Prangg!!
Crashh!!
Kennan baru selangkah menuruni anak tangga, saat sesuatu seperti benda pecah belah terjatuh. Pikirnya, mungkin maid-nya telah memecahkan sesuatu di dapur.
Sesampainya di depan mini bar, hanya bi Mui yang tampak mematung sedikit takut – sejurus kemudian mengangguk padanya, mengisyaratkan untuk pamit pergi ke kamarnya.
Samar terdengar suara teriakan, ia bergegas kembali melangkah ke arah suara dan mendapati kedua orang tuanya tengah melemparkan kata-kata di ruang tengah. Ruangan itu penuh dengan pecahan gelas dan guci keramik berserakkan.
“Aku gak bisa berbuat banyak saat Laura ingin menjadi istriku satu-satunya. Jadi ... maaf, jika kamu terluka.”
Rose tersenyum getir, bibirnya tampak bergetar menahan tangis. Lalu ia mengangguk-anggukkan kepala.
“Ngomong-ngomong. Baru kemarin, semua asetku sudah atas nama Kennan. Terima kenyataan ya, jadi maaf juga aku gak bisa bantu banyak,” ujar Rose, sambil mengelus pipi kanannya yang kemerahan. Mungkin, Hans telah menamparnya.
“Katakan di mana kamu menyimpan semua asetnya?” bentak Hans.
Rose mendecih. “Tidak perlu kamu tau, yang jelas bukan di rumah ini. Kalau memang mau menceraikanku sekarang, silakan saja, aku bisa apa? Tapi jangan lupa, semua aset adalah punyaku jauh sebelum kita nikah, dan aku berhak mengalihkannya atas nama anak kita.”
Kedua pasang mata membola menatap Rose. Apa yang membuat wanita itu berubah pikiran? Padahal sejak tiga tahun terakhir, ia kekeh ingin mempertahankan rumah tangganya.
“Kenapa tiba-tiba kamu rela kuceraikan?” tanya Hans. Kini, ia justru ketakutan. Hendak menggertak, malah ia yang kena.
“Karena, mengubah nama kepemilikkan semua aset, ayahku pernah bilang, harus saat Kennan telah berusia dua puluh tiga tahun, dan inilah saatnya. Jadi, dulu selama itu aku harus sabar menunggunya. Lagi pula, aku lega Kennan akan segera lulus sehingga bisa mandiri tanpa bantuan kita lagi. Tinggal dia kelola semua aset yang dimilikinya.”
Rose menjeda ucapannya.
“Tak terbayang jika aku menyerah saat itu, mungkin ... semua milikku bisa kamu rampas tanpa menyisakkan sedikit pun untuk Kennan,” terang Rose panjang lebar.
“Brrengsek!” umpat Hans. Ia kembali hendak melayangkan tamparan, namun Kennan mendekat pada keduanya.
Kennan bertepuk tangan melihat adegan mereka. Keduanya tersentak, karena tak menyangka, jika pemuda itu melihat dan mendengar semua ucapan orang tuanya.
“Lho, kok diam? Teruskan saja, teruskan ... lumayan, jadi hiburan buatku. Ini sesuatu hal yang jarang, di mana rumah sebesar ini akhirnya ramai,” ujar Kennan sarkas.
“Ken. Kamu belum tidur?” tanya Rose melembut. Ia memutar roda kursinya, untuk mendekat.
Kennan tidak menatapnya, malah iris hazel itu menatap tajam ke arah ayahnya.
“Aku salah pernah mengagumimu. Kamu sosok pria sejati yang berkarisma dan panutanku sejak kecil, tapi penilaianku salah besar! Kamu tak ubahnya makhluk pecundang, yang bisanya menyakiti wanita. Cih!”
Hans melangkah cepat, dan ....
Plakk!!
Kennan semakin menatapnya tajam sambil melap cairan merah yang muncul di sudut bibir.
“Seburuk apa pun papa, kamu gak berhak merendahkanku, Kennan!” bentak Hans.
Rahang Kennan mengeras, dan itu membuat Rose khawatir jika anaknya akan membalas. Ia mencoba melerai keduanya sebisa mungkin.
“Sudahlah, kalian jangan berkonflik. Ken, masuklah ke kamarmu, mama dan papa akan menyelesaikan masalah dengan cara baik-baik, percayalah,” ucap Rose.
Kennan terdiam dengan masih menatap wajah Hans. Sedetik kemudian, ia keluar dari rumah tanpa mempedulikan panggilan Hans maupun Rose. Setelah memasang helm dengan baik, motornya melaju dengan kecepatan tinggi.
Untuk kesekian kali, kedua orang tuanya menoreh luka padanya.
“Sial! Gak bisakah mereka damai, seenggaknya demi aku? Apakah semua orang tua seegois ini?” gumamnya bersenandika.
Ciiiit!
Bruggh!
Entah ada masalah apa dengan matanya, mendadak buram dan nyaris saja menabrak pohon. Ia memang dengan cepat membelokkan motornya, namun pilihannya tetap salah, karena menjadikan badan motornya menyamping – menyeret tubuhnya hingga beberapa meter, sebelum akhirnya berhenti dengan paksa.
“Aaakkh!!” Kennan meringis kesakitan. Ia tengah berada di jalanan sepi, sehingga tak ada satu pun seseorang yang bisa menolongnya.
Pemuda itu pun mencoba bangkit dan menegakkan motornya.
Ia tak sempat memeriksa seberapa besar lukanya, dan kembali menaiki motor. Bahkan tanpa ada rasa kapok, kendaraan roda dua itu, kembali mengebut.
Tak lama, motornya berhenti tepat di depan gerbang rumah sederhana.
****
Kennan tanpa sungkan mengetuk pintu tiga kali, lalu seseorang membukanya dan sontak membulatkan mata.
“Kennan? Ngapain malam-malam datang ke rumah gue?!” pekik Joanna. Ia bahkan menepuk pipinya sendiri, mungkin saja tengah bermimpi.
Kennan menyeringai tanpa dosa. “Hai, Jo. Boleh gue masuk?”
Joanna tak langsung menjawab, ia memindai tubuh pemuda itu dan untuk kedua kalinya matanya membola.
“Lo terluka Ken! Ayo, masuk biar kuobati.” Joanna menarik ujung jaket Kennan dan mendorong tubuh tinggi itu untuk duduk.
“Tunggu ya, gue ambil obat-obatan dulu,” imbuh Joanna.
Kennan hanya mengangguk, kembali ia meringis dan perlahan membuka jaketnya. Manik matanya menatap salah satu lengan jaketnya yang sobek.
‘RIP jaket kesayangan,' batinnya sedih.
Gadis itu muncul sambil menenteng kotak berwarna putih. Ia duduk bersisian dengan Kennan hingga aroma parfum milik pemuda itu tercium oleh Joanna.
Setelah kotak itu terbuka, ada cairan antiseptik, kain kasa, alkohol, gunting kecil, kayu putih, dan plester luka.
Sebelumnya, Joanna memeriksa luka dengan teliti. Rupanya, bukan hanya di pipi atau pelipis tapi juga di tangan dan samping paha, itu nampak dari celana jeans Kennan yang robek.
“Ya ampun, lo habis ngapain?”
“Main akrobat,” jawab Kennan santai.
Joanna menonjok lengan atasnya, makin sakit lah luka Kennan.
“Aish! Sakit Jo.”
“Siapa suruh bercanda!” sungut gadis itu. Ia mulai membuka cairan antiseptik dan mengaplikasikannya pada bagian-bagian yang luka.
“Gue ngebut, trus jatuh dari motor ....” lirih Kennan menahan perih akibat cairan obat itu.
“Kok bisa sih? Otak lo pasti ketinggalan di rumah. Ngebut-ngebut malam-malam, mau dibilang sok jagoan? Yang ada ganggu dan bikin berisik. Terus, para emak-emak pasti sibuk mengumpat dan mendoakan yang jelek-jelek, mestinya sebelum ngelakuin sesuatu itu, harus ....” Joanna terus berbicara tanpa henti.
Setelahnya, Kennan sudah tidak mendengar kalimat apa yang meluncur, ia hanya terdiam menatap wajah Joanna, pandangannya turun ke bibir mungil si gadis yang tak hentinya mengoceh. Dan itu menggemaskan bagi Kennan, ia hanya sibuk menikmati pemandangan indah nan alami. Ia bahkan tanpa sadar, mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu, membuat bibir keduanya dekat dan nyaris menempel. Tapi ....
Plakk!!
“Ampun, Jo! Gue lagi sakit, malah lo tampar,” ujar Kennan semakin meringis.
“Lagian, lo mau ngapain?” tanya Joanna berkacak pinggang.
“Gue cuma mau mastiin, di gigimu ada biji cabe apa nggak!” kilahnya. Sungguh, alasan yang sangat tidak masuk akal.
“Siallan lo! Bukannya dengerin nasehat, malah bikin gue kesel. Sini mendekat,” cetus Joanna kemudian.
Kennan beringsut takut. “Mau ngapain? Tampar gue lagi?”
Joanna berdecak kesal. “Bukan! Mau olesin obat ke pipi lo!”
“Oh, hehe.”
Kembali, wajah keduanya kembali dekat, bahkan napas mereka terdengar satu sama lain. Menghadirkan desiran halus muncul tanpa permisi.
“Joanna ....” bisik Kennan.
“Hmm?”
“Kamu cantik.”
Mata Joanna melotot. “Lo piktor ya?”
Kennan menggeleng kuat. “Nggak! Gue cuma muji lo, emang salah?”
“Ya salah, gak mungkin lah lo serius muji. Dalam keadaan sadar, gue gak mungkin cantik di mata lo. Tapi cowok, dasarnya emang messum, jadi gak ada ikan Koi, ikan asin pun jadi lah,” ujar Joanna di sela tawa.
Andai saja, Kennan tidak sedang terluka. Ingin rasanya ia meraup bibir lamis milik Joanna, agar gadis itu berhenti mengoceh, merendahkan dirinya sendiri.
“Begitu ya. Tapi kan, lo cewek bukan ikan asin,” ujar Kennan dengan wajah dingin. Ia mulai malas membahas perkataan Joanna.
“Lo terlalu serius Ken. Itu kan cuma perumpamaan.”
“Lupakan,” tegas Kennan.
Hening menyelimuti ruangan itu, hingga Joanna selesai membalut luka-luka Kennan.
“Oma udah tidur?” tanya Kennan memecah keheningan.
“Iya. Gue bersyukur, beliau tidur nyenyak, agak khawatir soalnya.” Mata Joanna meredup.
“Kenapa?”
“Obatnya habis sejak kemarin. Gue belum bisa beli lagi, gajiku belum cair.”
“Berapa?”
“Stop Ken, gue paham ke arah mana ucapan lo ini!” ujar Joanna dengan suara sedikit keras.
Kennan menghela napas panjang. Ia benar-benar, baru menemukan gadis seperti Joanna, yang selalu menolak dibantu, tidak ingin memiliki hutang budi dan bukan seseorang yang hobi memanfaatkan kebaikan orang lain.
“Lagian ... gue punya kerjaan baru, bulan depan kayaknya gaji gue lebih besar,” ucap Joanna terdengar bersemangat.
Kening Kennan berkerut. “Kerja apa?”
“Ada deh, tar gue cerita. Yang jelas, kayaknya rencananya habis bulan ini, gue resign kerja di kafe.”
“Kenapa gak cerita sekarang aja?” Kennan sedikit mendesak.
Joanna menggeleng ia meraih gelas berisi teh manis pada Kennan. Pemuda itu menyeruputnya hingga tandas.
“Udah malam Ken, kapan-kapan aja gue cerita. Sebaiknya, sekarang lo pulang.”
“Kok lo tega sih, nyuruh gue pulang dalam keadaan luka begini.” Kennan menatap dengan mata puppy-nya.
Joanna mengibas wajah lelaki itu.
“Kagak mempan! Udah sana pulang, gue yakin lo masih mampu mengendarai motor.”
Pemuda itu menghela napas berat. “Teganya ibu tiri.”
“Bodo amat!”
Joanna menarik paksa lengan Kennan agar berdiri, lalu ia mendorong kuat-kuat punggung tubuh tinggi tegap itu, untuk keluar dari rumahnya.
“Oke, oke gue pulang. Tapi, lo ada mata kuliah gak besok?” tanya Kennan memutar tubuh menghadapnya.
Bola mata Joanna berputar. “Ada kayaknya, siangan.”
“Oke sip, gue jemput.”
“Hei! Lo kan masih sakit, jangan ke kampus dulu, lagian gue udah bilang gak usah antar jemput lagi, karena__”
Kennan sigap menutup bibir Joanna dengan telunjuknya, membuat Joanna membeku menatapnya.
“Sssttt ... jangan mengucapkan kalimat itu, oke! Makasih bantuannya, gue merasa lebih enakan, baik hati maupun fisik. Lo obat bagi gue ....”
“Hah?” Joanna tertegun mendengar kalimat itu.
“Bye, Joanna sampai ketemu besok,” sambung lelaki itu.
Kennan melangkah dan menaiki motor diiringi helaan napas dari Joanna.
‘Dasar bocah aneh! Sikap lo, bikin gue bingung!’ batin Joanna kesal campur bahagia, eh gimana sih?