam bidang produk IT. Baru kali ini aku bertemu dengan seorang pria tua yang meminta suntikan dana di perusahaan ku. Lalu meninggalkan putri yang cantik, menarik sekali," Daniel menaikkan alisnya, menyungging tersenyum melicik. "Apa maksud anda, Tuan?" Febby bertanya. Dia sudah takut melihat pria yang katanya kejam ini. "Seluruh aset Pak Suryo sudah di tarik oleh perusahaan ku. Dari seluruh asetnya yang di bekukan, tidak ada satupun yang bernilai." Kemudian pria ini menatap wajah Febby dengan sekilas, gadis yang belum lulus kuliahnya ini terlihat menawan di hadapan pemilik perusahaan IT ini. "Kecuali tubuh putrinya yang menarik." "Jangan pikir yang tidak-tidak!" "Jangan meninggikan suara di hadapan ku!" bentak Daniel. "Aku benci wanita yang tidak menurut." Melihatnya saja Febby sudah bergidik ngeri, walau sebenarnya dia juga terlihat menawan di hadapan gadis ini. "Maaf Tuan," Febby mengakui kesalahannya. Daniel mendengus, sekilas dia melirik ke bagian dada Febby yang terbuka. Entah, kenapa dia merasa asik melihat bagian itu. "Tuan, Bisakah anda mempertimbangkan pelunasan hutang Ayah ku," ucap Febby memberanikan diri untuk bicara. "Aku mohon Tolong pertimbangkan permintaan ku." "Selama tiga bulan ini kemana saja?" Daniel melipat kerah kemeja tangannya hingga sebatas siku. Bicaranya lumayan santai, bisa di bilang dia sedang berbaik hati. "Anu...... sebenarnya, aku tidak kemana-mana?" Kata Febby polos. "Hanya bekerja di kios bunga, lalu rebahan." "Santai sekali hidup anda. Setiap saat bisa rebahan?!" "Tidak juga," jawab Febby. "Hanya sedang ingin saja. Tidak sebegitunya santai." Usai menggulung lengan kemeja polosnya, Daniel menatap wajah Febby agak sinis. "Selama tiga bulan bekerja di kios bunga, kenapa tidak datang menemui ku membayar hutang? Berniat ingin kabur?" "Nggak? Mana mungkin aku akan melakukan itu?" "Lantas? Kenapa sampai saat ini belum bayar hutang? Bukankah sudah gajian?" "Itu, karena.... Uang ku belum cukup, Tuan." Sebenarnya dia ragu untuk melanjutkan kata-katanya, bicara pria di hadapannya itu sangat mengerikan. "Berapa jumlah uang yang kamu terima bekerja di kios bunga itu? 1M? 2M? Atau 3M?" Febby menelan liur tak sedap. Dia tidak mengerti maksud dari kata-kata pria ini. Apa yang dia katakan? Apa dia meledek gaji ku yang kecil. "Hanya satu juta perbulan. Itu belum termasuk membayar uang listrik, uang sewa kontrakan dan uang kebersihan. Jika di total-total, sisanya lumayan untuk di tabung?" Mendengar pengakuan Febby, Daniel mendadak tertawa terbahak-bahak. "Gaji segitu kamu pikir bisa membayar hutang milyaran itu? Mimpi?" "Tadi kamu yang bertanya berapa gaji ku, kenapa sekarang kamu malah mentertawakan aku?" "Tuan!" Daniel mengingatkan kembali. "Panggil aku Tuan, dimana pun kita berada." "Kenapa aku harus memanggil Tuan, aku tidak Sudi melakukannya." Daniel mendongak dagu Febby, di tatapnya wajah wanita itu berang. "Aku tidak suka ada wanita pembangkang. Jangan pernah menolak perintah ku!" Deg.... Seketika jantung Febby terasa seperti berhenti berdetak. Benar-benar kejam, rumor yang beredar luar biasa tak bisa di tampik. "Maafkan aku. Maafkan aku. Aku janji, kedepannya akan memanggil anda Tuan." "Bagus," Daniel berhenti bertingkah. "Kedepannya menjadi wanita penurut. Aku jamin kamu akan senang melayani ku." Sudah puas bermain-main dengan putri seorang pria yang berhutang. CEO perusahan IT ini lalu berdiri normal, memasukan tangan di saku celana. "Satu jam lagi kita menikah. Aku ingin kamu tampil cantik hari ini." Whut .... menikah? gila aja nikah. Kenal aja belum sudah asal ngajak nikah. "Menikah?" Febby mengulangi ucapan Daniel. Apa aku nggak salah dengar, Nih. Menikah? Mungkin maksudnya dia ingin aku menjadi pengiring pengantin pria, aku menebaknya begitu. "Nggak usah banyak pertanyaan, sebentar lagi tukang makeup datang. Kamu harus bersiap-siap, aku akan datang kembali jika kamu sudah di rias?" Daniel lalu pergi keluar dari kamar Febby. Febby ternganga. Kata-kata menikah seakan menghujam dadanya. Bukan ini yang aku harapkan, kenapa dia mengajak menikah? TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD