Naya menumpahkan tangis di pangkuan perempuan yang selama ini sudah menjadi ibu yang baik dan perhatian. Ayahnya sedang tak ada di rumah, ia tengah pergi ke Bandung untuk urusan bisnis travel yang sudah bertahun-tahun dijalani keluarga mereka.
Perempuan itu tak kuasa lagi menutupi perasaan ketika sang bunda menanyakan perihal keadaannya. Air mata itu sudah tertumpah, sementara Bunda hanya membelai kepala putri tercinta dengan penuh kasih. Dalam hatinya pun menjerit melihat kenyataan, jika anak semata wayang tak bisa memberikan keturunan pada suaminya hingga saat ini.
Apa yang pernah dialami dulu, kini harus terulang pada anak yang begitu disayangi sepenuh hati. Ia bisa paham, bagaimana rasanya tak bisa memberikan keturunan bagi suami. Ia sangat mengerti kepedihan hati sang putri saat ini. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa selain mendoakan yang terbaik. Berharap Naya mampu melewati ujian yang tengah Allah berikan pada rumah tangganya.
“Menangislah sebanyak yang kamu mau, Sayang, tapi setelah ini, hapuslah air matamu. Berusahalah tegar dan percaya akan ketentuan yang telah ditetapkan Allah. Dia memiliki rencana yang indah untukmu di kemudian hari, Nak.”
Perempuan itu semakin menumpahkan tangis di pangkuan sang bunda. Ia selalu membutuhkan kata-kata seperti itu yang mampu menguatkan dan menyemangatinya, karena seseorang yang tengah dalam keadaan gundah, selalu membutuhkan teman untuk berbagi keluh kesah.
“Naya lelah, Bunda.”
Nurul hanya bisa menangis mendengar ucapan yang lebih terdengar seperti ratapan. Ia membelai kepala yang masih berada di atas pangkuan. Mencoba memberi kekuatan dan ketenangan. Berharap rasa sedih itu bisa sedikit berkurang dan lega kemudian. Tak banyak yang bisa ia lakukan sebagai seorang ibu, selain berdoa dan memberikan semangat untuk tetap tegar menjalani ujian yang tengah dipilihkan untuk putrinya. Ia pernah mengalami masa-masa sulit itu, dulu.
Masa di mana cemoohan orang bagai sembilu menghujam perihnya lara. Meski kesempurnaan seorang perempuan yang sudah menikah itu ketika ia bisa hamil dan melahirkan, tetapi apakah sedemikian hina bila amanah itu belum kunjung Allah percayakan? Apakah kadar kebahagiaan sebuah rumah tangga harus diukur dengan suatu keharusan istri memberi seorang anak terhadap suaminya?
Bagaimana bila hal itu tak juga dihadirkan selama bertahun-tahun? Haruskah seorang perempuan diceraikan atau memilih meninggalkan pernikahan? Ataukah harus merelakan suaminya menikah lagi? Semua itu bukan pilihan yang baik bagi seorang perempuan.
Jika dasar sebuah pernikahan adalah Jannah, maka seberat apa pun ujian di dalamnya, takkan mampu menggoyahkan rumah tangga yang dibangun hanya untuk mengharapkan rida dari-Nya. Walaupun ujian itu dengan ketidakmampuan sang istri memberikan keturunan untuk sang suami, itu pun di luar kuasanya sebagai seorang manusia. Lalu, bila sebaliknya?
Terkadang seorang perempuan selalu ditempatkan pada posisi yang serba mengalah dan pasrah. Ia seolah menjadi makhluk lemah tak berdaya, yang hanya menerima kenyataan tanpa bisa berbuat apa-apa. Namun, jika dalam pandangan seorang istri, selalu ada Allah dengan segala kuasa-Nya, maka predikat yang selama ini ditujukan untuk kaum perempuan akan terpatahkan dengan sendirinya.
Ia bisa bertahan di segala kondisi. Namun, terkadang ia memperlihatkan sisi kelemahannya hanya agar diperhatikan dan dilindungi.
Perempuan adalah makhluk yang sensitif. Ia akan dengan mudah menangis saat sedih atau pun bahagia. Tanpa disadari, di balik semua sikap manis yang ditunjukkan, justru tersimpan kekuatan yang di luar dugaan.
Begitu pun seorang istri. Jika hanya Allah tempat segala lara dan derita, maka tak ada kekuatan yang bisa menandingi. Ia tak akan pernah menyerah untuk mempertahankan prinsipnya.
Seperti Naya yang memandang pernikahannya sebagai ladang pahala, begitulah ia memaknai ujian dalam rumah tangga yang tengah dijalani. Semakin ia menabur keimanan di dalamnya, semakin banyak cobaan yang bisa membuat keimanan itu tergoyahkan. Namun, ia pun menyadari, sebagai manusia biasa ada kala lelah menyapa. Menjalani hidup yang dirasa semakin keras menempanya. Harus bertahan meski sulit dan membutuhkan keikhlasan?
Sebelum menjalani pernikahan, Naya terbiasa hidup dalam kemudahan. Allah selalu memperlancar setiap tujuan yang diinginkannya. Itulah kenapa di saat ujian-Nya menimpa kini, terasa sangat berat untuk dihadapi. Sebagai seorang istri, ia merasa tak bisa membahagaiakan sang suami dengan memberikan keturunan. Meskipun Aditya tak pernah sekali pun mempermasalahkan kondisinya, justru hal itu yang semakin membuatnya terluka.
Harapan yang dibangun selama ini seakan sirna seiring penuturan dokter tentang kesehatan dalam rahimnya. Walaupun harapan akan memiliki seorang anak itu selalu diucapkan berulang kali, tapi Naya hanya bisa menanggapi dingin. Ia sudah pasrah. Merelakan kenyataan jika tak pernah bisa memberikan suaminya seorang anak. Ia takkan pernah lari dari kenyataan, akan dihadapi setiap liku dan terjal yang akan dilalui di depan.
“Tabahlah, Sayang. Ini ujian yang harus kau jalani. Itu tandanya, Allah begitu sayang, dan Dia akan menaikkan derajatmu jika kau mampu melewatinya dengan sabar dan ikhlas. Kamu harus yakin akan hal itu, Nak.”
“Naya selalu yakin dengan kasih sayang Allah, Bunda. Namun, terkadang tak tahu lagi harus melakukan apa."
“Berserah diri hanya kepada Allah, Sayang. Minta pada-Nya jalan keluar terbaik untuk permasalahanmu. Insyaallah, Dia akan memberikan solusinya. Bunda dan Ayah hanya bisa berdoa untuk rumah tanggamu. Allah lebih tahu kebaikanmu. Bersabarlah, Sayang” ucap Nurul lirih. Ia masih membelai kepala putrinya dengan penuh kasih.
Naya hanya terdiam dalam tangis yang sudah melemah. Ia masih belum beranjak dari pangkuan sang bunda.
“Segera ambil air wudu, kita tunaikan salat zuhur berjamaah."
Naya beranjak dari pangkuan Nurul. Segera mengambil air wudu dan menunaikan salat zuhur berjamaah dengan sang bunda yang menjadi imamnya. Perempuan itu semakin menangis tersedu dalam setiap bacaan salatnya.
Di setiap sujud, ia khusyuk memohon pertolongan Allah. Dalam doa yang dimunajatkan, ia hanya meminta untuk diberikan kekuatan dan kesabaran. Berharap, Allah akan memberikan jalan keluar terbaik bagi kebahagiaan rumah tangganya.
***
Program bayi tabung yang disarankan dokter Malik mulai dijalankan Naya dan Aditya. Sita pun memberi kesempatan pada alternatif terakhir yang diambil mereka untuk bisa memiliki anak.
“Mama akan menunggu hasil dari program bayi tabung yang kalian lakukan. Namun, jika hasilnya tidak sesuai harapan, kau harus menyetujui keinginan Mama,” ucap Sita terdengar seperti sebuah ancaman di telinga Naya.
Perempuan itu hanya bisa menghela napas panjang. Terasa berat harus menghadapi keinginan mama mertuanya. Terkadang rindu saat-saat seperti dulu. Ketika kehangatan Mama Sita selalu ia rasakan begitu tulus menyayangi dan menerima, bukan hanya sebagai perempuan yang dicintai putranya, akan tetapi lebih seperti anak sendiri.
“Mama harap, kamu akan simpan baik-baik percakapan kita ini,” tukas Mama Sita sambil beranjak dari duduknya.
Perempuan dengan rambut diikat menyerupai sanggul itu pun berlalu. Ia bergegas pergi setelah sang menantu menyalaminya. Tak ada lagi obrolan yang manis di antara mereka. Naya hanya mengusap d**a sembari beristigfar. Air mata dari kedua netra mengalir perlahan seiring kepergian mama mertuanya. Wajah itu terlihat letih dan pasrah.
Beberapa proses program bayi tabung dilakukan oleh Naya dan Aditya. Dari mulai pemeriksaan awal yang dilakukan kepada calon ibu, stimulasi ovarium, proses pematangan sel telur, proses pembuahan sampai pemindahan embrio ke dalam leher rahim.
Selama kurang lebih tiga bulan lamanya, mereka melakukan program bayi tabung. Dengan proses panjang dan cukup membuat Naya merasakan perjuangan yang begitu melelahkan. Namun, ia jalani dengan keikhlasan. Ada doa di sudut hati, semoga Allah berkenan mengabulkan.
Dengan harap cemas, mereka saling menggenggam tangan menunggu dokter Malik yang tengah membaca beberapa lembar dokumen.
“Bagaimana hasilnya, Dokter?” tanya Aditya tak sabar.
Dokter Malik masih bergeming, menatap lembar dokumen yang ada di tangannya. Beberapa detik kemudian, ia tampak mengembuskan napas. Meletakkan dokumen itu di atas meja, kemudian menatap Naya dan Aditya, datar.
“Embrio dalam rahim Bu Naya tidak berkembang. Hal ini disebabkan karena disfungsi implantasi yang mencegah embrio menempel dengan benar pada lapisan uterus, sehingga program bayi tabungnya mengalami kegagalan.”
Penjelasan dokter Malik semakin mengikis harapan Naya untuk bisa memiliki buah hati dari rahimnya sendiri. Aditya yang juga kecewa dengan hasil yang disampaikan dokter mencoba menguatkan hati.
“Apa masih bisa dicoba lagi, Dok?” tanya lelaki itu berharap.
“Tentu saja. Ada satu embrio beku yang siap untuk disimpan dalam rahim Bu Naya. Jika kalian siap, kita akan lakukan lagi proses bayi tabung yang kedua.”
“Tidak perlu, Dok. Sudah cukup usaha kami sampai di sini. Hasilnya tak akan jauh berbeda dari sekarang. Aku sudah lelah,” ucap Naya pasrah.
Aditya meremas tangan sang istri.
“Kita masih bisa mencobanya lagi, Sayang.”
Perempuan itu menoleh pada lelaki di sampingnya. Menggelengkan kepalanya lemah.
“Sudah cukup, Mas. Aku sudah lelah dengan semua usaha yang kita lakukan selama ini. Aku akan ikhlas menerima kenyataan jika aku tak akan pernah bisa hamil.”
.
Bulir bening telah membasahi kedua pipi. Seperti ada yang hilang dari dalam dirinya. Tercerabut dari tempat yang seharusnya ada di sana. Melesak jauh tak tergapai. Membuat ruang kosong yang tersisa di sudut hati. Harapan menjadi seorang istri sempurna, hilang tak berbekas. Menguar bersama mimpi yang kembali terdampar entah di mana.
Ia memang telah siap dengan keadaan yang terburuk. Meski hancur, akan mencoba bertahan. Walau sakit, akan siap menghadapi. Ia percaya, Allah hanya tengah menunda mimpi itu untuk menjadi nyata. Pertentangan batin dalam hatinya terus bergejolak, membuncah menjadi deraian air mata tak berkesudahan.
“Kau tak boleh menyerah, Sayang. Kita masih punya kesempatan.”
“Maafkan aku, Mas. Aku ingin menyudahi saja program untuk bisa hamil. Aku mohon," ucapnya terisak.
Aditya merengkuh sang istri dalam pelukan. Ia merasakan kekecewaan perempuan itu saat ini, dan ia tak ingin semakin menambah luka di hatinya.
“Untuk saat ini, sebaiknya Bu Naya harus lebih banyak rileks. Dukungan Anda sebagai suaminya sangatlah penting dalam hal ini."
Aditya menoleh ke arah dokter Malik. Ia mengangguk pelan.