Bab 2. Pernikahan

1015 Words
Sepasang penggantin tengah berdiri di depan altar, bersiap-siap mengucapkan janji suci yang akan ditasbihkan oleh seorang pendeta. Sang penggantin pria melirik calon istrinya yang tampak gugup, terbukti dari keringat yang mengucur di kening gadis itu. Dia akui, gadis yang akan menjadi istrinya ini sangat cantik dan muda. Apalagi dibalut dengan gaun indah yang membungkus tubuh kecilnya. Ditambah make-up natural yang tidak terlalu tebal, menunjukkan aura kecantikan yang seolah tak lekang waktu. Jika wajah pengantin pada umumnya terlihat senang menyambut hari bahagia. Maka, berbeda dengan dua orang tersebut. Keduanya seperti sibuk dengan pikiran masing-masing. Bahkan tak saling menoleh atau menyapa satu sama lain. Mereka seperti orang yang tak saling kenal, walaupun memang sebelumnya hanya orang asing yang kebetulan menikah karena perjodohan. Tak ada pesta mewah seperti pernikahan pengusaha seperti pada umumnya. Hanya ada beberapa orang yang sengaja diundang untuk sekedar meramaikan pernikahan sederhana tersebut. Jeremy tersenyum menyaksikan putranya menikah dengan Elea. Harapannya sangat besar, semoga anak dan menantunya segera dikarunia momongan dan hidup bahagia sampai maut memisahkan. "Selamat ya, Ed." Jeremy memeluk anak satu-satunya. "Terima kasih, Pa," balas lelaki dewasa berwajah dingin itu. "Semoga kamu bahagia. Jadilah suami, ayah dan saudara untuk Elea, dia sudah tidak memiliki siapa-siapa selain kita," ucap Jeremy setengah berbisik. Edzard Elbagata Rosching, pria dewasa berusia 34 tahun. Setelah kehilangan ibu dan calon tunangannya dalam sebuah kecelakaan, sifat pria itu berubah drastis. Dia menjadi dingin tak tersentuh pada semua orang kecuali sang ayah. Dalam benak Edzard tak pernah sedikitpun berpikir akan dijodohkan dengan bocah seperti Elea. Edzard tak bisa menolak karena dia begitu patuh pada sang ayah, walau kadang mereka juga sering bertengkar hanya karena hal-hal sepele. Namun, sebagai anak tunggal dan tidak memiliki saudara lagi. Tentu, Edzard ingin membuat sang ayah bahagia meski harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri. Edzard melirik Elea yang sudah senyum malu, seperti anak perawan mau dilamar. "Papa yakin dia akan dewasa bersama kamu," bisik Jeremy lagi supaya tidak terdengar oleh menantunya itu. Edzard membalas dengan anggukan kepala. Entahlah, apakah dia bisa menerima Elea sebagai istrinya nanti? "Lea!" panggil Jeremy menghampiri menantu kecilnya itu. "Iya, Om?" Gadis itu tersenyum pada mertuanya. "Jangan panggil om. Panggil papa seperti Edzard, mulai sekarang kamu juga anak Papa!" Jeremy memeluk menantunya itu. "Eh iya, Pa." Elea tersenyum kaku sambil membalas pelukan Jeremy. "Papa titip Edzard sama kamu ya. Jangan lupa kasih cucu buat Papa," goda Jeremy sambil melepaskan pelukan Elea. "Tapi Lea masih kuliah, Pa. Emang boleh punya anak?" tanya Elea polos. Edzard mendelik ketika mendengar pertanyaan istri kecilnya itu. Gadis ini sudah memikirkan anak, belum tentu juga Edzard mau menyentuhnya. "Kuliah juga bisa punya anak. Kan tidak ada larangan. Pokoknya kamu siapkan energi malam ini untuk malam pertama sama Edzard, ya." Jeremy terkekeh ketika melihat wajah kesal putranya. "Iya, Pa," jawab Elea polos. Pernikahan itu digelar sederhana atas permintaan Edzard dan Elea. Alasannya karena Elea masih kuliah, jadi dia tidak mau seluruh teman dan dosennya di kampus tahu tentang pernikahannya bersama Edzard. Dua orang wanita berjalan ke arah Elea, keduanya menyunggingkan senyum puas. "Selamat ya, Lea," ucap Milly memeluk anak tirinya itu. Elea memutar bola matanya malas, tetapi dia tetap baik pada ibu tirinya itu. "Terima kasih, Bu," balas Elea memaksakan senyum. Setidaknya dia bisa bebas dari kejahatan dari wanita yang dia panggil ibu. "Selamat, Adikku! Semoga kamu bahagia. Kakak akan bahagia jika kamu juga bahagia," ucap seorang wanita cantik bernama Lisa, kakak tiri Elea. Lisa memeluk Elea dan tak lupa seperti membisikan sesuatu yang tidak terdengar jelas di telinga Elea. "Terima kasih, Kak." Elea melepaskan pelukan Lisa dengan cepat. Sebenarnya dia jengkel melihat wajah pura-pura ibu dan kakak tirinya. "Nak Edzard, Ibu titip Elea sama kamu ya," ucap Milly memasang wajah ramah. Andai saja Lisa yang dijodohkan dengan lelaki ini, pasti Milly akan sangat bahagia serta bisa menguasai seluruh kekayaan Edzard. Lelaki bernama Edzard dan suami Elea itu hanya membalas dengan anggukan kepala mendengar pesan dari mertuanya. Setelah acara sederhana itu selesai. Edzard segera membawa istrinya masuk ke dalam kamar karena dia malas terus digoda oleh sang ayah. "Wah, Om. Ini kamar kita?!" seru Elea berdecak kagum melihat interior kamar mewah suaminya. "Eh kok ada bunga-bunga?" Mata gadis itu kembali berbinar-binar ketika melihat kelopak bunga yang yang bertabur di atas ranjang membentuk love. "Kamu cepat mandi sana!" suruh Edzard. Semoga saja Elea tidak menganggu dirinya yang tidak suka banyak bicara ini. "Om, boleh bantu buka resleting gaun Lea? " Gadis itu berusaha membuka resleting gaunnya, tetapi tangan yang mungil dan pendek membuat dia kesusahan. "Buka saja sendiri," tolak Edzard duduk di sofa sambil melepaskan jas dan dasi yang terasa mencekik leher. "Ihh, Om! Tangan Lea pendek, susah," renggeknya. "Makanya jangan pendek," sindir Edzrad dengan wajah datar. Dia masih tidak mau menolong istrinya membuka reslting gaun Elea. "Iya sudah, Lea minta tolong papa saja." Gadis itu hendak keluar dari kamar. "Mau ke mana?" Segera Edzard mencengangkan tangan istri kecilnya. "Om tidak dengar? Lea mau minta tolong papa," ujar Elea malas. "Tidak boleh," sarkas Edzard. "Sini!" Dia menarik gadis itu agar mendekat. Edzard menahan napas, sebelum tangannya menarik resleting Elea ke bawah. Pria itu menelan salivanya susah payah ketika disuguhkan dengan punggung mulus dan putih milik istrinya. Bagaimana pun dia pria normal yang mudah saja teransang hanya melihat hal seperti itu. "Sial!" umpatnya. "Om, kenapa lama?" protes Elea. "Sudah." Segera Edzard memalingkan wajahnya. Elea berjalan ke arah kamar mandi dengan susah payah mengangkat ujung gaunnya yang kepanjangan. Beberapa kali gadis itu menggerutu dan merutuki gaun yang dia pakai. Melihat istrinya yang berjalan lelet. Edzard mulai kesal karena dia juga mau segera mandi, kalau harus menunggu gadis itu pasti lama. Dia berjalan ke arah Elea lalu mengangkat tubuh kecil sang istri. "Eh, Om!" Elea terkejut dan sontak memeluk leher Edzard. "Kamu itu berjalan seperti siput, saya sudah gerah mau mandi," gerutu Edzard membawa Elea ke kamar mandi. Dia tidak suka orang yang lambat dan lamban, membuang-buang waktu saja. "Om main angkat-angkat saja, Lea belum siap. Kalau Lea jatuh bagaimana?" protes Elea kesal. "Kamu tidak akan jatuh kalau berhenti bicara!" Edzard meletakan wanita itu dengan pelan. "Cepat mandi, saya juga mau mandi!" ujarnya dengan nada dingin. "Kenapa Om tidak mandi bareng Lea saja?" Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD