Tersebar

1367 Words
Demi kenyamanan Joanna. Kennan benar-benar tidak menengok gadis itu ke rumahnya, bahkan untuk sekedar mengirimkan chat. Padahal, jemarinya terasa gatal ingin menghubungi Joanna, sampai-sampai ponselnya ia mainkan seperti mobil-mobilan. ‘Aaargh! Nyiksa bangettt!’ Huff! Ponsel itu ia letakkan di kening dan berbaring telentang di sofa ruang tengah. Rose mendekat, memegang bahu anaknya. “Ken, kamu tidur?” “Nggak, Ma.” Rose tersenyum tipis. “Oya. Terima kasih ya, kamu benar-benar pulang tepat waktu. Sambil menunggu papa datang, ada hal yang ingin mama ucapkan.” “Jika itu menyangkut papa dan cewek jalangg itu, aku malas!” desisnya. Rose tersenyum kecut. “Bukan, Nak. Ini soal permintaan mama.” Kennan meraih ponsel dari keningnya dan duduk dengan tegak. Sejurus kemudian, Rose menyerahkan sebuah map berwarna hijau. “Bukalah,” titah Rose. Walau bingung, Kennan membuka map yang ternyata berisi beberapa berkas yang sepertinya penting. “Tanpa setau papamu, mama punya dua yayasan. Yaitu, yayasan yatim piatu, dan pendidikan swasta, namanya Yayasan Amarylis. Orang kepercayaan mama lah yang memegang keduanya selama dua tahun ini. Namun, sekarang mereka sudah mandiri. Jadi gak bisa meng-handle lagi.” “So?” Kennan masih meresapi semua kalimat ibunya. “Anakku sudah dewasa, dan Mama ingin sekarang kamu lah yang memegang yayasan itu,” imbuh Rose. Sontak Kennan menatapnya tak percaya. “A-aku?” “Iya, Ken. Mama yakin, kamu mampu.” Kennan menggeleng kuat. “Aku gak punya pengalaman apa pun, kenapa gak nyari orang lain aja?” Rose menghela napas panjang. Ini tidak mudah baginya, untuk membujuk anaknya yang belum sepenuhnya siap dan mampu. Tapi, ia tidak punya pilihan lain. Lagi pun, Kennan sudah saatnya belajar mandiri dan lebih memprioritaskan masa depan. “Mama akan membimbingmu perlahan. Asal kamu tau, yayasan ini adalah sebuah impian mama jauh sebelum menikah. Tujuannya, ingin membantu orang-orang yang membutuhkan yaitu anak yatim piatu dan orang-orang miskin yang putus sekolah. Yayasan ini mama bangun, menitik beratkan kedua poin penting itu,” jelas Rose. Tetap saja, Kennan menggeleng. Ia menyodorkan map hijau itu setelah selesai membacanya. “Maaf Ma, itu bukan passion-ku. Aku lebih tertarik berbisnis, untuk jalanku ke depannya.” Rose mengangguk paham, karena akhir-akhir ini Kennan memang lebih sibuk belajar mengerjakan sebuah proyek untuk dikelola secara mandiri. Tujuannya mengucapkan kalimat itu, bukan bermaksud menghancurkan cita-cita anaknya, namun jika bisa dikelola keduanya, kenapa tidak? “Tak apa-apa jika kamu belum siap, Nak. Tapi tetap mama akan menantimu, berharap suatu saat, kamu berubah pikiran.” Kennan mendengkus pelan, seolah meremehkan ucapan ibunya. “Iya lah, Ma.” “Oke, sekarang kamu mandi dan ganti baju.” Kennan bergeming, menatap lekat-lekat wajah ibunya. Ia sungguh benci melihat Rose yang sok kuat. “Ma, apa boleh aku gak ikut berbincang dengan kalian?” tanya Kennan memecah keheningan. Kening Rose berkerut. “Kenapa Sayang? Pasti papa kecewa jika kamu gak ikut serta.” “Untuk apa kalau aku udah tau apa yang akan dibicarakan nanti?” Mata Rose membola. “Kamu sudah tau?” “Ya. Papa mau nikah sama cewek jallang itu kan?” “Kennan, jaga ucapanmu,” ucap Rose tertahan. “Kalau ada kata yang lebih kasar lagi untuk cewek model dia, akan kuucapkan. Sudahlah, pokoknya aku malas bahas ini,” tukas Kennan sambil berlalu menaiki anak tangga. Sementara Rose mengelus daddanya yang bergemuruh menahan tangis. **** _Di rumah mungil nan minimalis_ Bibir seorang gadis mengerucut, ia memutar-mutar ponselnya di meja. Tanpa sadar, sedari tadi Oma Elle memperhatikannya dari jauh. “Jangan suka jual mahal. Kalau rindu, telepon saja.” Joanna terperanjat, sejurus kemudian ia meringis memegang perutnya yang masih sakit. “Te-telepon siapa sih, Oma?!” “Siapa lagi kalau bukan Nak Kennan. Sana, telepon dia!” “Haish! Ogah! Siapa juga yang rindu anak tengik itu.” Oma Elle mengangkat kedua bahunya. “Ya sudah, lagian dia juga pasti lagi sibuk balas chat dari perempuan lain. Mana mungkin, menunggu chat dari gadis yang acuh tak acuh padanya. Laki-laki, mana kuat diperlakukan begitu.” Joanna menggigit bibir bawahnya. “Apa benar begitu Oma?” “Ya emang. Biar Oma ini tua, tapi kan pernah muda juga. Hal-hal seperti itu, dari zaman ke zaman sama saja. Dulu, Opa kamu juga gitu.” Mendengar kalimat itu, Joanna tertarik mendengarnya. “Apa Oma, ceritalah.” Oma Elle mendekat dan duduk tepat di sampingnya. “Oma ini kan, kembang desa.” Joanna mencebik. “Hei! Kamu tidak percaya sama Oma? Sekarang sudah keriput, tapi dulu Oma emang sangat cantik!” cicit Oma Elle. “Iya lah, iya. Terus apa?” Joanna merasa tak sabar mendengar kelanjutan kisah masa lalu sang nenek. Oma Elle memperbaiki tempat duduknya. “Dulu, rambut Oma yang panjang sering dikepang. Sialnya, pas lagi asyik naik onthel, selalu saja berpapasan sama anak ingusan yang kerap menarik rambut Oma ini. Alhasil, Oma jengkel dan menjauh kalau dia mau gangguin Oma. Tapi ....” “Tapi apa?” “Sejak Oma menjauh, dia malah menjauh juga. Dan asyik gangguin perempuan lain, sedih jadinya.” “Kok sedih, bukannya dia nyebelin, narik-narik rambut Oma?” ujar Joanna yang berkobar karena terpengaruh ucapan sang nenek. “Oma juga tidak tau. Tapi yang dirasakan saat itu terasa hampa, biasa ada yang godain tiba-tiba hilang. Ya udah, akhirnya Oma memberanikan diri baikin dia. Berhasil, lalu dia jadi dekat lagi sama Oma sampai gede dan kami menikah. Happy ending.” “Dih, Oma ganjen!” pekik Joanna merasa gemas. “Terserah kamu menyebut itu apa. Yang jelas, apa yang telah kuperjuangkan gak sia-sia. Oma menikah dengan anak ingusan itu, yang tak lain adalah Opa kamu, dia sangat mencintai Oma sampai tutup usia.” Joanna bergeming, entah apa yang ada di pikirannya. Oma Elle menepuk bahu Joanna, membuyarkan lamunannya. “Kamu kan cucuku, harus kayak Oma dong jangan gengsi dan jual mahal!” Oma Elle bangkit dan masuk ke kamarnya. Joanna terkikik geli. “Gue punya nenek, gokil juga,” gumamnya. Tatapannya kembali mengarah ke ponsel itu. Tangannya perlahan terulur, ia mencoba memberanikan diri untuk membuka aplikasi berwarna hijau. Namun, sedetik kemudian satu chat muncul dari Kennan. Ia berjengit. Seolah jantungnya meloncat dari tempatnya. [Hai, Jo. Gimana keadaanmu? Kalau chat-ku mengganggumu, gak usah dibalas.] Tidak ingin melihat Kennan offline, ia bergegas mengetik balasan. [Nggak kok. Gue baik, buktinya masih bisa balas chat lo.] [Syukurlah. Gue lega dengernya, cepet sembuh ya, gak ada lo di kampus rasanya sepi.] Membaca itu, ada yang terasa hangat di hati Joanna. Namun, ia tidak ingin terbang karena takut tiba-tiba terhempas. Itu menyakitkan! [Sudah malam. Selamat tidur.] Setelah itu, Joanna melempar ponselnya ke sofa, lalu mengusap wajahnya. Ia tidak bisa seperti Oma Elle, terlalu takut untuknya bersikap berlebihan pada Kennan yang berujung kecewa. Sementara di tempat lain, Kennan kembali hampa atas ucapan terakhir Joanna. Tadinya, ia ingin mengobrol lebih namun langsung ditutup dengan ucapan selamat tidur dari gadis itu. ‘Positif thinking. Joanna masih sakit, butuh istirahat cukup,' batinnya mencoba menghibur diri. **** Pagi yang tak biasa. Iris mata Kennan menelisik kerumunan para mahasiswa di koridor kampus. Beberapa mereka tampak bisik-bisik, ada juga yang tertawa meledek, atau menggeleng-geleng seolah tak percaya apa yang tengah mereka lihat. Kennan mengurai kerumunan dan mencoba menyusup, ingin tahu apa yang sibuk mereka tatap. Manik hazelnya membola, saat menatap puluhan foto Joanna, berjejer di dinding kampus. Foto itu, tengah memperlihatkan gambar Joanna yang tengah pingsan karena over dosis. “Gak nyangka ya, anak baru banyak tingkah!” “Iya, tapi gak aneh sih! Dandanannya aja kayak preman pasar!” “Mencemarkan nama baik kampus aja. Pasti bakalan di DO deh, habis ini.” Kalimat-kalimat itu, terus meluncur dari orang-orang yang berkerumun membuat telinga Kennan terasa panas. “STOP!!” bentak Kennan, cukup membungkam mulut lamis mereka. Ia mencabut foto-foto dengan rahang mengeras menahan emosi. Jimmy mendekat dan mendapati sahabatnya sibuk melepas foto-foto yang entah oleh siapa disebar. “Ken, sabar. Tahan emosi lo,” ucap Jimmy. Kennan mendelik tajam. “Apa lo sama dengan mereka? Percaya fitnahan ini?” “Nggak gitu Ken, gue kan emang gak tau apa-apa, lo gak pernah cerita.” Kennan mendengkus kesal, ia melangkah cepat meninggalkan kampus menuju kantor polisi. Sungguh, ia akan kepayahan mencari siapa pelakunya tanpa bukti secuil pun. Namun, niatnya tidak surut untuk terus membantu Joanna. 'Kalau sampai polisi gak berhasil membekuk pelakunya. Gue sendiri yang akan mencarinya.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD