Green 6. siapa Felix sebenarnya?

1006 Words
Suasana di dalam mobil BMW hitam milik Green terasa jauh lebih mencekam daripada kebisingan pesta di rumah Atmadja tadi. Green duduk tegak, tangannya bersedekap, matanya menatap lurus ke depan seolah ingin menembus kaca mobil. Sementara Felix, pria itu menyetir dengan satu tangan yang sangat santai, seolah-olah dia baru saja pulang dari nongkrong di warkop, bukannya baru saja melakukan aksi penyelamatan harga diri yang sangat teatrikal. "Lo tadi itu apa?" suara Green memecah kesunyian, tajam dan dingin. Felix melirik sekilas melalui spion tengah. "Tadi itu? Oh, maksud lo pas gue nyium pelipis lo? Atau pas gue bilang Lita itu ular? Pilihan kedua kayaknya paling pas, deh." "Jangan bercanda, Felix!" Green menoleh kasar, menatap profil samping Felix yang terlihat tenang di bawah temaram lampu jalanan Jakarta. “Gue nggak bercanda.” "Mr. Hans. Siapa dia? Dan kenapa dia panggil lo seolah-olah lo itu orang penting di Berlin? Jangan bilang dia juga temen SMP lo yang kebetulan lewat!" Felix terkekeh, suara tawa yang selalu berhasil membuat Green ingin melempar tas clutch-nya. "Greeny, dunia ini sempit. Hans itu cuma kolega lama pas gue … ya, pas gue nyoba peruntungan di luar negeri. Gue kan pernah bilang, gue pernah kerja serabutan di sana." "Serabutan? Mr. Hans itu salah satu investor properti terbesar yang lagi mau kerja sama sama bokap gue! Dan dia nunduk pas liat lo! Lo pikir gue buta?" Felix menghela napas panjang, memperlambat laju mobil saat mendekati lampu merah. Felix menatap Green dengan ekspresi yang sulit dibaca, setengah jenaka, setengah serius. "Mungkin karena muka gue emang punya aura pemimpin? Lo aja yang terlalu sibuk nganggep gue pengangguran jadi nggak sadar." "Karena lo emang pengangguran! Lo tidur di sofa gue, lo makan mie instan buatan sendiri, dan lo harepin duit warisan gue!" Green meledak, napasnya memburu. “Lo salah kalau nganggap gue butuh warisan lo.” "Tapi tadi cara lo ngadepin Lita, cara lo bungkam wanita itu bukan Felix yang gue kenal." "Emang lo kenal gue, Green?" suara Felix merendah, tiba-tiba menjadi sangat serius. “Ya gue kenal.” "Sejak SMP, yang lo tahu cuma cara buat gue kesel. Lo nggak pernah bener-bener liat gue. Lo cuma liat musuh yang harus lo kalahin nilainya, yang harus lo siram kuah bakso kalau dia berisik. Lo nggak tahu apa-apa soal hidup gue setelah lulus sekolah." Green terdiam. Kalimat itu menghantamnya. Benar, ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, dengan pengkhianatan Yudi, dan dengan ambisinya merebut warisan Atmadja. "Gue cuma nggak mau dibohongin, Lix," gumam Green, suaranya mengecil. “Apa? Dibohongin?” "Hidup gue udah cukup berantakan karena Yudi. Gue nggak butuh kebohongan lain di rumah gue sendiri." Felix kembali menjalankan mobil saat lampu hijau menyala. "Gue nggak bohong soal orang tua gue di Jerman. Itu nyata. Soal yang lain ... anggap aja itu bagian dari service suami kontrak lo. Bukannya lo mau tampil sempurna di depan Lita? Gue udah kasih itu, kan?" "Tapi Lita nggak bakal berhenti, Felix. Dia bakal nyari tahu soal lo. Dia bakal korek semua tentang manufaktur kecil yang lo maksud tadi." "Biarin aja dia capek sendiri," sahut Felix santai. "Sekarang, mending lo mikirin gimana caranya kita lewatin malam ini. Badan gue pegel semua gara-gara sofa lo yang kerasnya kayak papan cucian itu." "Jangan harap lo pindah ke kasur gue!" "Pelit banget. Padahal tadi di depan Nenek lo meluk gue kenceng banget, kayak nggak mau lepas." "ITU AKTING!" "Akting yang sangat menjiwai, Greeny. Gue ampir baper," kekeh Felix menyeringai lebar, kembali ke mode menyebalkannya yang asli. Mereka sampai di rumah. Begitu pintu tertutup, Green langsung melepas sepatunya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Kepalanya berdenyut. Felix mengikutinya, bersandar di meja island sambil memperhatikan Green yang menenggak air dengan rakus. "Green." "Apa lagi?" Green menaruh gelas dengan dentingan keras. "Lita tadi bilang soal Yudi, lo beneran nggak apa-apa?" Gerakan Green membeku. Nama itu masih terasa seperti luka yang disiram cuka. "Bukan urusan lo." "Jadi urusan gue kalau istri pura-pura gue nangis di tengah malem dan ganggu tidur gue di sofa." Felix melangkah mendekat. “Dah lah.” "Dia cowok b******k, Green. Lo berhak dapet yang jauh lebih baik daripada pengecut yang selingkuh di hari pernikahan." Green menatap Felix, matanya mulai berkaca-kaca namun dia menahannya dengan keras kepala. "Dan yang lebih baik itu lo? Musuh bebuyutan gue?" Felix terdiam sejenak, menatap mata Green dengan intensitas yang membuat oksigen di ruangan itu seolah menipis. "Mungkin. Setidaknya gue nggak akan selingkuh di balkon rumah orang lain." Jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa senti. Aroma parfum Felix kembali menyerang pertahanan Green. Sebelum suasana menjadi terlalu emosional, Green segera berbalik. "Tidur sana! Gue mau istirahat!" Felix tertawa pelan di belakangnya. "Selamat malam, Istri Galak. Jangan mimpiin gue ya!" Malam itu, Green tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan reaksi Mr. Hans dan rahasia apa yang sebenarnya Felix sembunyikan. Di sisi lain, Felix yang berbaring di sofa ruang tengah menatap langit-langit, tangannya memainkan ponselnya yang menampilkan pesan dari Berlin. [The merger is ready, Sir. We are waiting for your signature.] Felix tersenyum tipis, lalu mematikan ponselnya. Bermain peran menjadi pengangguran di depan Green ternyata jauh lebih menantang daripada mengelola perusahaan manufaktur di Eropa. Esok paginya, kejutan lain datang. Sebuah paket besar tiba di depan rumah atas nama "Ny. Greeny Felix Atmadja". Isinya bukan barang sembarangan, melainkan perhiasan mewah yang harganya bisa membeli tiga mobil Felix yang asli. "Ini dari siapa, Lix? Lo nyuri?" tanya Green panik sambil memegang kalung berlian itu. Felix yang sedang asyik makan roti hanya mengangkat bahu. "Mungkin dari fans rahasia lo? Atau mungkin itu hadiah dari mertua lo di Jerman?" Green melotot. "Felix, lo beneran nggak bercanda kan soal keluarga lo?" Sebelum Felix menjawab, ponsel Green bergetar tanda pesan masuk. Itu dari Lita. [Lita: Green! Lo dapet kiriman perhiasan juga? Jangan bilang itu barang KW yang Felix beli di pasar loak buat pamer ke gue!] Green tersenyum sinis, dia tahu cara membalas dendam sekarang. "KW? Lita sayang, berlian ini kalau lo jual, bisa buat beli tunangan lo itu tiga kali lipat. Kasihan ya, yang cuma dapet kalung emas muda." Green menutup telepon dengan puas, tapi hatinya makin bertanya-tanya. Siapa Felix sebenarnya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD